
Aku terbangun,mencoba mengumpulkan segenap kesadaran dan kekuatanku. Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Aku berusaha bangkit dan mengamati tempatku berada.
"Jangan paksakan dirimu." suara Adi terdengar jelas. Dia baru saja masuk dan berjalan menghampiriku. Yah benar saja, Adi adalah orang terakhir yang bersamaku dan pastilah dia juga yang membawaku kerumah sakit.
"Aku harus pulang "
"Jangan bodoh. "
"Keluargaku akan mencariku jika aku tak segera kembali"
"Kamu sekarat. Apa kamu sudah gila? mengonsumsi obat itu hanya akan menambah buruk keadaanmu."terang Adi. suaranya terdengar seolah dia sedang keberatan. Adi adalah seorang dokter tentulah dia sudah memeriksaku dan seberapa parah penyakit yang bersarang di tubuhku.
"Tolong jangan ceramahi aku. "
"Setidaknya kamu harus coba beberapa pengobatan ."
"Walau aku mencoba. kalau aku tidak menemukan pendonor yang cocok denganku, mau bagaimana? dan kalau pun aku menemukannya kamu tahu betul itu tidaklah murah. "
"Kenapa kamu begitu pesimis terhadap dirimu sendiri? kamu belum mencoba dan sudah menyerah. "
"Karna aku sangat menyayangi keluargaku. Aku sengaja pulang kesini hanya untuk menghabiskan waktuku yang tak banyak lagi. Kalau aku memberitahu mereka soal ini pastilah akan menguras fikiran. Perasaan, tenaga juga materi. Jadi aku sudah putuskan." terangku tegas. Aku lalu melepas jarum infus yang menembus lengan tanganku dan turun dari atas tempat tidur.
"Terimakasih kamu sudah menolongku. Aku pergi dulu." pamitku namun tak lama aku merasakan tangan Adi meraih tanganku untuk menahanku kembali.
"Akan ku antar" katanya.
Adi melajukan mobilnya perlahan. Disepanjang perjalanan kami tak bicara sepatah kata pun hingga akhirnya kami sampai di depan apotik tempat pertama kali kami bertemu.
"Tunggu sebentar. " katanya lalu pergi. Selang 10 menit Kemudian Adi kembali dan menyerahkan sebungkusan obat padaku.
"Minum ini"
__ADS_1
"Kalau orang lain yang susah yang ada diposisiku sekarang apakah kamu juga akan berlaku yang sama? " tanyaku tapi Adi bagai tak berniat menjawabnya. Dia kembali menyalakan mobil dan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke rumahku.
"Sekali lagi trimakasih banyak, Aku duluan. " kataku berpamitan. Adi hanya tersenyum kecil membalasnya, aku bergegas turun dari mobil adi dan melangkah masuk ke dalam gerbang rumah.
"Akhirnya kamu pulang" suara Rey menghentikan langkahku.
Rey tampak begitu kacau. Aku baru tersadar kalau tadi dia ingin menjemputku. Dan karna aku menghilang tiba tiba pastilah dia sangat kesal dan marah.
"Rey... maaf aku... "
"Bukan karna lamanya waktu aku merasa lelah Non. Tapi karna kamu menghilang tanpa kabar. Itu yang paling nyakitin hatiku. "
"maaf Rey tadi aku.. "
"Istirahatlah, aku juga harus pulang. Aku merasa sangat lelah." katanya memutus pembicaraan kami malam itu. Aku bisa mengerti kemarahan dihatinya. Tapi aku tak bisa terima jika harus melukai perasaannya. Ingin rasanya aku berlari dan memeluknya. mengatakan betapa kacau dan gelisahnya hatiku saat ini. Tapi keadaaan memaksaku diam melihat kepergiannya.
"Hei kok diam aja? " kata seorang anak muda berkemeja hitam sambil mendekati Sherli. Sherli tak ingin meladeninya. Sherli berjalan menjaga jarak darinya.
"Jangan sombong begitu" katanya lagi sambil meraih bahu Sherli. Sherli spontan menghindar dan tak sengaja kakinya oleng dan jatuh ke kolam. Semua orang disana menertawakannya tapi Gabriel dengan segera melompat ke air dan menolongnya.
