
Yuna keluar dari tempat itu membawa rasa malu dan sedihnya. Dia tak mengira kalau malam yang dikiranya akan begitu istimewa akan berakhir tragis untuknya. Dia tak mengerti tujuan Gabriel memperlakukannya seperti itu. Dia merasa sangat terpukul karna semua itu disiarkan secara live dan ditonton banyak orang terutama Sonia kakaknya.
Aku kembali membuka gorden jendela untuk melihat situasi dan aku tak mengira Rey masih ada disana. Kedinginan dan kehujanan. Dia berdiri bawah pohon yang agak rindang. Rey tak menyadari kalau aku melihatnya. Aku duduk dilantai dan menangis disana. Aku merasa tak tega melihatnya begitu. Kenapa rey harus disana sedang hujan sedang turun. Tak lama aku kembali berdiri namun kemudian aku terjatuh. Aku merasakan sakit yang luar biasa dari sebelumnya dan kakiku sudah tak bisa kurasakan lagi. Aku berusaha untuk menjangkau obat obatanku dan tak lama pintu terbuka.
"Non... " kata ibu panik. Ibu lalu berteriak teriak memanggil bapak.
Rey samar samar mendengar kepanikan didalam rumah. Rey yang begitu penasaran lalu mencoba mendekat. Suara Gamboo pun terdengar begitu panik. Tak lama bapak dan ibuku terdengar sedang berdebat dan Rey melihat ibu sedang menangis.
"Pak kembalikan, pak... kasihan Nona pak" kata ibuku memohon sambil berusaha mengejar langkah bapak yang berjalan turun berniat untuk membuang obat obatan itu. Rey semakin penasaran sedang aku berusaha untuk menuruni tangga.
"Bu.. bu sadar, obat obatan ini hanya akan membuatnya semakin sekarat. Apa ibu mau Nona mati, apa ibu mau kehilangan satu satunya putri kita?" bentak bapak begitu marah. Ibuku menangis dan berlutut dikaki bapak. Mereka tak menyadari kedatanga Rey. gonggongan Gamboo semakin kencang. Aku tahu dia berusaha memperingatkan bapak dan ibu akan keadaanku dan tak lama aku terjatuh dan Rey dengan segera mendapatiku.
"Non... non... non bangun.. non... " kata Rey panik. Bapak dan ibu tersadar dan mendapati kami untuk memeriksaku.
"Non... non.. bangun nak. Jangan tinggalkan ibu. Bangun nak" rintih ibu ketakutan. Rey lalu menggangkatku dan membawa tubuhku yang sudah tak berdaya.
Sherli menampar Gabriel setelah mereka berada diluar.
"Kamu.., kalau kamu cuma mamfaatin aku buat balas dendam. Kamu benar benar keterlaluan. " kata Sherli kesal.
"Bukankah itu seimbang dengan apa yang dilakukannya pada kak Non?"
__ADS_1
"Apa kamu fikir kak Non akan setuju ha ?"
"Aku gak minta pendapatmu? " kata Gabriel balik sedikit kesal sambil sedikit membentak Sherli. Sherli menangis namun berusaha untuk tetap tegar.
"Kak Non sakit Yel.. sakit parah.. kalau kamu memang mau buat kak Non senang harusnya gak begini caranya"
"Maksudmu apa? " tanya Gabriel tak percaya. Sherli lalu menceritakan semuanya. Gabriel terdiam seketika mendengar penjelasan Sherli yang berurai air mata.
Rey menancap gasnya dan mengebut dijalanan. Begitu sampai Rey langsung melarikanku. Adi yang kebetulan lewat begitu terkejut dan mereka langsung membaringkanku di ranjang dan membawaku menuju Ugd. Bapak dan ibu menangis, mereka begitu ketakutan. Sedang Rey hanya terdiam bersama sejuta pertanyaan dihatinya. Tapi dia harus bersabar karna Adi sedang menanganiku didalam.
