
Aku berjalan perlahan memperhatikan deretan tas dilemari pajangan toko dimall itu. Maminya Rey tampak sedang bercerita dengan sang kasir. Seorang gadis muda berkulit putih dan tinggi. Tampak seusia Gabriel adikku. Tampaknya maminya Rey sudah sangat dekat dengan gadis itu. Beberapa kali aku mendengar mereka berbicara soal hal hal pribadi. Mereka tertawa bersama. Bahkan seolah maminya Rey lupa dengan kesehatannya yang kurang baik.
"Non... "Suara Sonia terdengar begitu mengagetkanku. Seolah aku tak percaya dengan apa yang ku dengar, aku langsung berbalik. Yah itu sonia, dia tampak senang melihatku berdiri dihadapannya. Kenapa timingnya sangat tidak tepat.
"Baru aja balik ke indo, udah shoping shoping aja yah. Sama siapa? " Tanyanya kepo. Aku berfikir, mencoba memutar otakku untuk mencari jawaban yang paling tepat. "Tuhan tolong aku? " Jerit batinku sebab aku tak mau kalau sampai sonia tahu aku datang kesana untuk menemani mamanya Rey.
"Non... "Panggil maminya Rey yang ikut bergabung menambah kekacauan hatiku. Beliau menatap Sonia sambil tersenyum ramah.
"Apa yang harusku katakan?"Tanyaku dalam hati.
"Temennya nona yah? "Tebaknya dan Sonia dengan sopan dan ramahnya lalu menyalami maminya Rey.
"Nama saya Sonia tante. Teman smanya Nona."
"Oh... berarti kamu kenal anak tante juga dong. Namanya Rey,pacarnya nona" Pamer maminya Rey bangga. Aku memejamkan mataku. Ingin sekali rasanya aku menghilang dari tempat itu saat itu juga. Walau aku mendengar Sonia tertawa dengan sopannya, tapi bagaimana aku bisa menatapnya lagi. Aku merasa ketakutan. Apa yang baru didengar sonia sangatlah jelas. Dan pastilah sonia berfikir bahwa aku tlah menghianatinya. Teman seperti apa aku ini sampai aku harus menyakitinya. Bagaimana caraku menjelaskannya agar sonia tak salah faham.
"Oh yah tante. Aku harus balik kekantor dulu. Aku duluan yah tan. "
"Ah iyah.. tapi lain kali datanglah kerumah yah bareng Nona. Tante akan siapin makanan"
"Siap tante.. "Sonia menjawabnya masih dengan sangat ramah seolah kalimat tadi tak berpengaruh padanya. Atau apakah Sonia sengaja menahan kemarahannya karna melihat maminya Rey yang sedang duduk dikursi roda. "
"Non aku duluan yah" pPamitnya lagi lalu pergi. Aku sempat melihatnya sebelum dia membelok keluar dari toko itu. Aku menghela nafas panjang.
"Maafkan aku Sonia"
"Kak... kak... kak non... " Sherli mencoba menyadarkanku saat aku melamun ditoko sore itu. Dari wajahnya dia tampak kahwatir. Aku lalu tersenyum dan menariknya duduk disebelahku.
"Kakak kenapa? dari tadi aku panggilin kakak gak respon. "
"Gak apa apa kok sher."
"Kakak ada masalah, gak mau crita? "
"Serius gak apa apa. Memangnya kenapa kamu manggilin kakak? "Elakku dan tak lama sherli menyodorkan hpnya. Memberi kode agar aku melihat foto seorang gadis modis dan cantik seusianya.
"Pacar barunya bang iyel. Mereka resmi pacaran. Udah go publik. Anak bungsunya ketua DPR. "
__ADS_1
"Oh... "
"Kok oh...? kakak gak suka? "
"Paling juga bentar lagi putus."
"Kenapa?kakak gak suka? "
"Iyah"
"Kenapa kak? kan anaknya cantik. Anak orang terpandang lagi. Dia cewek rebutan loh kak. "
"Dia gak bakal cocok sama ibu. Ibu juga gak bakal suka. Ibu maunya Gabriel itu cari calon istri yang baik. Yang sederhana, yang bisa ngurus rumah tangga. Gak masalah dia cantik atau miskin. Yang penting hatinya."