"Yel.., temanmu lucu yah.. malu maluin juga." ledek Siska setelah menikmati tawanya.
Sherli begitu kesal tapi juga merasa tak perlu meladeninya.
"Yel cewek lo cantik cantik kok **** sih, gak bisa bedain kolam ama jalan apa? " kata cowok yang tadi mengganggu Sherli. Gabriel hanya diam. dia lalu bangkit menghadap cowok itu dan lalu memukulnya.
"Lain kali kalo lo gangguin dia. Gua patahanin tangan lo. Lo fikir dia cewek murahan apa yang bisa lo pegang sesuka lo ? "kata Gabriel kesal. Dia lalu membantu Sherli berdiri dan mengajaknya pulang. Sherli menangis, Gabriel menyadarinya saat mereka sampai di mobil.
"Jangan cengeng dech" kata Gabriel tapi Sherli malah semakin terisak isak. Gabriel dengan segera menariknya dan memeluknya.
__ADS_1
"Sori aku sudah buat kamu malu."kata Sherli merasa bersalah.
"Udah gak apa apa. "
"Aku sangat malu. Aku memang gak seperti mereka. Aku gak sepopuler mereka. Tapi... "
"Tapi kamu jauh lebih baik dari mereka" potong Gabriel segera. Sherli terdiam dan lalu menatap Gabriel.
"Jangan diambil hati. " kata Gabriel lagi. Sherli mengangguk kecil. Gabriel meraih jaketnya dari kursi belakang dan membalutkannya ke punggung Sherli agar Sherli tak kedinginan.
"Sori... aku udah buat kamu nangis kaya gini" kata Gabriel kemudian. Seolah tak percaya Sherli lalu menatapnya, tangan Gabriel menyeka air matanya dengan lembut di pipi kanannya. Walaupun selama ini mereka bersama tapi baru kali ini Sherli merasa Gabriel seperti cowok romantis yang begitu lembut dan berlaku hero. Yah seperti di drama drama korea. Saat si cowok datang untuk membela dan menyelamatkan gadisnya. Bukankah Sherli baru saja mengalaminya. Jantungnya berdegup agak kencang. Gabriel yang selama ini selalu cuex dan angkuh padanya kini seolah begitu perduli. Walaupun mengalami hal buruk dan memalukan malam ini tapi setidaknya menjadi happy ending seperti ini.
"Kita pulang saja. " kata Sherli setelah Gabriel menarik kembali tangannya.
"Ehmm.. " Gabriel lalu menyalakan mobilnya. Suasana kemudian berubah kaku. Sherli hanya diam. Gabriel tahu bahwa gadis berambut sebahu itu tengah kedinginan. Gabriel sedikit mempercepat laju mobilnya dan singgah disalah satu butik di tengah perjalanan.
"Kok berhenti? " tanya Sherli bingung
"Kamu gak mungkin pulang dalam keadaan basah kuyub begitu. Turunlah, cari baju yang cocok denganmu."
"Gak usah, gak apa apa kok"
"Turun saja " kata Gabriel lagi memerintah lalu turun. Sherli akhirnya menurut dan mengikuti langkah Gabriel memasuki butiq tersebut.
"Bantu dia carikan baju yang cocok" kata Gabriel pada salah seorang petugas disana. Gadis penjaga toko itu pun lalu menghampiri Sherli, menawarkan beberapa model pakaian yang mereka punya. Tapi pada akhirnya Sherli hanya memilih jeans dan kaos berwarna hitam.
Gabriel sedang duduk disalah satu kursi di dekat pintu masuk butiq itu sambil menikmati segelas kopi. Sherli menghampirinya setelah dia berganti pakaian.
"Sudah selesai. " kata Sherli. Gabriel menatapnya dan bangkit. Sherli tampak manis dengan wajah polosnya. Dia sedikit tersenyum membuat Gabriel betah memandanginya.
"Hayo kita pulang " ajak Sherli lagi. Gabriel tersadar. Dia tampak sedikit malu dan kikuk. Dia lalu menghampiri kasir untuk membayar belanjaan mereka dan kemudian mengajak Sherli pulang.
__ADS_1