The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
kebanaran yang terungkap


__ADS_3

Sekitar jam 2 siang waktu itu. Operasi yang dijalani Adi selesai dan berjalan dengan lancar. Kondisi Adi juga sangat baik. Rey menemuinya dan menjenguknya saat Adi belum sadarkan diri.


Rey teringat saat pertama kali mereka bertemu. Saat itu Rey sedang bermain biliar dan Adi muncul mengajaknya berduel dengan sombongnya. Walaupun belum saling kenal Rey menyetujuinya. Setiap tembakan bola Adi tak pernah meleset. Dia seorang pemain biliar yang baik.


"Aku tak mengira seorang Calon dokter sepertimu sangat pintar bermain biliar "kata Rey setelah mereka selesai dan tengah menghabiskan beberapa botol bir sambil memandangi bola biliar diatas meja. Adi melirik Rey. Rey menunjuk tanda pengenal Adi yang masih tergantung dilehernya. Saat itu dia masih mengikuti magang.


"Terkadang Tuhan memberi orang banyak kelebihan "


"Lalu apa yang membuat seorang calon dokter yang calm sepertimu datang ketempat ini. Bukankah lebih baik kamu menghabiskan waktu diperpustaakaan ?"


"Kecelakaaan pesawat hari ini. Semua keluargaku meninggal" kata Adi. Rey terdiam sesaat dan tak jadi meneguk minumannya.


"Tuhan punya banyak rencana dan sepertinya DIa yakin aku bisa menjalani hidupku sendiri" kata Adi kemudian.


"Papi.... " panggil maminya Rey saat beliau tengah melamun memandangi kolam ikan didekat ruang tamu mereka.


"Mami perhatikan papi akhir akhir ini sering melamun, kenapa? "


"Engak apa apa, papi cuma mau sendiri saja. "


"Papi gak sedang sakitkan? " tanya istrinya itu sedikit khawatir. Papinya Rey langsung tersenyum untuk menenangkan hati istrinya itu.


"Hai... " sapa Sonia saat menjenguk Adi sore itu diruang inapnya. Adi tersenyum dan Sonia lalu duduk didekaTnya.


"Bagaimana keadaanmu? "


"Baik..., "


"Ku dengar kamu mendonorkan sebelah ginjalmu untuk Nona? "


"Sudah tak banyak waktu untuk mencari pendonor lain"

__ADS_1


"Semoga pengorbananmu gak sia sia, aku dengar keadaanya sangat buruk. "


"Besok dia akan menjalani operasinya "kata Adi dan sesaat kemudiam mereka diam. Sonia banyak tertunduk karna tak tahu harus berbuat apa."


" Ku dengar dulu kamu juga pernah melakukan hal konyol seperti yang kulakukan saat ini untuknya"


"Yah... itu sudah lama. Saat kami Sma. Reaksi itu spontan saat aku melihat seorang ngebut dan nyaris menabraknya. "


"Jadi apa saat itu kamu gak tahu kalau sebenarnya dia menyukai Rey" tanya Adi lagi. Sonia terdiam agak lama. Dia tampak mencoba menahan air matanya agar tak mengalir.



"Sebenarnya,,, aku gak tahu kalau dia menyukai Rey. Tapi aku tahu kalau Rey sangat menyukainya. Rey dulu anak yang paling populer. Dia sengaja selalu berada di perpustakaan bukan karna menghindari penggemarnya tapi supaya bisa melihat Nona. Saat itu dia sedang belajar dengan sangat giat agar bisa lulus untuk program bea siswa. Dia sangat ingin kuliah diluar negri dan karna itu aku memperalat situasi itu. Kalau Nona merasa berhutang sesuatu padaku dia pasti tidak akan sungkan untuk menolak permintaanku. Jadi aku meminta seseorang untuk mencoba menabraknya dan setelah kami cukup dekat aku memintanya untuk mengantar surat itu pada Rey dan tentu dia takkan menolaknya. " cerita Sonia mengakui kesalahannya sambil menangis.


Rey kembali kerumahnya malam itu. Papinya melihatnya sangat kacau. Tak ada senyum lagi diwajah putra bungsunya itu.


"Rey.... " panggil papinya sembari mendekat.


"Besok dia akan menjalani oprasi dan sampai sekarang belum sadarkan diri"


"Lalu bagaimana keadaan Adi? "


"Dia baik, oprasinya berjalan lancar"


"Baguslah... "


"Rey kekamar dulu pi.. mau istirahat sebentar" kata Rey lalu melanjutkan langkahnya. Rey memasuki kamarnya dan merebahkan dirinya keatas tempat tidurnya. Tak berapa lama dia tertidur dan begitu pulas sampai dia tak menyadari waktu berlalu dengan cepat.


