
Morgan sangat kesal siang ini karena seharusnya dia sudah bisa masuk untuk bekerja sebagai direktur baru MHS Mall tapi karena dia baru tau kalau Shenna adalah brand Ambassador mall itu dan dia sangat marah, sejak siang dia sudah marah-marah pada Damian dan ingin membatalkan kontrak itu sepihak.
"Gak bisa Morgan.. abang juga ga tau dia yang terpilih, kan kamu tau sendiri abang cuma sementara di sana dan yang megang selama ini adalah wakil kamu dan kamu sendiri kenapa sejak awal nolak terus jadi direktur mall itu." Balas Damian tak kalah kesal karena dia disalahkan.
"Abang kan tau Morgan ga suka bisnis keluarga, Morgan udah punya bisnis sendiri dan kalau bukan karena Hazel sengaja kalian tempatkan disana mana mungkin Morgan mau jadi direktur." Bentak Morgan lagi dan Damian menahan senyumnya dan masih pura-pura kesal karena salah dari wakilnya yang tidak lapor dulu untuk menentukan Brand Ambassador.
"Yah kan memang rencana aku dan mami biar kamu mau jadi direktur, kalo ga mau ya sudah biar aku suruh Pak Doni aja yang jadi direktur disana." Ujar Damian sedikit menggoda Morgan.
"APA? GAK BOLEH!!" Teriak Morgan lalu berdiri kesal menatap tajam pada Damian yang sudah tidak tahan menahan tawanya.
"Hahahahah... makanya nurut sama abang." Serunya sambil tertawa geli.
"Si Doni tua bangka mata keranjang dan hidung belang, bisa habis Hazel kalau jadi sekretarisnya." Morgan mendengus kesal "Ya udah.. Morgan mau masuk kantor dulu biar tiap hari bisa ketemu sekretaris cantik, dah..." Morgan melambaikan tangannya dan saat itu sudah hampir sore dan dia tak menyadari kalau hapenya tertinggal di meja ruang meeting di kantor Damian.
Morgan sudah 2 minggu ini belajar bisnis dan terjun langsung menemani Damian agar dia lebih paham lagi kalau nantinya telah memegang penuh MHS Mall.
"Aku rindu banget sama Hazel dan anak-anak, duh gak sabar lagi." Ucap Morgan pelan sambil menyetir menuju MHS Mall. Setelah memarkirkan mobilnya dia segera masuk melalui pintu khusus yang tersedia hanya untuk petinggi mall dan tamu penting tapi setelah disana Morgan tidak melihat Hazel sama sekali, bahkan 1 sekretaris pun tak ada di ruangan mereka.
"Kemana semua orang?" Tanyanya pada security lantai 10 gedung itu. Lantai 7 sampai 10 adalah tempat untuk staff yang bekerja di mall dan juga ruangan direktur.
Dimulai dari lantai 11 adalah lobi hotel yang menjadi kesatuan dari mall ini juga yang saat ini di pegang oleh Leo Archer Sadana. Hastanta masih berjalan di bisnis yang sama di bidang multi product rumah tangga, mall dan elektronik, bidang pendidikan dan beriringan dengan Sadana yang selalu saling mendukung dengan bisnis entertaiment, RS dan perhotelan.
"Maaf Pak, semuanya sedang makan siang di kantin pegawai di lantai 7." Jawab bapak security dengan hormat karena dia tau kalau Morgan pasti adalah direktur baru sebab dia keluar dari ruangan sekretaris sementara tidak ada yang naik sejak tadi karena dia selalu berjaga di mejanya di dekat liff.
"Oh baiklah.. aku kembali nanti saja." Ucap Morgan dan security itu menunduk. Morgan langsung menekan angka 11 yang berarti dia ingin ke lobi hotel.
"Aiisss kenapa susah sekali sih mau kemari.. merepotkan." Keluh Morgan begitu masuk ke ruangan Leo yang sedang duduk santai menikmati makan siangnya di meja kerjanya.
