The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
bunga baru


__ADS_3

Rey mendapat telpon dari rekannya kalau Riu sudah sadar. Rey lalu bergegas menuju kerumah sakit lain ketempat Riu dirawat. Riu tampak terluka parah tapi dia masih berusaha tersenyum saat Rey datang melihatnya.


"Bagaimana kabarmu? "


"Baik... "


"Sementara penyelidikan ditunda. Mereka juga memintaku istirahat. Aku curiga mereka sudah mengetahui kedatangan kita" terang Rey.


"Ehnnnmm, oh yah aku baru dapat informasi kalau putri achan akan kembali. Aku sudah minta Paul untuk mengirimkan datanya padamu. "


"Akan ku periksa "


Rey kembali kerumah sakit setelah menjenguk Riu dan saat itu tepat dokter keluar dan juga para suster yang memindahkanku kesalah satu ruangan khusus.


"Bagaimana keadaannya dok? "tanya bapak segera


"Sejauh ini berjalan baik. Hanya saja akibat obat obatan yang dia konsumsi beberapa organ motorik atau juga syarafnya akan mengalami penurunan. Jika dia berhasil melewati masa kritisnya dan bisa pulih. Dia harus menjalani terapi dan pengobatan agar tubuhnya bisa kembali normal. Mungkin akan butuh waktu sebulan atau lebih sampai dia benar benar pulih. Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga dia bisa melewati masa kritisnya. " terang dokter lalu pergi.



Rey duduk dikursi tunggu setelah mendengar penjelasan dokter Steve. Keluargaku mengikuti para suster. Rey hanya bisa melihat hingga proses pemindahanku selesai. Rey memberi waktu untuk keluargaku untuk menemaniku dimasa sulit itu.


Sembari menunggu Rey membuka pesan yang dikirmkan Paul. Dia mengirimkan informasi personal mengenai putri semata wayang Achan. Achan adalah bandar besar yang menjadi target mereka.


Dia bernama May. Seorang gadis berusia 22 tahun. Tinggi semampai dan sangat cantik. Walau ayahnya menjadi target karna bisnis terlarangnya tapi May memiliki kepribadian yang baik. Dia salah satu mahasiswa terbaik dikampusnya dan dia juga salah satu relawan disalah satu yayasan sosial untuk anak anak kurang gizi.


"Hai daddy... " sapa May riang saat melihat daddynya menyambutnya dibandara. May memeluk ayahnya dan berperilaku sangat manja. Jelas saja dia satu satunya putri Achan. Istrinya meninggal saat melahirkannya dan karna itu dia sangat memanjakan May. Achan tak pernah menolak apapun yang May minta.


"Kamu bertambah cantik saja. Juga tambah tinggi "


"Gimana gak Cantik mommy juga sangat cantik dan lagi aku sedang belajar memakai hills. Aku ingin tampil maksimal diacara kelulusan nanti"


"Bagus... "


Gabriel membawakan sebotol minuman dan menyerahkannya pada Sherli yang berdiri tak jauh dari ibu.


"Kamu sudah nungguin kakak sejak pagi. istirahatlah dulu"

__ADS_1


"Hatiku tak tenang selama kakak belum sadar. Aku ingin disini saja dulu"


"Kalau begitu ayo kita cari makan dulu. Ini sudah jam 2" kata Gabriel mengajaknya.



"Makan yang banyak" saran Gabriel setelah makanan yang mereka pesan diantar. Sherli tak banyak berkomentar. Dia lalu melahap makananya tanpa dia sadari Gabriel memperhatikannya.


"Makannya pelan pelan saja"


"Bapak dan ibu juga belum makan. Cepatlah agar kita bisa bergantian" kata Sherli. Gabriel pun segera melahap makanannya hingga habis.


Setelah mereka kembali bapak dan ibu pun keluar untuk makan. Tapi sebelum Gabriel dan Sherli masuk. rey langsung menghampiri mereka.


"Kalian istirahatlah dulu biar aku yang menjaganya"


"Bang Rey belum sehat, harusnya abang yang istirahat. " jawab Sherli segera.


