The Girl'S Mom And Berondong

The Girl'S Mom And Berondong
BAB 27 - Ketakutan Ruby


__ADS_3

Ruby yang masih lemas tapi ingin terus sama Hazel dan Morgan tidak membiarkan mereka pergi, mereka harus duduk di sampingnya dan akan menangis kalau salah satu saja beranjak dari sisinya. Padahal mereka hanya duduk diam dan sesekali ngobrol dengan Ruby yang masih tidak bisa banyak bergerak atau ngobrol.


"Ruby..." Panggil Lusia begitu dia masuk ke ruang rawat itu, dia tergesa-gesa melihat keadaan Ruby yang tersenyum kecil melihat oma Lusia yang sangat dia sayangi.


"Ya ampun. akhirnya kamu bangun juga." Lusia mendekat dan mengelus wajah pucat itu, dia menangis melihat Ruby yang telah membuka matanya.


"Oma.. kakak.." Panggil Ruby, lalu Amber mulai naik ke tempat tidur dan memeluk adiknya.


"Ruby nanti kita berenang ya.. opa sudah buat perosotan untuk kita." Ujar Amber dengan cerianya, dia terlihat sangat senang.


"Ruby sama oma dulu ya, om sama mama mau kedepan sebentar." Ucap Morgan dan Ruby mengangguk pelan.


"Mi.. Ruby gak mau dekat dan di pegang orang lain, tapi tadi mami bisa, jadi jagain bentar ya kami mau ketemu dokter dulu."


"Ha? ya ampun.. iya iya mami jagain Ruby disini."


Morgan dan Hazel akhirnya pergi dan berbicara pada dokter yang menangani Ruby dan menjelaskan sedikit kekhawatiran mereka dan Hazel baru tau kalau Tuan Aries mempunyai penyakit seperti itu setelah Morgan menceritakan.


"Jadi kita harus bicara dengan dokter Stev dulu dan tanyakan tentang kondisi Ruby padanya. Aku akan telepon bang Fano karna Imel juga dia yang sembuhkan." Hazel mengangguk pasrah, apapun itu akan dia lakukan yang penting Ruby bisa sembuh.


Morgan menelepon Fano setelah berbicara dengan dokter bersama Hazel dan Fano malah menyarankan kalau mencari Aries dulu karena Aries memiliki penyakit yang sama dan belum 100% sembuh sampai sekarang.


"Jadi Ruby bakal ga sembuh?" Tanya Hazel yang hampir menangis, Morgan langsung memeluknya dan menenangkannya.


"Tenang ya.. Ruby pasti bisa sembuh dan kalaupun tidak kita akan menjaga ya.." Ucapnya sambil mengelus punggung Hazel lembut.


Mereka telah janjian dengan Aries dan Stev untuk bertemu dengan Ruby malam harinya untuk membicarakan kondisi Ruby. Aries juga sangat ingin bertemu dengan Ruby. Anak sekecil itu sudah merasakan apa yang pernah dia rasakan sejak dia berumur 10 tahun dan Ruby baru saja menginjak 3 tahun. Steven dan Aries telah sampai di ruangan dokter yang menangani Ruby selama ini.


"Tapi setidaknya Ruby masih bisa memeluk ibu dan beberapa orang yang dia sayang." Ucap Aries, "Meskipun itu bukan sebuah keuntungan dalam hidup seperti ini." Sambungnya lagi.


Hazel melirik Aries sekilas karena merasa bingung, bagaimana dia bisa menjaga Ruby jika seorang Aries yang begitu hebat saja sampai sekarang belum sembuh, apalagi Ruby seorang perempuan.


"Jangan khawatir Hazel, kita akan bisa menjaga Ruby dengan baik." Bisik Morgan untuk menenangkan Hazel yang cemas terlihat dari wajahnya.


"Aku tak menjamin dia bisa sembuh tapi kita bisa mengusahakan dia lebih tenang dan menerima keadaannya, dia masih kecil jadi kita hanya bisa melindunginya, dia pasti takut." Ujar Stev, bukan hanya Ruby yang takut tapi juga Hazel.


"Dia butuh seseorang, orang kuat yang bisa melindunginya, kalau aku memang karena sudah remaja dan pamanku sangat baik mendidikku jadi aku bisa mandiri dan menjaga diriku sendiri tapi Ruby lebih sulit karena dia masih kecil, kalian harus pikirkan bagaimana dia sekolah dan menjalani aktivitasnya nanti." Sambung Aries dan Hazel makin sedih dan takut.


