
"Tuan, ada seseorang yang datang mencari Tuan Morgan dan Nyonya Hazel." Ujar salah satu pelayan saat makan malam hapir selesai.
"Maaf Tuan, kata pria itu ini mendesak dan namanya Jarvis Lim." Sambungnya lagi dan Morgan langsung berdiri.
"Ayo sayang.. aku punya firasat buruk." Ucap Morgan dan mereka permisi pada semuanya yang ada disana.
"Jarvis, silakan masuk." Morgan mempersilakan Jarvis masuk dan dia sedikit terkejut dengan Jayden yang di gandengnya, anak kecil itu sangat lucu sampai Hazel juga ingin menyentuhnya tapi dia urungkan niatnya mengingat bagaimana Oliv terhadapnya selama ini.
Morgan dan Jarvis duduk berhadapan di ruang tamu bagian depan rumah dan Hazel duduk di samping Morgan.
"Bolehkan Jarvis diajak kemana gitu.. aku takut dia mendengar apa yang akan aku katakan." Pinta Jarvis terlihat sendu.
"Biar sama saya saja." Lusia pas melewati ruang tamu dan Jayden untungnya mau ikut dengan orang yang baru dia lihat. Lusia membawa balita lucu itu kedalam untuk bermain bersama cucu-cucunya yang lain.
"Jadi ada hal penting apa?" Tanya Morgan, Jarvis menghela napasnya dengan berat.
"Olivia telah meninggal." Ujarnya.
"Astaga!" Pekik Hazel tak percaya.
"Dia tadi siang ribut dengan Nicho dan karena emosi dia mengatakan semuanya bahwa Jayden bukan anaknya, Nicho yang marah dan gelap mata mencekiknya hingga tewas." Jelas Jarvis lagi dan Hazel langsung menangis.
Memang Oliv sangat jahat padanya sejak mereka lulus kuliah tapi mendengar itu dia sangat sedih apalagi Nicho yang membunuhnya, bagaimana Ruby jika besar nanti tau jika ayah kandungnya adalah pembunuh?
"Lalu kau kesini untuk?" Tanya Morgan lagi karena dia tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Jarvis saat ini.
"Aku sudah berbicara pada Nicho dan mengatakan semua yang aku tau tentang Hazel dimasa lalu yang di ceritakan oleh Oliv, tentang bagaimana Oliv memfitnah Hazel dan kami yang berusaha mengambil perusahaannya dan Nicho sangat terpukul, dia merasa sangat bodoh mempercayai Oliv sampai menyiksa Hazel bertahun-tahun padahal dia sangat mencintai Hazel." Jelas Jarvis lalu dia menghela napasnya.
"Aku juga menyesal karena hampir membuat perusahaannya jatuh, setelah Jayden lahir aku merasa kalau aku harus berubah makanya aku hentikan semuanya." Sambung Jarvis lagi dengan wajahnya berubah sendu terlihat dia sangat menyesal dengan perbuatannya.
"Kau punya dendam apa ke Nicho?" Kini Hazel yang bertanya karena selama menikah dengan Nicho dulu dia tidak pernah sekalipun tau tentang Jarvis yang merupakan sepupu Nicho.
"Aku anak dari tantenya, adik ayahnya adalah ibuku dan sewaktu pembagian warisan mereka mengambil semuanya dari kami dan mengirim ibuku jauh di pengasingan, aku sangat dendam tapi bukan karna warisan itu tapi karena perlakukan buruk Merry pada ibuku. Jadinya aku ingin menghancurkan perusahaan itu agar Merry kehilangan segalanya dan Oliv serta Juan datang padaku untuk bekerja sama."
__ADS_1
Mereka diam, Hazel tidak bisa berkomentar apapun karena dia sangat tau pasti bagaimana watak dari mantan mertuanya itu.
"Nicho bagaimana sekarang?" Tanya Morgan.
"Dia ada di penjara, gak bisa mengelak lagi dan pasti akan dihukum. Dia menyuruhku datang untuk meminta sesuatu." jawab Jarvis sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Katakanlah.. jika ada sesuatu aku pasti akan bantu." Morgan berkata dengan nada rendah agar Jarvis bisa lebih jujur, Morgan tidak menunjukan kemarahan ataupun tidak nyaman.
"Dia ingin bertemu Hazel dan Ruby." Lanjut Jarvis. Hazel terlihat tidak nyaman atas permintaan itu tapi bagaimanapun Nicho dulu sangat baik padanya dan saat ini dia tau kalau kekejaman Nicho semua adalah ulah Oliv yang memang sangat membencinya.
"Kalau Hazel aku izinkan, tapi Ruby gak bisa, kau tau sendiri bagaimana kondisinya." Jawab Morgan tegas.
"Iya kami tau, jadi apakah Hazel bisa kesana sekarang? Soalnya Nicho besok pagi akan dibawa ke HK untuk proses hukumnya." Tanya Jarvis lagi dan Morgan mengangguk.
