The Girl'S Mom And Berondong

The Girl'S Mom And Berondong
BAB 21 - Ruby Yang Malang


__ADS_3

Untung saja Ruby adalah anak yang baik dan tidak rewel, mungkin ini anugrah buat Hazel mempunyai anak yang sangat pengertian karena Amber juga sangat baik. Mereka tidak sekalipun mengeluh bahkan Ruby tidak menangis atau ingin keluar kamar yang penting ada Hazel disisinya.


"Amber sudah pulang ma.. hari ini udah dapat raport kenaikan kelas, Amber dapat juara 2 lagi." Ujar Amber yang telah berada di pintu ruangan Hazel.


"Wah anak mama pintar, juara 2 lagi yah.. yee..." Teriak mereka bersamaan, tapi kesenangan mereka membuat Oliv risih dan ingin menghancurkan kebahagiaan ibu dan anak itu.


"Nicho sayang.. boleh gak keluarin Hazel untuk temani aku di rumah, dia kan udah pengalaman 2 anak jadi bisa bantu jaga aku, pelayanmu semuanya gak berguna." Ujar Oliv manja pada Nicho saat dia pulang untuk makan siang dan sekalian ingin membawa Oliv untuk periksa kandungan.


"Hem.. kalau dia kabur gimana?"


"Yah aku yakin nggak, anaknya 2 loh mau kabur kemana? Dia gak ada keluarga dan teman selain Tatiana dan dia juga sedang honeymoon 2 minggu di swiss jadi gak akan kabur."


"Baiklah.. kau saja yang buka pintunya, aku tunggu disini."


Oliv mengecup pipi Nicho lalu ke atas lagi untuk membuka pintu kamar Hazel, "Minggir anak haram." Usir Oliv, Amber seperti biasa duduk di depan pintu kamar dan mengobrol dengan Hazel disana. Oliv membuka pintu dengan kunci yang dia ambil dari pelayan.


"Keluar." Perintahnya dan Hazel melihat gelagat tidak beres dari Oliv yang terlihat senyum sinis padanya. Dia membiarkan Ruby keluar dulu dan bersama Amber menuju tangga untuk turun ke lantai 1, mereka masih menunggu di sisi tepi tangga atas.


"Mau apa kau?" Tanya Hazel dan Oliv hanya menaikkan kedua bahunya lalu berbalik. Hazel mengikutinya dari belakang. Amber yang melihat Hazel keluar langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat.


"Minggir bocah menyebalkan." Oliv mendorong Ruby yang menghalangi jalannya, padahal disisi sebelahnya masih luas jalan untuk dia lewati tadi dia malah sengaja mendekatinya, Ruby yang kesal lalu memukul pelan dengan tangan kecilnya di area yang bisa dijangkaunya yaitu perut bagian samping.


"Auuhh... aaahh tolong!!" teriak Oliv dan menjatuhkan dirinya di tepi tangga dan memegang perutnya, Nicho yang mendengar teriakan Oliv langsung berlari menaiki tangga.


"Ada apa ini?" Tanya Nicho lalu merangkul Oliv, sedangkan Hazel juga baru sampai saat Nicho menaiki tangga, hanya ada Ruby disana yang sedang berdiri dengan ketakutan.


"Dia.. anakmu ini mendorongku di tangga aduuhh... untung ga apa-apa.." Olive pura-pura kesakitan.


"Gak mungkin, Ruby itu masih kecil mana kuat mendorongmu." Bela Hazel tapi dia kalah cepat dengan Nicho yang sudah menarik tubuh kecil itu.


"Nicho.. Ruby masih kecil jangan kasar." Teriak Hazel berlari mengejar Nicho yang menarik tangan Ruby dengan kasar, anak itu sudah menangis kencang tapi Nicho seakan tak mendengarnya dan malah dengan kasar menghempaskan tubuh kecil itu di pertengahan tangga dan Ruby terjatuh terguling sampai kebawah.


"RUBY!!" Teriak Hazel dan berlari turun, dilihatnya kepala Ruby sudah berdarah dan tidak sadarkan diri.


"Ruby bangun nak, bangun jangan takutin mama nak.. tolong panggil ambulance, tolong!!!" Teriak Hazel terus menerus sambil menangis. Amber yang melihat itu langsung mengambil hape yang tadi ditinggalkan Hazel dan dia simpan di tas sekolahnya dan memakai tas itu.


Mira yang melihat kejadian itu langsung telepon ambulance, 15 menit ambulance sudah datang dan membawa Ruby ke RS terdekat.


"Ruby.. hiks hiks... tolong anakku dokter tolong.." Hazel terus menangis histeris.


"Non Hazel tenang dulu ya.. dokter akan memeriksa Ruby." Mira menenangkan Hazel yang sejak tadi menangis terus.


"Mama.. jangan nangis." Amber menghapus air mata Hazel yang terduduk di lantai RS di depan ruang IGD.