"Lah abang masuk dari mana emangnya?" Tanya Leo begitu Morgan duduk di depannya.
"Dari lobi lah.. dari mana lagi." Jawabnya ketus.
"Salah sendiri, kan bisa dari lift itu langsung dari ruangan abang ke sini dan kamar kita masing-masing diatas. Kamarku di lantai 18, abang di lantai 20." Jelas Leo yang masih asik makan sambil sesekali meminum jusnya.
"Itu masakan mami ya?" Tanya Morgan melihat masakannya sama dengan yang dia makan di kantor Damian tadi.
"Iya, tadi mami El yang antar sama tante Sia, mereka kan masak bareng." Jawab Leo dan Morgan mengangguk. "Trus abang ngapain ke sini?" Tanya Leo melihat wajah Morgan yang terlihat kesal sejak tadi.
__ADS_1
"Aku hanya bosan, mau liat Hazel tapi dia malah ga ada. Udah 2 minggu ga ketemu.. trus hape juga tinggal di kantor bang Dami, ah sial.. si Shenna juga jadi Brand Ambassador mall ini lagi!" Jelas Morgan dengan bertambah kesal menceritakan semuanya, tapi Leo yang memang tampan dan bermuka datar hanya mengangguk.
"Hah.. jangan sampe tante Sia ketemu dia ya.. bisa habis dia." Leo mengingatkan.
"Bodo amat lah, yang penting dia jangan ketemu Hazel aja, kalau mami dia pasti ga berani." Jawab Morgan, akhirnya mereka ngobrol lama disana dan Morgan yang melihat jam tangan baru sadar kalau sudah hampir jam 5 sore.
"Tolong hubungi sekretarisku Lia, suruh Hazel datang ke cafe Keiku di lantai 1." Titah Morgan lalu segera pergi sebelum Leo menjawabnya.
Terpaksa Leo menghubungi line kantor Morgan yang akan langsung diterima oleh Lia sekretarisnya, tapi Lia tidak bisa memberitahu Hazel karena dia sudah pulang duluan 10 menit lebih cepat karena anaknya sudah tiba di mall untuk main dan makan malam.
"Ya sudalah..yang penting aku sudah telepon Lia." Ucap Leo pelan lalu kembali bekerja.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Morgan duduk santai di meja cafe Keiku dengan memesan segelas jus buah segar dan beberapa potong cemilan manis. "Hazel pasti suka di sini karena banyak makanan kesukaannya." Gumam Morgan pelan sambil menata beberapa cake yang telah dia pesan.
"Kau sudah dat.." Morgan terhenti saat melihat bukan Hazel yang ada di depannya tapi malah orang yang sangat dia benci.
"Hai Morgan, aku kangen sama kamu sayang.." Ucap Shenna sambil duduk di samping Morgan yang terlihat kesal. Shenna mengapit lengan Morgan tapi dia selalu menepisnya.
"Ngapain kamu?" Ketus Morgan tapi Shenna tetap memasang senyum terbaiknya.
"Jangan sembarangan manggil sayang, kita ini gak ada hubungan apa-apa." Tegas Morgan lalu Shenna duduk dengan tegak sambil tetap tersenyum.
"Gak masalah, kau tetap sayangku dan kau akan jatuh padaku Morgan apalagi aku sekarang model disini dan kita akan sering bertemu." Morgan memicingkan matanya, dia kesal lagi mengingat akan bertemu dengan Shenna hampir tiap hari nantinya.
"Ah.. aku harus pergi, dah Morgan sayang.." Shenna beranjak pergi setelah melihat pesan yang masuk ke hapenya, sedangkan Morgan mengusap wajahnya kasar karena merasa hari ini adalah hari sialnya. Dia memutuskan untuk pergi saja membeli beberapa boneka dan mainan untuk Amber dan Ruby karena malam ini juga dia akan ke rumah Hazel menemui mereka.
