The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
awal dari kekacauan


__ADS_3

Keesokan harinya saat Sonia sedang bekerja. Asistennya masuk dan mengetuk pintunya.


"Masuk... " kata Sonia tanpa melihat kearah pintu.


"Bu ada tamu mau ketemu ibu. Katanya beliau orangtuanya pak Rey" Mendengar kalimat itu Sonia langsung melihat asistennya. Untuk apa maminya Rey kesini fikir Sonia dalam hati. Sonia lalu beranjak dari tempat duduknya dan menyuruh asistennya untuk mempersilahkan maminya Rey masuk.


"Hallo sayang... maaf tante mengganggu." kata maminya Rey menyapa seraya menghampiri Sonia yang langsung mengajaknya duduk dikursi sofa didepan meja kerjanya.


"Gak apa apa tante. Tante kok bisa kesini, ada apa? "


"Ah tante cuma mau mampir sebentar liatin kamu. Kamu hebat yah, masih muda sudah memimpin usaha sebesar ini sendiri.


"Sonia cuma nerusin usaha keluarga tante, semenjak papi meninggal Sonia yang fokus ngurusin bisnis ini."


"Ehmm, tante juga dengar bisnis advertising mu sangat bagus dan berkembang."


"Puji Tuhan tante,,, "


"Oh yah tante juga baru dapat kabar kalau dulu ternyata kamu dan Rey pacaran yah? "


"Ah.. " Sonia sedikit terkejut saat maminya Rey menyinggung masalah itu.


"Maaf bukan tante mau kepo, tante cuma penasaran kenapa kalian bisa putus."


"Ah itu.... , mungkin karna kami sama sama sibuk tan. Jadi kurang komunikasi." kata Sonia berbohong karna Sonia tak mungkin mengatakan kebenaran yang akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Jadi sekarang kamu sudah punya pacar atau belum? "


"Belum punya tan. Saya masih sangat sibuk dengan kerjaan. "


"Jangan dilama lamain gak bagus. "


"Ah iyah tante"


"Oh yah sebenarnya tante kesini mau ngundang kamu. Besok tante ulang tahun. Tante buat acara kecil kecilan. Kamu datang yah karna nanti ada kejutan."


"Oh iyah tante, Sonia pasti datang"


"Ehmm, jangan lupa dandan yang cantik."


"Baik tante"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu tante gak akan ganggu kamu lagi, tante pulang dulu yah. "


"Oh iyah tante.., nanti hati hati. " Sonia pun lalu menemani maminya Rey hingga ke parkiran. Maminya Rey melambaikan tangannya sebelum mobil yang dibawakan supirnya melaju pergi.


Sonia merasa bingung, kenapa maminya Rey sampai datang menemuinya hanya untuk mengundangnya. Padahal mereka baru sekali bertemu dan itupun hanya sebentar.


Rey pagi itu sangat sibuk dengan beberapa tugas penting dilapangan. Dia sampai tak punya waktu untuk menemuiku. Rey lalu mengirimkan beberapa pesan di WA namun, karna keadaanku yang masih belum stabil aku hanya bisa tidur didalam kamar.


"Non.. kita kedokter yah nak, badan kamu lemas begini. Ibu khawatir" kata ibuku yang menemaniku sejak tadi pagi.


"Tidak usah bu, semalam dokter sudah kasih obat. Aku hanya kecapean makanya demam."


"Mau ibu telpon nak Rey? "


"gak usah bu" potongku segera


"Kenapa?"


"Rey sibuk bu, biarkan saja. jangan diganggu. "


"Yah sudah, tapi kalau sampai ntar sore gak baikan juga. Ibu bakal bawa kamu ke dokter ok."kata ibuku bernegosiasi. Aku hanya tersenyum agar menenangkan hatinya. Tak lama ibuku pun keluar dan menutup pintu. Aku lalu mencari obat obatanku. Namun aku tak menemukannya. Rasa sakit yang ku rasakan sangat begitu menyiksa. Aku berfikir untuk menghubungi Adi dan tak lama dia mengangkat telponku.


"Kamu kenapa? " tanyanya terdengar khawatir


"Aku perlu obat itu, aku sudah tidak kuat. " kataku lalu menutup telpon. Adi yang begitu cemas langsung bergegas meninggalkan rumah sakit dan menuju kerumahku.