__ADS_1


"Amber.. maafkan mama yang gak bisa lindungi kalian.." Lirih Hazel lalu memeluk putrinya.


"Ibu, maaf sepertinya ada pendarahan di otak anak anda akibat benturan ini, harus di operasi." Ujar dokter tapi Hazel sangat tercengang, operasi bagaimana anaknya yang masih 2 tahun harus operasi.


"Non Hazel, Tuan Morgan gak bisa dihubungi dan tuan Evan juga ga bisa." Mira juga mulai panik karena jika operasi maka biayanya tidak sedikit. Mira sudah memeriksa tas yang dia ambil tadi, tas milik Hazel dan ATM yang biasa Hazel gunakan sudah tidak berbentuk.


Hazel semakin lemas, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan bahkan Nicho tidak ikut padahal dialah penyebab ini semua, Hazel tidak sanggup bahkan hanya untuk berdiri.


"Non aku sudah hubungi mba Syifa, sekretaris Tuan Morgan katanya akan kirim ambulance RS Acher jadi kita tunggu sebentar ya.." Mira memberitahu dan Hazel merasa punya kekuatan lagi lalu dia masuk mendekati Ruby yang sudah ditangani dengan pertolongan pertama.


Tubuh mungil itu tampak lemah dan wajah Ruby yang sangat pucat membuat Hazel makin menangis pilu, dia tidak sanggup melihat putrinya yang mengalami kekejaman ini. Biarlah dia saja yang mengalamai ini semua, tapi jangan anak-anaknya.


Setengah jam kemudian dokter dan petugas dari RS Arche telah memindahkan Ruby ke ambulance mereka dan pembayaran mereka yang selesaikan, Hazel, Amber dan Mira hanya ikut saja.


"Nyonya Hazel, kita akan lakukan pemeriksaan dulu agar jelas karena dari data RS sebelumnya ini hanya dugaan sementara." Ujar dokter yang menangani Ruby.


"Iya dokter aku mohon selamatkan anak saya, aku mohon." Hazel sampai berlutut pada dokter.


"Jangan begini nyonya, berdirilah dan berdoa kami akan berusaha yang terbaik." Hazel menangguk dan berdiri, Mira menuntunnya ke kursi depan ruangan itu, dengan memeluk Amber dia terus berdoa dalam hati tetap dengan air matanya yang mengalir tanpa henti.


"Mba Hazel, saya Syifa sekretaris Morgan." Hazel terkejut mendengar suara seorang wanita yang telah berdiri di depannya.


"Morgan lagi di pesawat dari London dan mungkin 2 jam lagi baru transit di Singapura." Sambungnya dan Hazel tidak atau harus merespon apa, dia hanya memikirkan Ruby. "Anda tenang saja Ruby udah ditangani dokter terbaik disini."


2 jam kemudian, Morgan telah sampai di Singapura dan dia transit disini selama 3 jam baru lanjut lagi lagi tapi begitu dia baca pesan yang dikirim Syifa dan begitu banyak telepon masuk dia langsung menghubungi Syifa balik.


"Sipa.. apa yang terjadi sama Ruby?" Tanya Morgan panik dan sedikit berteriak setelah dia sampai di lounge VIP.


"Kata Mira Ruby di dorong jatuh sama Nicho sekarang uda dibawa ke RS nya Arche, dokter masih periksa mau operasi atau ngga." Jelas Syifa sesingkat mungkin karena dia juga tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku balik pakai pesawat bang Fano aja, cepat urus aku di lounge tempat biasa, cepat ya Sip.." Morgan menutup teleponnya tangannya mengepal kuat, dia  sangat ingin menghajar Nicho begitu sampai nanti.


"Brengsek kau Nicho, Ruby anak kandungnya juga gak ada belas kasihannya." Geram Morgan dalam hati.


Hanya setengah jam Morgan menunggu, petugas sudah memanggilnya untuk berangkat, sebelum take off Morgan sempat mengirimkan pesan ke Syifa sebisa mungkin untuk menuntut Nicho.


"Nona Hazel, apakah mau menuntut Tuan Nicho? Aku akan bantu lapor ke pihak berwajib." Tanya Syifa tapi Hazel tidak tau dia hanya ingin Ruby cepat sadar dan sembuh.


"Aku gak tau, aku hanya mau Ruby cepat sembuh.." Ujarnya dengan suara lemah.


"Mama.. om Nicho harus masuk penjara, kata bu guru kalau ada orang jahat bikin orang lain luka harus lapor polisi." Ujar Amber membuat Hazel sadar, iya Nicho harus dapat balasanya.


"Iya benar, dia harus bertanggungjawab, Ruby ku masih kecil dan dia hempaskan tubuhnya dari tangga.." Hazel menangis lagi mengingat bagaimana Ruby kecilnya jatuh dari tangga itu.

