
Sore itu aku menemani Rey kerumah sakit. Mami rey ngotot ingin pulang, katanya dia sudah merasa lebih baik dan ingin aku ada disana untuk menemaninya pulang. Papinya Rey yang kini menjadi salah satu pejabat penting dikepolisian hanya bisa nurut. Untungnya doker dan direktur rumah sakit adalah teman baik beliau sehingga mereka bisa menurut dan mempersiapkannya dengan cepat.
"Mami lain kali gak boleh gini yah. Papi gak enak sama Hardi. Papi repotin dia melulu" protes papinya Rey seraya mendorong kursi roda milik istrinya memasuki rumah mereka.
Rumah Rey tampak besar. Bernuansa putih dan tampak bergaya natural. Ada kolam kecil didalam rumah juga taman kecil didekatnya.
"Mami istirahat dikamar yah. Biar aku yang antar" Kata Rey kemudian tapi tangan maminya Rey segera meraih pergelangan tanganku.
"nona bisa masakkan? "
"ahh.., kenapa tante? " Aku merasa sedikit terkejut.
"Masakin sop yah. Tante lapar" Katanya sangat manja.
"Miii..., gak boleh gitu ah. Nanti biar papi pesanin aja pakai goofood"
"Gak mau ah.. mami maunya masakan nona" Maminya Rey mulai mengambek. Tingkahnya seperti anak kecil yang ingin menang sendiri. Rey hanya menggaruk garuk kepalanya seraya melirik kearahku.
"iyah.. nona masakin. Tante istirahat dulu yah. " Kataku setuju. Wajah maminya Rey tampak begitu gembira. Rey lalu membawanya masuk kedalam kamarnya yang tak jauh dari ruang makan.
Aku melangkah menuju dapur. Sebuah foto keluarga yang terpampang besar masih tampak tergantung disalah satu dinding ruang tamu. Foto keluarga Rey yang tampak begitu bagus. Rey hanya punya seorang kakak. Dia terlihat cantik mengenakan kebaya berwarna pink. Dia seorang sarjana pariwisata. Yah itu sesuai dengan hobbynya yang travelling dan tour keluar negeri. Aku sempat mengenalnya karna dia pernah menjadi seniorku selama 2 tahun saat SMA.
"Maaf yah, kamu jadi repot gini" Kata Rey saat kami memotong wortel didapur. Rey yang tidak enak hati membantuku untuk memasak sop untuk maminya.
"Kamu gak kerja? "Tanyaku mengalihkan rasa bersalahnya.
"Gak terlalu sibuk. Tugas juga udah selesai. tinggal laporan"
"ehmm. "
"Nanti bisakan jagain mami sebentar. Aku akan keluar, setelah itu aku akan anterin kamu pulang "
__ADS_1
"ok"
Tak lama setelah selesai mengolah bahan makanan menjadi sop panas. Rey pun pamit pergi. Papinya Rey juga istirahat diruang tamu. Dia menonton Tv siaran berita sore itu.
"Enak... "Kata maminya Rey saat kami duduk berdua diruang makan. Aku hanya tersenyum kecil. Memandangi maminya rey yang sedang menikmati semangkuk sop pesanannya.
"Kamu pandai memasak"Katanya setelah menghabiskan semangkuk sopnya.
"Merantau membuatku mandiri tante."
"Orangtuamu pasti sangat bangga punya anak gadis sepertimu. "Katanya sambil mengelus manis tanganku. Aku melihat ada rasa sedih diwajahnya.
"Rey juga sangat membanggakan. iyahkan" kataku menghibur tapi hal itu bagai tak cukup menyenangkan wanita paruh baya itu. Tak lama dia tertunduk. Sepertinya beliau menangis. Dia menyeka pipinya .
"Tan... " Kataku seraya memegangi tangannya. Beliau menatapku sesaat sambil mencoba tersenyum.
"Seandainya kakaknya Rey gak kabur sama laki laki kurang ajar itu. Mungkin tante gak akan seperti ini" Keluhnya sedih. Aku lalu mengelus manis pundak beliau. Aku merasakan kesedihan dari suara isak tangisnya yang mulai tersedu sedu.