"Aku bukan menakutimu, tapi kau harus melihat kemungkinan terburuknya dan mencari solusi untuk itu." Kata Aries lagi.

__ADS_1


"Bagaimana dulu anda bisa melalui ini?" Tanya Hazel pelan, dia baru kali ini bertemu dengan seorang Aries yang sangat terkenal tapi juga tidak bisa di dekati oleh sembarang orang.


"Aku hanya menerima, waktu itu aku sudah bisa mengerti dengan keadaanku dan pasrah saja. Tapi kondisi Ruby berbeda, dia takut karena mengalaminya sendiri sakit yang dirasakannya." Jelas Aries, Stev juga setuju.


"Iya, Aries trauma karena melihat sesuatu yang membuatnya terguncang dan trauma Ruby merasakan sakit itu sendiri. Nanti kita coba pelan-pelan saja." Sambung Stev.


Morgan dan Hazel masuk dulu ke ruangan Ruby dan terlihat dia duduk di pangkuan Lusia yang sejak siang ini bersamanya dan menemaninya bermain dan juga Amber. Terlihat Ruby sudah mulai tertawa dan tidak sepucat tadi.


"Anaknya mama.. senang ya bisa main sama kakak dan oma?" Tanya Hazel sambil menghampirinya.


"Iya.. Ruby mau belenang.. bole ya ma?" Tanyanya dan Hazel mengangguk.


"Boleh dong sayang.. tapi janji dulu sama om. Ada yang mau ketemu Ruby, opa dokter yang sangat baik.. opa dokter harus periksa Ruby dulu, apakah sudah boleh berenang atau belum. ok?" Morgan memulai membujuk Ruby agar dia tidak histeris saat bertemu Stev nanti.


"Opa doktel? Tapi doktelnya jahat ga?" Tanya Ruby dengan nada takut dan senyum di wajahnya telah pudar.


"Opa dokter sangat baik dan opa dokter itu adiknya opa yang dirumah om, jadi dia juga sangat sayang sama Ruby, mau ya?" Morgan membujuknya lagi. Ruby melihat ke arah Hazel yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Iya Ruby, dulu oma sakit dan opa dokter yang sembuhin jadinya oma bisa main lagi diluar." Lusia ikut membujuknya.


"Iya.. tapi sama om juga." Akhirnya Ruby mau dan membuat Hazel tersenyum lega.


"Papa.." Seru Ruby dengan ceria, dia baru kali ini menyebut kata itu. Morgan sangat senang dan hatinya seakan melambung tinggi, sedangkan Hazel sangat terkejut mendengar panggilan Ruby pada Morgan.


"Wah sepertinya gak lama lagi nih.." Sambung Lusia mencoba menggoda Hazel. Morgan nyengir tapi Hazel malah menunduk canggung dengan keadaan ini.


Morgan menggendong Ruby dan merebahkannya di ranjang lagi, Hazel dan Morgan duduk di sisi kanan dan kirinya menunggu Stev dan Aries masuk. Lusia pindah tempat ke sofa dengan Amber dan akan memantau dari jauh. Aries masuk dulu dan Morgan mengenalkannya pada Ruby.


"Ruby ini opa Aries, om nya papa." Kata Morgan, Aries sedikit terkejut dan tersenyum simpul dan Hazel terlihat malu.


"Hai Ruby cantik.." Aries tersenyum lembut tapi Ruby tidak bereaksi, hanya saja tangannya menggenggam erat ujung baju Morgan. Aries yang paham langsung mundur beberapa langkah karena takut Ruby tidak nyaman dan aman. "Jangan takut, opa bukan orang jahat." Ucap Aries lembut.


"Panggil opa Aries." Ujar Hazel.


"Opa Alies.." Panggil Ruby pelan, Aries tersenyum lalu mengangguk pelan dan berbalik untuk duduk di sofa di depan Lusia dan Amber. Lalu Stev masuk perlahan dan mendekat.


"Hai Ruby..." Sapanya dengan lembut dan senyum yang merekah sambil membawa balon berwarna merah sama dengan warna Ruby.