"Baiklah, antar kami kesana." Pinta Morgan dan mereka bertiga ke kantor polisi untuk bertemu dengan Nicho untuk yang terakhir kalinya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
"Jangan pikirkan hal lain dan fokus pada persidanganmu, kau tetap temanku Nicho." Ujar Hazel sambil menangis begitu juga dengan Nicho yang sangat menyesal dan bersalah.
"Tolong aku Hazel, aku sangat sakit.." Nicho memukul dadanya sendiri, ruangan persegi itu sangat sunyi dan hanya ada Hazel dan Nicho, Morgan memilih untuk mengawasi saja dari luar di monitor yang langsung menayangkan kejadian didalam sana.
"Aku membuat Ruby celaka, aku bahkan tak pernah berbicara padanya apalagi memeluknya, Ruby anakku.." Ujar Nicho menangis dan meraung sedih. Hatinya seperti diremas dan di tusuk berkali-kali dengan pisau.
"Sudah.. jangan pikirkan hal lain, Ruby baik-baik saja dan aku janji akan menjelaskan padanya jika dia sudah dewasa. Kau tetap ayah kandungnya Nicho." Ujar Hazel sambil menggenggam tangan Nicho.
Nicho menggeleng kuat, "Gak Hazel.. dia akan di cap anak pembunuh, jangan beritahu dia. Aku akan menerima ini semua karena ini karma ku ini kesalahanku."
"Ini ambillah.. aku akan mengirim foto Ruby setiap ada moment penting dihidupnya agar kau bisa melihatnya, aku janji." Hazel memberikan beberapa foto yang memang dia cetak dan simpan dalam album. Semua anak-anaknya ada album tersendiri.
"Terima kasih.." Nicho melihat foto Ruby yang sedang tertawa, lalu ada foto dia sedang main piano, selembar foto dengan memakai ciongsam dan terakhir belepotan coklat. Nicho tertawa tipis melihat foto terakhir dan Hazel dengan lembut mengelus tangannya.
Setelah hampir 1 jam Hazel keluar dan langsung memeluk Morgan yang sudah menunggunya di depan pintu.
__ADS_1
"Kenapa 2 putriku sangat menyedihkan Morgan? Mereka kehilangan ayah kandung mereka dengan sangat tragis." Isak tangis Hazel terdengar pilu, Morgan juga meneteskan air matanya.
"Sudah.. aku akan jadi ayah yang baik untuk mereka. Aku hanya akan memberikan kebahagian untuk kalian. Jadi tenang ya.. jangan nangis lagi." Ucap Morgan dan Hazel mengangguk. Tapi hanya beberapa menit sudah tidak terdengar suara atau adanya pergerakan.
"Hazel.. hei sayang.." Morgan memanggilnya tapi Hazel tidak merespon.
Morgan melihat wajah Hazel dan ternyata dia tertidur. "kasihan istriku sepertinya sangat lelah." Lalu dia menggendong Hazel kembali ke mobil dan kali ini Jarvis yang diharuskan menyetir.
"Kenapa Hazel?" tanya Lusia dengan cemas saat Morgan membopong istrinya pulang ke rumah.
"Tidur mami, dia lelah sekali hari ini.." Ucap Morgan lalu naik ke lantai 3 dengan lift untuk ke kamarnya. Sedangkan Amber dan Ruby sudah tidur di kamar mereka yang dulunya adalah kamar Ana di lantai 2. Jarvis juga pamit setelah menggendong Jayden yang telah tertidur pulas habis bermain dengan Jarred.
"Morgan lapar ga? tadi kalian hanya makan sedikit." Tanya Lusia pada anak bungsunya.
"Gak deh mami, Morgan ga lapar." Morgan lalu memeluk Lusia di luar kamarnya setelah merebahkan Hazel di dalam kamar.
"Anak mami kenapa?" Tanya Lusia yang tau kalau Morgan pasti sedang gelisah.
"Mami.. Morgan harap ini kali terakhir Hazel menangis sedih, Morgan janji akan memberikan mereka kebahagian yang berlimpah." Ucap Morgan, Lusia melepaskan pelukan anaknya lalu mengelus wajah Morgan dengan lembut.
"Anak mami semuanya adalah pria baik dan sangat mencintai istrinya, mami yakin kau akan membahagiakan mereka Morgan."
"terima kasih mami." Morgan kembali memeluk Lusia dan maminya tentu hilang dalam pelukan Morgan karena Lusia sangat mungil dibandingkan ke 3 anaknya, bahkan Ana saja mewarisi tingginya Ken.
"Hei Morgan lepaskan istriku!" Bentak Kesal karena Lusia terlihat nyaman berada pada pelukan anaknya.
"ihh papi, cemburu sama anak sendiri, ya sudah.. Morgan peluk istri sendiri saja." Morgan cemberut dan kembali masuk ke kamar dan memeluk istrinya sambil tidur.
"Kakak iihh.. Morgan lagi sedih tuh." Bisik Lusia lalu memukul lengan Ken dengan gemas.
"Hahah gak apa-apa, dia pasti bisa melewati semuanya, ayo peri kecilku kita main kuda-kudaan, aku kangen kamu." Ken menarik Lusia lalu mengangkatnya seperti yang sering dia lakukan dulu tanpa mengingat umurnya yang sekarang.
TBC~
__ADS_1