__ADS_1


"Baik aku segera laporkan." Syifa pergi dan menelepon seseorang untuk mengurusnya.


Hazel bergerak cepat saat salah satu dokter keluar dari ruangan IGD, dokter memberitahu kalau Ruby perlu di operasi karena benturan kepalanya dan kemungkinan terbesarnya Ruby akan mengalami beberapa dampak dari benturan kepala yang mengakibatkan cedera otak, misalnya terganggunya berbicara, koma, sakit kepala kronis, kejang-kejang dan lainnya.


Hazel seketika menjadi lemas tapi dia berusaha kuat dan mengizinkan operasi itu di jalankan, apapun akan dia lakukan asal Ruby dapat selamat.


Operasi Ruby langsung dilakukan hari itu juga dan sudah 1 jam lamanya mereka menunggu, hari juga sudah malam dan Hazel masih menunggu sambil memangku Amber yang telah ketiduran.


"Hazel.." Panggil Morgan yang telah sampai, segera dia memeluk Hazel yang tengah menatapnya.


"Ruby.. dia.."


"Ssstt jangan bicara lagi tenang saja ya.. Ruby pasti baik-baik saja." Ujar Morgan lalu mengelus kepala Hazel yang masih dalam pelukannya. Tak mau Amber terganggu mereka kini duduk berdampingan dan saling diam karena cemas menunggu dokter yang masih berusaha di dalam ruang operasi.


Akhirnya setelah 3 setengah jam dokter keluar dan dengan wajah yang tidak dapat ditebak dokter itu memandang ke arah Hazel yang tampak gusar.


"Dokter bagaimana keadaan Ruby." Hazel berdiri dan menghampiri dokter setelah memberikan Amber ke pangkuan Morgan.


"Operasinya sukses, tapi.. kita tidak bisa memastikan kapan Ruby akan sadar, kalau dalam 2 hari dia belum sadar, kita hanya dapat berdoa agar Ruby tidak mengalami koma." Ujar dokter dan Hazel lemas seketika, dia jatuh lagi, kakinya lemas tak bertenaga. Untung Morgan dengan cepat merangkulnya agar Hazel tidak terbentur.


"Tenang ya.. kita berdoa agar Ruby segera sadar, kau harus kuat Hazel, ingat masih ada Amber yang butuh dirimu." Ujar Morgan dan Hazel segera berdiri, dia menguatkan diri dan menarik napasnya dalam-dalam untuk menengkan dirinya.


"Ya kau benar, aku harus kuat. Amber dan Ruby hanya punya aku dan aku harus kuat." Ucap Hazel, Morgan masih merangkulnya.


"Dok, pindahkan Ruby ke kamar yang biasa kami gunakan saja." Perintah Morgan dan dokter itu mengangguk dan masuk kembali ke ruang operasi, tak lama Ruby sudah di dorong keluar dengan banyak alat terasang di tubuh kecilnya.


Hazel terus mengikuti Ruby dan Morgan membantu mengendong Amber dan masuk kedalam ruang rawat yang begitu mewah. Bahkan tempat tidurnya adalah sebuah ranjang mewah yang bisa di tiduri oleh 2 orang. Hazel menatap pada Morgan yang mengangguk pelan ke arah Hazel.


"Jangan cemas, kau bisa istirahat sambil menjaga Ruby disini dan disana ada sofa yang bisa di jadikan tempat tidur, ada kamar mandi dan kamar juga." Morgan menjelaskan dan Hazel masih tak percaya betapa mewah kamar ini.


"Tapi ini pasti sangat mahal." Uajr Hazel pelan.


"Jangan bipirkan apapun, fokus pada dirimu dan Ruby, Amber akan aku bawa pulang, kasihan dia pasti sangat lelah."


"Tapi.."


"Gak ada tapi-tapian, sekarang kau jaga Ruby dan aku akan suruh Mira menemanimu disini jadi tenang yah.."


Hazel hanya mendesah pelan, dia membiarkan Morgan berbuat sesukanya karena dia tidak bisa lakukan apapun saat ini, Morgan sudah membawa Amber pulang dan Mira masuk ke kamar itu dengan membawa 2 bungkusan makanan dan beberapa botol air mineral untuk mereka berdua, mereka bahkan belum makan apapun sejak siang dan sekarang sudah lewat tengah malam.


"Aku terlalu memikirkan Ruby, bahkan Amber juga belum makan." Lirih Hazel tapi Mira segera menghiburnya.


"Jangan cemaskan Amber nona, Tuan Morgan membawanya pulang dan Nyonya Lusia pasti sudah siapkan segalanya. Sekarang nona makan dulu agar kuat menjaga Ruby." Hazel mengangguk, dia akan tetap makan agar punya tenaga meskipun sangat susah menelan makanan itu tapi dia harus.

__ADS_1


TBC~


__ADS_2