"Ruby.. ini opa dokter yang akan buat Ruby sembuh dan bisa main lagi." Ujar Morgan sambil mengelus lembut wajah Ruby.

__ADS_1


"Opa doktel.." Panggil Ruby pelan dan Stev mendekat dengan balonnya.


"Ini untuk Ruby.. opa dokter mau kasih hadiah, Ruby mau?" Tanya Stev sambil memberikan balon itu. Ruby mengangguk dan dengan ragu-ragu dia mengambil balon itu dari tangan Stev, tapi dengan cepat dia melepaskan tangannya lagi.


"Ga apa-apa Ruby, ambil saja, opa ga apa-apa." Stev mendekat lagi dan Ruby mengambil balon itu dengan cepat.


"Ini juga untuk Ruby." Stev mengeluarkan permen besar berbentuk bulat berwarna pik dengan pita besar membuat mata Ruby berbinar dan langsung mengambilnya.


"Nah, opa boleh kan duduk dekat Ruby?" Tanyanya lagi.


"Gak bole.. opa doktel duduk situ aja." Jawabnya dan menunjuk ujung tempat tidurnya. Stev tersenyum lalu duduk di tempat yang ditunjuk Ruby.


"Nah.. opa mau tanya sama Ruby, jadi biar cepat sembuh dan bisa main-main lagi nanti Ruby jawab ya.." Ruby mengangguk dan melihat ke arah Stev yang menatapnya masih dengan senyum dan lembut.


"Ruby takut apa sih sama opa? Kan opa ga jahat. Dokter dan kakak suster ga jahat juga, opa Aries juga baik." Tanya Stev dan Ruby berpikir sebentar.


"Gak mau, kalau di pegang nanti dimalah tante jahat." Jawab Ruby.


"Tante jahat itu marah sama Ruby kenapa? Nanti opa marahin dia ya.."


"Tante jahat malah tlus bilang awas kana mau jalan di tangga, Uby pukul dia gini.." Ruby memperagakan pukulan kecilnya di udara, "tante jahat malah lagi, jatuh, dia sakit trus om jahat juga malah, Uby di ditalik didolong.. sakit.. Uby takut." Lanjut Ruby lagi sambil menangis, Hazel memeluknya erat. Stev akhirnya paham apa yang terjadi dengan gadis kecil ini.


Hazel sudah menahan tangisnya, Morgan juga kesal, hanya pukulan kecil dari anak umur 2 tahun waktu itu dan Oliv sudah membuat drama yang akhirnya berakibat besar pada mental Ruby sekarang.


"Jangan takut ya.. tante itu ga apa-apa kok jadi Ruby jangan takut, nanti opa dokter akan marahi om jahat itu juga sudah bikin Ruby sakit." Sambung Stev dan Ruby mengangguk pelan.


Stev memanggil Hazel dan Morgan untuk menjauh dari Ruby untuk bicarakan kondisinya, sekarang gantian Lusia dan Amber yang menemani Ruby dan tiduran lagi karena dia mulai lemas karena menangis tadi.


"Ruby itu takut, dia memukul lalu orang itu jatuh dan sakit, dia jadi takut menyentuh orang lain atau bersentuhan yang menurutnya akan berakibat orang itu kesakitan dan dia juga akan sakit karena setelah itu dia yang disakiti. Ini sulit karena hanya dia sendiri yang bisa menghilangkan rasa takut itu." Jelas Stev lalu Aries mengangguk.


"Ini kasus yang berbeda denganku tapi aku tau rasanya, mungkin dia hanya bisa menangis karena belum tau cara mengungkapkan rasa sakitnya." Sambung Aries.


"Tapi kalian harus siap dan siaga saat ada yang tiba-tiba mendekat atau menyentuhnya, aku yang seorang pria dewasa saja harus di kawal minimal 4 orang apalagi dia yang masih kecil dan seorang perempuan." Sambungnya lagi.


"Tapi gak bisa gitu juga, kita harus biasakan Ruby agar gak takut pada orang lain, minimal dia bisa di dekati kalau bersentuhan itu hak dia, kita akan pelan-pelan membuatnya sembuh." Ujar Stev.


Hazel hanya bisa menarik napasnya panjang dan dalam, dia tidak tahu harus bagaimana dengan kehidupannya kedepan dan harus menjaga Ruby.


TBC~

__ADS_1


__ADS_2