"Kamu menikah saja dengan rey yah. " Kata beliau hingga membuatku terdiam.
"Kalian sudah lama pacaran dan lagi kamu juga akan segera menyelesaikan S2mu. tante akan bicara dengan Rey. Tante rasa dia pasti sangat setuju. "
"tante aku.... "
"Kalau kalian mau tante bahagia. Kalian menikahlah yah... " Pintanya lagi hingga membuat mulutku berat untuk berkata tidak.
"Kamu kok diam saja dari tadi. Kenapa? " Tanya Rey saat kami dalam perjalanan menuju rumahku malam itu.
"Ah enggak"
"Mami bilang sesuatu sama kamu?" Tebak Rey. Aku menatapnya. Apakah Rey sudah tahu soal niat maminya itu fikirku dalam hati.
__ADS_1
"Bukan karna kemauan mami. Aku juga mau nikah sama kamu" Sekali lagi Rey blak blakan mengutarakan niatnya dihadapannku.
"Rey.... "
"Aku tahu kok non. Mungkin ini terlalu cepat dan buat kamu kaget. Tapi nungguin kamu selama ini juga gak mudah buatku. " Terang Rey tanpa menatapku. Dia masih fokus mengemudi dijalan yang agak sepi.
"Aku juga gak bakal maksa kamu. Aku hanya gk mau buang kesempatan "
"Kamu belum kenal betul bagaimana aku. Kita juga belum pernah sedekat ini sebelumnya. Kamu bicara soal menikah. Bukankah itu terlalu mendadak? "
"Justru karna itu aku mau lebih dekat denganmu. Aku mau lebih memahamimu"
"Rey... "
"Jangan bilang kamu gk sayang aku ?" Kata Rey memotong. Dia menatapku sesaat dan lalu menghentikan laju mobilnya.
"Sejak kita SMA dulu. Aku selalu perhatiin kamu. Gerak gerikmu dan semua tingkah lakumu. Walaupun kamu gak sadarin itu. Aku sangat kagum sama kepribadianmu. Dan aku juga tahu kalau kamu juga suka sama aku. Ingat waktu aku jatuh dari tembok belakang sekolah karna ingin bolos. Waktu itu kamu datang bawa kotak p3k. dari situ aku sadar kamu peduli sama aku. " Kenang Rey.
"Itu sudah lama sekali" Kataku dan tiba tiba Rey mendekatkan dirinya menghadap kepadaku hingga membuat detak jantungku berdetak tak karuan.
"Sekarang juga masih begitu. iyahkan?" Katanya menebak. Aku hanya terdiam dan tertunduk. Sulit sekali bagiku untuk mengakuinya bukan karna Sonia sebagai mantan Rey tapi karna waktu yang tak lagi berpihak padaku.
"Iyahkan..? " Rey bertanya sekali lagi sambil mengangkat wajahku hingga begitu dekat dengannya. nafas Rey terasa begitu hangat menyentuh pipiku.
"Jangan bercanda begini. Gak enak nanti ada yang lihat " Kataku seraya mendorong Rey perlahan. Rey lalu menyandar dikursinya dan kembali melajukan mobilnya.
"Makasih udah ngantarin, aku masuk dulu yah" Kataku berpamitan. Rey melangkah kecil mendapatiku. Aku hanya diam dengan sebuah pertanyaan didalam hatiku tentang apa yang dilakukannya kemudian. Kenapa dia berjalan begitu dekat dihadapanku.
"I love you" Kata Rey pelan setelah mencium keningku. Aku menatap matanya. Dia tersenyum kesenangan dan lalu pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku masuk kedalam kamarku, aku berdiri didekat mading dan memandangi foto Rey disana. Malam kian larut sampai aku bisa mendengar suara detak jarum jam dari jam wekkerku. "Tuhan.., apakah Engkau bisa mendengarkanku? sekalipun aku hanya bisa berteriak didalam hatiku, ku mohon beri aku waktu sedikit lagi"