The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
menjaga rasa


__ADS_3

"yel... " Aku memanggil adikku yang sedang mencuci mobilnya. Tampak Gamboo pun sibuk mengganggunya dengan memainkan selang air didekatnya.


"kenapa? "


"boleh antar aku kerumah sonia? "


"ehh. " Gabriel tampak berusaha mengingat ingat seseorang. "teman sma kakak dulu? " Tebaknya tak lama.


"iyah... "


"ya udah tapi habis beresin ini dulu yah"


"ok. "


Waktu itu masih jam 10. Gabriel mengantarkanku kerumah sonia. Tapi setibanya dirumah mewah sonia. Security disana bilang kalau Sonia sudah berangkat ke kantornya. Dari penjelasan singkat Gabriel aku tahu kalau sekarang bisnis advertising milik keluarga Sonia sedang berkembang pesat. Bahkan sudah punya kantor yang bagus berlantai dua dipusat kota.


"bu.. ada tamu, katanya teman sma ibu. bu nona namanya" Kata asisten Sonia saat Sonia sedang memeriksa beberapa berkas dimeja kerjanya. Mendengar nama itu Sonia lalu meletak pulpen merah ditangannya dan menatap gadis berkemeja putih dihadapannya.


Sonia berlari kecil menghampiriku. Dia tersenyum dari jauh saat melihatku. Dia tampak sumringah. Mengenakan rok span mini dengan sendal jepit seperti kebiasaanya dulu.


"non... " Katanya sambil merentangkan kedua tangannya dan langsung memelukku erat. Rindu sekali rasanya pada gadis periang ini. Sekarang Sonia sangat berubah. Rambutnya yang dulu panjang kini diubah jadi model bob. Lesung pipinya tampak membuat senyumnya semakin manis. Bahkan sekarang wajahnya sudah dirias make up.


"kamu yah, datang gak bilang bilang. jahat kamu" Katanya setelah menyedot es lemon tea yang baru saja diantar waiters disalah satu cafe kecil tak jauh dari kantornya.


"biar surprise. "


"surprise apanya ? "Sonia sedikit mutung sebagai tindak protesnya.


"kamu makin cantik aja. makin sukses juga"


"oh iyah dong. manager muda. penampilan harus all out. harus maksimal"


"iyah sih... "


"aku fikir kamu gak bakal balik lagi. chat juga jarang banget dibalas. mentang aja di negri orang"

__ADS_1


"aku mau fokus kuliah loh"


"gk gitu juga kali non. "


"maaf yah.., maaf juga saat om pergi aku gak bisa nemenin kamu"


"gak apa apa kok. eh kamu tahu dari mana soal papi? "


"oh.... " Aku ragu sejenak. Mungkin sebaiknya aku tak perlu cerita soal pertemuanku dengan Rey pada sonia.


"gabriel yang cerita"


"oh adikmu yang super tampan itu. eh, si Yuna ngefans berat tu sama adikku. Jodohin kenapa biar kita jadi keluarga. "


"kamu ada ada saja. kuliahnya juga belum kelar"


"gak apa apa. kan bisa temenan dulu. kebetulan kamu disini. biar dia ada alasan dekat dengan si oppa tampan itu."


"iyah ntar aku kenalin deh.. "


Hening.....


"kenapa? "


"dia suka cewek lain" Kata sonia sambil tersenyum. Perasaanku kian kacau.


"aku sadar setelah papi meninggal. Aku merasa sangat bahagia sebelumnya. Aku sangat beruntung bisa jadi pacarnya rey. Tapi tak lama aku mulai menyadari kalau ada yang aneh dengan hubungan kami. Rey selalu menurut apapun yang ku mau. Dia berubah jadi sosok lain. Sosok yang ku ciptakan sendiri. Jadi kian lama aku makin jelas menyadari kalau orang yang mencintaiku itu bukan rey tapi orang lain. " Terang sonia begitu tenang. Tak tampak kesedihan diwajahnya. Dia tampak dewasa. sesekali dia tersenyum kecil menatapku.


Sore itu turun rintik hujan. Rey mengantarkan Sonia pulang kerumahnya. Namun baru saja Rey mau keluar. Sonia menahan tangannya dan rey menatapnya.