"Wihh, itu mah berbanding kebalik ama seleranya bang iyel. "
"Tenang aja makin lama dia pasti bakal ngerti. Lagi pula kenapa bukan kalian saja yang pacaran. Kakak lebih suka kalau kalian yang jadian"
"Kakak... "Sherli sedikit ngambek dan malu. Dia kabur tak mau melanjutkan perbincangan kami saat itu dan tak lama setelah sherli pergi. Aku merasa kaki dan tubuhku seakan tak berdaya dan nyaris rubuh. Aku memegangi kursi didekatku untuk menahan tubuhku agar tak terjatuh. Mencoba bertahan hingga rasa sakit yang kurasakan berkurang. Kemudian aku melangkah pelan untuk keluar dari sana dan mencari taxi.
"Mbak obat ini ada?"Tanyaku pada salah seorang petugas apotik dikota. Petugas itu lalu menerima resep yang kusodorkan dan membacanya sesaat. Tak lama dia menatapku seolah dia menunggu jawaban. Aku bisa melihat tatapannya yang tak bersahabat seolah sedang mencurigaiku.
"Ini harus dengan resep dokter" Jelasnya.
"Aku hanya diminta tolong sama temanku. Dia seorang calon dokter. Dia perlu untuk tugasnya saja. "
"Ok tapi lain kali gak boleh yah mbak. Ini bukan obat biasa. " Katanya memperingatkan. aku tersenyum patuh dan dia lalu pergi masuk kedalan. Tak lama berselang dia keluar dan salah seorang dokter muda tampak datang bersamanya. Dia memakai kemeja berwarna biru muda dan juga sebuah masker putih. Saat dia melepas maskernya, aku bisa melihat dengan jelas wajah calmnya.
" Pesanan mbak? " Kata dokter muda itu memastikan. Aku tersenyum dan segera memberi uang untuk membayarnya.
"Teman mbak kuliah dimana? Siapa tahu sekelas dengan saya." Tanya dokter muda itu ramah.
"Sebenarnya saya baru sampai kesini. Saya kuliah di luar negri. "Kataku gak nyambung.
"Ehmm... ,lain kali suruh temennya saja yang beli yah. Ini obat keras, harus dengan ijin dokter."
__ADS_1
"Ah iyah.. pasti. "Kataku sambil menerima kembalian uangku. Aku pun lalu keluar dari sana tanpa menyadari kalau Rey berpapasan denganku disana.
"Hei Adi... " katanya pada Adi sang dokter muda yang tadi menanyaiku.
"Eh Rey... ada apa? "
"Biasa... " kata Rey sambil memperlihatkan bekas luka sayatan dilengan atasnya.
"Kali ini kasus apalagi? "Tanya Adi sambil membalut luka Rey diruangannya.
"Biasa, bandar. Saat kami ciduk dia lagi ngefly. Jadi sempat ada acara gebuk gebukan. Nih hasilnya"
"Ehmm. "
"Kenapa? "
"Tidak hanya saja aku kasihan sama badanmu. Kalau setiap hari dilukai begini. Aku takut akan mengurangi pesonamu?
"Jangan cerewet. Lalu apa gunamu sebagai seorang dokter? hei dengar aku bertugas bertaruh nyawa dilapangan menangkap para bandar. Seharusnya kamu memberi apresiasi padaku."
"Jadi menurutmu apa yang kulakukan setiap hari dirumah sakit, apa hanya duduk santai? tanya Adi balik dan Rey tertawa kecil sambil turun dari meja kerja Adi, tempatnya duduk sejak tadi.
"Oh yah tumben kamu tadi diluar. Ada pelanggan cantik yah? "
" Cantik sih. Tapi bukan karna itu."
"Jadi... " Rey kini mengenakan kemejanya karna Adi sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Dia membeli obat keras. Obat yang hanya digunakan dokter untuk alasan tertentu. Contohnya mempercepat kematian."
"What... " Rey sedikit tertawa karna tak percaya.
"Yah kamu tahu diluar negeri beberapa orang meminta dokter hewan untuk menyuntikkan obat pada binatang peliharaan mereka. Agar hewan itu bisa mati dengan tenang tanpa sara sakit. Yah semacam itulah.. "
"Jadi... "
"Aku hanya penasaran ingin melihat pembelinya, makanya aku keluar. Ternyata gadis cantik. Katanya itu punya temannya yang juga dokter."
__ADS_1
"Oh... "
"Besok datanglah lagi. Aku akan ganti perbannya besok"