Sherli dan Gabriel berlari kencang menuju ruang Ugd. Tangis Sherli ikut pecah saat ibuku memeluknya. Sedang Gabriel terdiam dipintu Ugd. Dia memukul tangannya melepaskan kekesalannya.
Setengah jam menunggu diluar. Belum ada jawaban pasti untuk kegelisahan Rey. Tak lama Hpnya berbunyi. Dari pembicaraannya bapak tahu kalau atasannyaa memerintahkan Rey untuk segera datang.
"Pergilah nak Rey, kami akan menunggu Nona disini"
"Aku... " Rey terlihat ragu, bapak bisa melihat kekahwatirannya. Bapak lalu menyentuh bahunya dan mencoba tersenyum
"Nona akan baik baik saja. Pergilah. " saran bapak dan akhirnya dengan keadaan terpaksa Rey pergi meninggalkan rumah sakit.
"Non.. tunggu aku. Aku pasti akan datang. Tunggu aku non.. tunggu aku.. " teriak Rey dalam hatinya sambil mengemudikan mobilnya kencang. Sedang ditempat lain Adi tengah berusaha menstabilkan keadaanku.
Saat itu aku pun seolah tengah mendengar teriakan Rey. airmataku keluar dan Adi menyekanya.
__ADS_1
Rey mengeluarkan senjatanya dan mendekati lokasi yang dikirimkan Riu. Perlahan Rey memasuki gudang itu dan menemui teamnya. Malam itu mereka akan mengrebek tempat itu karna kebetulan malam itu ada aktivitas yang sangat mencurigakan.
Rey memimpin teamnya untuk bereaksi. Pertama mereka bisa dengan mudah untuk melumpuhkan satu demi satu anggota komplotan itu tapi setelah nyaris menangkap salah satu ketuanya. Rey sadar itu hanya jebakan. Sebuah bom molotof sudah terpasang dimobil itu. Saat Riu baru saja memasukinya untuk membawanya sebagai barang bukti. Mobil itu meledak dan Riu terlempar dan terluka parah.
Rey juga terkena ledakan itu. Dia juga terhempas dan terlempar ke dinding kayu. Samar samar dia melihat semuanya hingga akhirnya Rey pingsan.
Rey bermimpi saat pertama kali aku menemuinya untuk memberikan surat itu. dan juga Rey bermimpi saat melihatku jatuh malam itu. Rey begitu terganggu hingga akhirnya dia sadar.
"Akhirnya kamu sadar" kata Adi yang berdiri dihadapannya. Rey memperhatikan ruangan itu. Juga sebuah selang infus di tangannya. Rey lalu bangkit dan melepas infusnya.
"Rey... " kata Adi mencoba mencegahnya tapi Rey dengan begitu kesal meraih kerah baju Adi dan mendorongnya ke dinding.
"Sebenarnya apa? " kata Rey membentak
"Beritahu aku..., beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi padanya. Beritahu aku "
"Lupus..., sebelah ginjalnya sudah tak berfungsi. Dia mengkonsumsi obat obatan penghilang rasa sakit yang justru mempercepat kematiannya sendiri." terang Adi. Rey merasa tak berdaya. Dia melepaskan Adi dan tertunduk
"Seberapa parah? " tanya Rey lagi
"Dia tak mau menjalani pengobatan dan beberapa organ tubuhnya sudah mulai tak berfungsi dengan baik. Jika tak segera melakukan operasi akan sangat fatal. " terang Adi. Rey semakin tak berdaya. Rey berjalan menuju ruanganku. Rey teringat perbincangannya dengan Adi saat bermain bilyar. Juga soal salam perpisahan yang ku ucapkan terakhir kali padanya.
Rey memasuki ruanganku. Melihatku terbaring tak berdaya dengan banyak alat medis yang dipasang ditubuhku. Rey mendekat dan menatapku. Rey lalu berlutut dihadapanku dan menangis tertunduk disana.
__ADS_1