"kamu suka cewek lainkan? " Tebak Sonia tanpa marah sedikitpun. Rey menatap wajah Sonia. Dia butuh waktu untuk memastikan maksud pacarnya itu.


"kita putus saja yah" Kata Sonia lagi tanpa beban. Rey makin penasaran. Dia meraih tangan sonia.


"aku memang sayang sama kamu. Sayang banget tapi aku gak mau jadi cewek egois yang mau terus tinggal dalam sandiwara yang selama ini tak ingin ku akui. Tapi sekarang aku mau mengakuinya. Dan aku mau kamu juga begitu. "

__ADS_1


"Sonia... "


"Aku tahu kamu cowok yang baik Rey. Percayalah, aku gakkan marah kalau kamu jujur. Lebih baik kita saling terbuka. Kita sudah dewasa. Sudah bukan SMA lagi."


"baiklah... ,tapi... "


"tapi apa... " Sonia menangkap keraguan dimata Rey


.


"berjanjilah kamu gak bakal benci dia"


"dia... ????"


"nona... " Kata Rey yang langsung membekap mulut Sonia.


"Aku tahu kalau persahabatan kalian sudah lama. Aku juga tahu nona berhutang nyawa padamu. Tadinya aku berfikir untuk memacarimu. Membuatmu benci padaku dan ingin putus. Tapi saat melihat Nona. Aku sadar jika aku menyakitimu. Dia juga akan kecewa dan benci padaku. Waktu itu saat dia memberikan suratmu. Aku sudah menembaknya. Aku bilang kalau aku sudah suka dia sejak lama dan memintanya jadi pacarku. Tapi setelah membaca surat itu aku paham." Terang Rey pertama.


"Sonia..., aku tahu mungkin caraku ini tak bisa kamu terima. Aku hanya ingin membalasnya. Agar dia tak berhutang lagi padamu" Terang Rey mantap. Sonia tersenyum kecil, mengalihkan pandangannya.


"lucu sekali... " Katanya seraya tertunduk. Dia tampak siap menangis. Rey menarik dirinya dan bersandar menatap rintik rintik hujan lewat kaca mobil.


"kamu mau aku jadi pacarmu dan aku sudah kabulkan. Kalau selama ini kamu merasa belum bahagia. Aku minta maaf. " kata Rey merasa bersalah. Sonia mulai menangis, namun dia manahan suaranya agar tak terdengar. Sesekali dia menyeka air matanya. entah kenapa hujan juga kian deras. Mereka tak bicara lagi. Rey membiarkan Sonia memuaskan semua kesedihan dan kecewanya sendiri.


"Aku dan Rey putus baik baik. Sampai sekarang juga masih berteman. Dia juga banyak membantuku belakangan ini" Kata Sonia lagi sambil mengaduk aduk sedotan digelasnya.


"Kalian sudah ketemu?" Tanyanya lagi dan aku hanya tersenyum kecil.


Sore itu aku melamun sendiri ditoko. Sherli keluar sejak 2 jam yang lalu. Dia pamit untuk mengantarkan pesanan bunga untuk salah satu hotel dikotaku.


Kembali ke kampung halaman ternyata ikut mengembalikan kelanjutan cerita yang belum kelar waktu itu. Seolah apa yang aku hindari dulu harus dilanjutkan saat ini.


Tak lama surat notifikasi WA ku berbunyi. Aku menatap kelayar hpku dan membuka satu pesan dari Rey.


"Bisa temani aku kerumah sakit ? mami mau pulang"

__ADS_1


Dan kini aku terjebak dalam satu situasi yang seharusnya tak perlu ada. Aku penasaran apakah yang sedang direncanakan Tuhan padaku. Bukankah dia tak menginginkan aku lagi berada dibumi. Lalu mengapa Dia mempertemukan aku lagi dengan Rey. Dan mengapa Rey harus menciptakan drama yang dimana aku tak sanggup untuk menolaknya?


Tuhan..., bagaimana aku harus menjalani semua ini, jika boleh meminta beri aku sedikit waktu agar aku bisa meninggalkan dunia ini dengan rasa bahagia. Dan agar aku punya sedikit kenangan manis dengan Rey.


__ADS_2