Rey bermimpi saat terakhir kali dia bertemu denganku. Saat aku mengatakan kalau aku ingin terus mengingatnya dan Rey terus mengigau berusaha untuk menahanku agar aku tak pergi meninggalkannya.


Rey terbangun pagi sekitar jam 9. Dia begitu terkejut dan segera mandi. Saat dia turun kebawah rumah tampak Sepi. Tapi Rey tak peduli. Dia meneruskan langkahnya dan segera menuju rumah sakit. Rey berlari kecil menuju koridor tapi dia kecewa saat tak lagi mendapatiku disana.

__ADS_1


"Pasien sedang menjalani oprasi. Baru dipindahkan 15 menit yang lalu "kata suster disana. Rey lalu bergegas menuju ruang oprasi dan melihat keluargaku menunggu dengan cemas disana.


Maminya Rey berencana menjenguk Yuna saat itu. Papinya seperti biasa ikut tapi waktu itu beliau ikut bukan karna ingin menjenguk Yuna tapi karna terus merasa bersalah pada bapak. Saat maminya Rei sedang berbincang bincang dengan keluarga Sonia papinya Rey permisi keluar dan berjalan menuju ruang operasi. Tampak anaknya juga ada disana. Papinya Rey tak berani mendekat dia hanya melihat dari jauh. Hati beliau begitu gelisah dan terus merasa bersalah. Sebenarnya beliaulah yang menyebabkan kekacauan sejak awal.


."Pak bukannnya itu Andre? Sejak tadi ibu perhatikan dia terus memperhatikan ruang operasi " kata ibu saat menyadari keberadaan papinya Rey. Bapak lalu mendekatinya hingga papinya Rey sedikit terkejut.


"Untuk apa kamu kesini?" tanya bapak


"Hanya ingin melihat"


"Kenapa dunia mempermainkan kita seperti ini ? seolah masalah yang terjadi dulu harus dilanjutkan saat ini"


"Maafkan aku Charles.... aku benar benar menyesal"


"Sudahlah... putriku terbaring disana bukan Karen kesalahanmu. Ini sudah takdir Tuhan. Hanya saja aku tak ingin dia terluka karna apa yang kita sepakati dulu. Aku tak mau kesalahpahaman Ana dilimpahkan padanya. "


"Aku tahu.. aku benar benar minta maaf Charles"


"Apa yang kalian bicarakan? " tanya maminya Rei tiba tiba. Papinya Rei dan bapak langsung terdiam. Mereka sadar tengah tertangkap basah oleh maminya Rey.


"Papi... papi sembunyikan sesuatu dari mami selama ini? " tanya maminya Rey tek percaya.



Rey mendengar dan mendekati mereka. papinya Rey sedikit gugup. Dia tak sanggup untuk menghadapi istrinya itu.


"Charles..., katakan.. " desak maminya Rey lagi pada bapak. Bapak melihatnya dan tak lama ibu datang mendekati mereka.


"Aku saja yang menjelaskan" kata ibuku segera


"30 tahun silam, Andre menjebak aku dan Charles. Dia membuat seolah olah kami sudah melakukan sebuah kesalahan yang fatal dan sangat memalukan. Tentu untuk menjaga nama baik keluarga. Charles bersedia menikah denganku dan meninggalkanmu. Charles memperalat itu agar bisa mendapatkanmu. Dan tentu kami tak perlu menjelaskannya padamu"kata ibuku. Maminya Rey terdiam, dia tak menyangka suami yang sudah dicintainya itu ternyata dalang dari semua rasa sakitnya. Beliau menangis dan Rey segera memeluknya dan membawanya untuk duduk. Papinya datang berlutut meminta maaf padanya tapi emosi dan kesedihan juga rasa bersalah yang begitu besar sudah terlebih dulu menghantamnya. Dia memukul pundak suaminya itu mencoba melepas kemarahannya.

__ADS_1


"Maafin papi, papi benar benar menyesal. Papi benar benar tak punya cara lain. Papi sangat mencintai mami. Papi harus menikahi mami agar papi bisa mendapatkan promosi jabatan dari almarhum ayah mertua. Papi benar benar menyesal mi... " kata papinya Rey begitu menyesal.


__ADS_2