"Aku ga tahan lagi, rindu banget sama kalian... " ucap Morgan pelan lalu masuk ke salah satu toko mainan terbesar di lantai 3. Dia membeli boneka beruang, barbie, alat lukis dan banyak lagi. Setelah selesai dia turun ke lantai 1 lagi mencari makanan karena dia sangat lapar.
"Eh.. itu.." Morgan melangkah cepat lalu menghampiri Hazel dan anak-anak juga Mira disana yang sedang makan pizza.
"Hazel.. Amber, Ruby." Panggil Morgan, sontak Ruby yang sejak tadi diam karena tidak nyaman di sekitar banyak orang menjadi tersenyum.
"PAPA!" Teriaknya lalu berdiri dengan semangat dan mengulurkan tangannya minta di gendong. Morgan meletakkan semua belanjaannya lalu memeluk Ruby dan Morgan duduk dengan memangku Ruby di sebelah Hazel, Amber juga berpindah dengan senang duduk di sisi Morgan sambil merangkul lengannya.
"Amber tadi dapat jurara 1 om papa.." Ujar Amber dan Morgan terlihat bahagia mendengarnya.
__ADS_1
"Wah hebat.. anak pintar, ini om papa bawakan banyak mainan untuk kalian." Morgan mengambil belanjaannya tadi yang sangat banyak lalu membuka salah satunya.
"Alat lukis?" Gumam Hazel lalu Morgan menoleh dan menatapnya lembut, wanita yang sangat dia rindukan.
"Iya.. ini untuk Ruby, kau lupa? Kata om Stev, Ruby akan lebih tenang jika melakukan sesuatu yang santai dan dapat menyalurkan emosinya, salah satu melukis, kita akan coba semuanya, yang sederhana dulu dan nanti pelan-pelan kita cari tau apa yang akan membuat Ruby lebih tenang." Jelas Morgan, Hazel sangat tersentuh bahkan dia saja lupa tapi Morgan sangat mengingatnya.
"Angkat hapemu sejak tadi berdering." Tegur Morgan dan Hazel tersadar karena sejak tadi dia melamun sambil memandang Morgan yang sangat akrab dengan anak-anaknya.
"Eh.. ini." Hazel memberikan hapenya pada Morgan.
"Mami?" Morgan menjawab telepon dari Lusia.
"Halo mami."
"Morgan, jadi benar kamu ada bersama Hazel?"
"Iya mi, kenapa?"
"Huh.. tadi sebelum sama Hazel ketemu siapa?"
"Kenapa mami tanya begitu?"
"Kamu ketemu Shenna kan?"
"Loh mami kok tau Morgan ketemu Shenna?"
"Sekarang pulang! Sekalian bawa Hazel dan cucu-cucu mami."
Lusia langsung menutup teleponnya dan Morgan heran dengan maminya yang tidak biasa berbicara ketus seperti tadi. Hazel juga tidak nyaman karena Morgan menyebutkan nama Shenna di depan mereka.
"Mami suruh kita pulang." Ujar Morgan lalu dia memerintahkan Mira untuk membawa mobil Hazel pulang saja dan bayar makanan ini, "Nanti struknya kirim ke Sipa saja, dia sudah ngerti." Sambungnya lagi.
Morgan menggendong Amber di tangan kanannya dan Ruby di kirinya sedangkan Hazel membawa semua mainan yang dibeli Morgan tadi.
Saat mereka di mobil, Hazel banyak diam, itu membuat Morgan heran melihat sikap Hazel tapi dia tidak mau bertanya dulu karena dia juga memikirkan Lusia yang sepertinya sedang marah.
Sekitar 40 menit mereka sampai dirumah setelah bergelut dengan kemacetan sore, dan Lusia sudah menunggu di ruang tamu depan, begitu Morgan masuk dan menggandeng dua putri kecil Lusia yang marah pun berubah tersenyum.
__ADS_1
TBC~