"Siang tante.. saya Adi, temennya Nona. Tadi Nona menelfon katanya dia sedang sakit. " kata Adi menjelaskan setelah bertemu ibuku di teras rumah.


"Oh iya.. ibu baru tahu Nona punya teman seorang dokter. Nona memang sakit sejak tadi pagi, ibu sudah sarankan agar segera ke dokter. Tapi dia gak mau. Katanya dia hanya perlu istirahat. "


"Tante tenang saja, saya akan periksa dia."


"Oh iyah,mari ibu antar.. maaf loh nak Adi. nak Adi jadi repot begini." kata ibuku seraya menuntun Adi menuju kamarku.


Tok tok tok


"Non, ada nak adi" kata ibuku seraya membuka pintu dan masuk. Aku melihat Adi masuk setelah ibuku. dia masih memakai seragam baju putihnya. Tampak sangat tampan.


"Ibu tinggal dulu yah nak adi. Tolong nonanya diperiksa. "


"Ah iyah bu.. " jawab Adi seraya tersenyum. Ibuku pun lalu keluar dan menutup pintu. Adi menghampiriku yang berusaha untuk bangkit dengan sisa tenagaku.

__ADS_1


"Kamu harus ke rumah sakit" kata Adi sembari membantuku untuk duduk dan bersandar.


"Aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa. Maaf merepotkanmu lagi."


"Kita kerumah sakit saja."


"Jangan di.. berikan saja obatku, aku akan segera membaik."


"Kamu sudah gila.. " kata Adi tak percaya


"Plis... aku sudah tidak tahan. Sangat sangat sakit. " kataku seraya memegang tangan Adi. berharap dia akan iba padaku. Agak lama sampai pada akhirnya Adi menyerahkan obat itu dan memberikannya padaku.


"Ini terakhir kalinya, lain kali aku takkan menolongmu lagi. Obat ini hanya akan mempercepat kematianmu." katanya kesal setelah aku meletakkan gelas minumanmu.


Tak lama setelah obat itu bereaksi. Aku pun tertidur. Adi masih disana untuk menjagaiku, hingga dia yakin bahwa aku sudah tertidur lelap. Adi berniat untuk pergi namun saat melihat mading didinding kamarku langkahnya berhenti. Dia mendekati dan mengamati sebuah foto disana. Fotoku dengan Rey saat merayakan kelulusan sekolah. Adi melepas foto itu dari jepitannya dan membuka lembaran foto yang berlipat. ada foto Sonia juga disana.


"Jadi kamu wanita yang dicintainya itu. " kata Adi pelan. Adi lalu meletakkan foto itu kembali dan lalu pergi meninggalkan rumahku.


"Hei ini foto siapa? "tanya Adi saat membuka dompet Rey yang terletak diatas meja ketika pertama kali Rey menginap dirumahnya. Adi duduk dan melihat foto seorang gadis anak SMA yang duduk membelakangi disebuah perpustakaan. rey yang baru saja meminum segelas air lalu merebut kembali dompetnya.


"Dia gadis yang kusuka sejak SMA . namanya Nona "


"Aku baru tahu kalau kamu punya pacar"


"Kami belum berpacaran "


"Jadi mengapa menyimpan fotonya?"


"Ehm.. dia kuliah diluar negeri. Baru lulus s1 dan berniat untuk lanjut lagi."terang Rey seraya duduk disamping Adi dan bersandar memandangi langit langit.


"Kenapa, apa dia menolakmu? "


"Ahh entahlah.., berulang kali aku mengirim pesan untuknya. Tapi hanya sekali dia membalasnya. Selain ignya aku gak punya contack lain utk bisa dihubungi."


"Cinta bertepuk sebelah tangan."ledek Adi sambil tertawa kecil.


"Dia itu gadis yang spesial. Setiap hari dijam istirahat dan sepulang sekolah. Aku menghabiskan waktuku untuk datang ke perpus. Hanya duduk dan memandanginya dari belakang. Dia belajar sangat gigih, setiap hari selalu belajar. "


"Sebegitu cintanya"


"Hmmm, aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Aku benar benar frustasi menunggunya."

__ADS_1


__ADS_2