"Tidak apa apa. pergilah, aku akan disni sampai nanti sore.


"Baiklah kalau begitu aku akan kembali nanti sore untuk menggantikamu. Kalau ada apa apa tolong segera kabari" kata Gabriel lalu mengajak Sherli untuk pulang.


"Bangunlah..., aku menunggumu disini Non. " katanya dalam hati berharap aku bisa mendengarkannya.


"Ku dengar Yuna sudah pulang tadi siang" kata Sherli saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Setelah kondisi kakak membaik kamu jangan lupa dengan janjimu"


"Ehmmm"


"Yuna anak yang baik"


"Kalau kamu gimana? " tanya Gabriel. Sherli melongo menatapnya


"Semua orang pada dasarnya memang baik. Jadi apa specialnya? "


"Dia juga cantik. "

__ADS_1


"Memangnya kamu kurang cantik? "


"Kenapa selalu membandingkan kami? " kata Sherli sedikit protes


"Kalau begitu berhenti melebih lebihkan dia. Aku punya penilaian sendiri. Kamu gak perlu memperjelas segala sesuatu tentang dia"


"Kenapa kamu jadi marah begitu?" protes Sherli kecil tapi kali ini Gabriel tak mau lagi untuk menjawabnya. Mereka diam hingga mereka sampai didepan toko.


"Aku akan merapikan toko dulu. Aku akan menutupnya hingga besok. Tunggu sampai kakak melewati masa kritisnya" kata Sherli sebelum turun dari mobil Gabriel


Setelah Gabriel pergi Sherli memasuki toko dan merapikannya. Sherli membuang bunga bunga yang sudah layu. Beberapa hari ini dia sudah tak fokus mengurus toko dan saat dia tengah sibuk sendiri seorang anak laki laki memasuki toko dan menghampirinya.


"Ada yang bisa dibantu? " tanya Sherli ramah. anak lelaki itu lalu melepas kaca matanya dan Sherli melihat seorang anak lelaki yang begitu tampan hingga membuat dia sempat terpesona.


"Aku mau pesan sebuket bunga"


"Ehmm begitu... sebenarnya kami sedang gak buka. Sedang ada masalah jadi aku sedang tak fokus mengurus toko. Bunga bunga juga sudah layu" sesal Sherli


"Begitu yah, sayang sekali padahal aku mau kemakam ibuku" katanya sedikit kecewa.


"Baiklah.. tunggu sebentar disini. Aku akan buatkan sebuket bunga untukmu" kata Sherli. Sherli lalu keluar dan mengeluarkan sepedanya dan menuju rumah. Setibanya disana Sherli mengambil beberapa tangkai bunga segar disana



Gabriel melihat Sherli yang sedang memetik bunga dari kamarnya. Dia mengamati gadis itu sambil menikmati lagu yang didengarnya lewat hetsetnya.


Tak lama menunggu akhirnya Sherli kembali. Dia masih melihat pelanggan tampannya itu tengah menunggunya disana. Sherli lalu menata sebuket bunga untuknya. Lelaki yang belum diketahui namanya itu tampak memperhatikan Sherli tapi Sherli tak ingin gugup. Dengan keahliannya dalam waktu sekejap sebuket bunga itu segera selesai.


"Bagus sekai, kamu sangat lihai mengerjakannya" puji anak lelaki itu. Sherli tersenyum ramah. Anak lelaki itu lalu menarik dompetnya dan berniat membayarnya.


"Ahh tidak usah" kata Sherli segera membuat anak lelaki itu heran.


"Bawa saja. "


"Kenapa begitu ?"


"Karna kamu akan menjenguk ibumu. Bunga ini baru kuambil dari kebun sendiri. Jadi tidak masalah"

__ADS_1


"Ehmm baiklah kalau begitu aku akan membalasnya lain kali" kata lelaki itu sambil tersenyum ramah.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Trimakasih untuk bunganya" kata anak lelaki itu lalu pergi.


__ADS_2