The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
membalut luka


__ADS_3

Malam itu Rey mendatangi rumah sakit. Saat itu hanya aku yang ada disana sedang duduk sambil membaca novel dari aplikasi Hpku.



Rey melangkah perlahan dan saat dia mulai mendekat aku mulai menyadarinya. Dia tampak bingung untuk menghadapiku.


"Hai... " sapanya dan aku lalu tersenyum.


"Hai... "


"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil duduk dihadapanku menghadap ketembok. Sepertinya dia berusaha agar tak melihatku.


"Aku baik, sudah lebih baik. "


"Baguslah.. "


"Kamu tahu dari mana aku disini? "


"Ehmm" Rey tampak bingung untuk menjawab apa


"Semalam Sonia juga kesini, katanya kalian sudah putus" kataku lagi dan Rey hanya mengangguk kecil.


"Sonia bilang kamu suka cewek lain"


"Ehmm, gak baik kalau harus dilanjutkan" kata Rey sedikit tersenyum dan agak lama suasana agak hening. Aku pun tak tahu harus berkata apa padanya.


"Non..., " katanya lagi seraya menatapku seolah dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia ragu untuk mengatakannya.


"Kenapa Rey... ?"


" Aku.. aku harus pergi " katanya lagi seraya bangkit dan setelah itu dia langsung keluar. Rey berhenti didepan kamar.


__ADS_1


"Kenapa kamu harus melupakanku. bagaimana aku harus menghadapimu? " katanya kesal dalam hati lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Sherli melihatnya dari arah yang berbeda saat dia berjalan menuju ruanganku.


"Bang Rey kesini yah? " tebak Sherli


"Kok tahu"


"Tadi aku lihat pas dia keluar"


"Ehmmm, eh kok kamu kenal sama bang Rey, kaliankan belum pernah ketemu. " tanyaku heran.


"Jangan terlalu kepo. Kakak sehat aja dulu. Nanti kita crita kalau kakak sudah sembuh. "


"Ehm.. oh yah kamu suka Gabriel yah? "tebakku dan Sherli segera menatapku.


"Semalam kakak liat kamu cemburu waktu Yuna gandeng dia. "


"Enggak kok kak, cuma lagi fikirin toko saja. Karna selama kakak sakit aku nutup toko. Hatiku gak tenang sebelum kakak pulih" curhatnya namun wajahnya tampak tak bahagia.


Rey bermain biliar sendiri namun tak ada satu pun bola yang dapat ditembaknya dengan baik. Fikirannya masih saja kacau karna memikirkanku. Saking kesalnya Rey melempar sticknya



"Kenapa kamu begitu marah? aku sudah bilang ingatannya tak hilang permanen " kata Adi lalu menembak salah satu bola yang masih berserakan dimeja bilyar.


"Berapa lama? aku harus berapa lama menunggunya? aku sudah tak bisa berfikir. aku tak tahu bagaimana cara menghadapinya."


"Aku gak bisa menjanjikan apa apa padamu. "


Rey menghela nafas panjang. Dia lalu meletakkan botol minumannya diatas meja bilyar lalu pergi meninggalkan Adi. Adi tak jadi menembak bola berikutnya. dia hanya memandang kepergian Rey.


Rey kembali kerumahnya. Dia mengambil sebotol wine dari kulkas dan lalu meneguknya. Papinya melihat kejadian itu. Juga saat Rey masuk kekamarnya membawa botol minuman itu. Beliau mencoba mendekat dan tak lama terdengar suara pukulan yang memecah kaca. Beliau lalu masuk dan mendapati kaca dimeja rias Rey sudah pecah dan Rey tengah duduk bersandar dibawah tempat tidurnya. Dia hanya diam tertunduk sedang tangannya sedang berlumuran darah.


"Rey... " panggil papinya, Rey menoleh beliau. Papinya Rey lalu mendekat seraya membawakan kotak p3k. Dia lalu membalut tangan anaknya itu tanpa bicara sedikitpun

__ADS_1



Rey teringat saat dia terjatuh dari tembok sekolah didekat perpustakaan. Tangannya terluka dan berdarah dan tak lama aku datang membawakan kotak p3k. Aku membalutnya tanpa kami bicara sepatah katapun. Saat itu Rey menatapku dengan sangat lembut. Dia terus memandangiku hingga aku menyelesaikan balutan perban ditangannya.


Seketika Rey berdiri sebelum papinya selesai membalut tangannya.


"Rey... " kata papinya. Rey lalu mengambil kotak p3k itu lalu membawanya pergi. Rey melaju menuju rumah sakit. Saat itu aku pun tak bisa tertidur. Aku kembali bangkit dari pembaringanku saat Rey membuka pintu.


"Rey... "kataku heran. Rey masih diam disana. Mengatur nafasnya agar lebih tenang setelah dia berlari dari pintu masuk. Rey mendekatiku sambil membawa kotak p3k ditangan kirinya. Aku begitu bingung sambil terus mambalas tatapan Rey.


"Balut lukaku" katanya sambil menyerahkan kotak tersebut. Aku semakin bingung. Aku menatap kotak itu dan aku lalu melihat tangan Rey yang masih berdarah.


"Tanganmu" kataku sedikit panik


"Tolong balutkan lukaku" katanya, aku lalu meraih kotak itu. Rey duduk dihadapanku dan menungguiku menyelesaikannya. Selagi aku membalut luka itu aku teringat saat kami masih Sma. Saat aku membalut lukanya.


"Dulu aku pun membalut lukamu" kataku pelan. Rey segera melirikku, menatapku penuh harap. Aku sedikit tersenyum untuknya. "


"Kamu tahu dari mana waktu itu aku disana?" tanya Rey. Aku menatapnya, aku terkenang dulu aku selalu memperhatikan Rey. Dia selalu ngumpul dibalik tembok perpus dengan teman temannya. Mereka biasa kabur dari sana dan karna itulah aku sering belajar disana. Melihatnya seolah menambah semangatku belajar. Aku ingin dia melihatku. Walaupun aku tidak populer dan hanya bisa belajar tapi aku sangat berharap dia akan melihatku. Dan tepat se x waktu itu Rey terjatuh hingga kami bisa duduk bersama. Walau tak saling bicara tapi itu sudah membuat hatiku bahagia.


"Hanya kebetulan saja"


"Ehmm, dulu kamu selalu diperpus. Sangat giat belajar, setiap hari kamu selalu belajar. "


"Kamu juga, kamu selalu sembunyi disana agar semua penggemarmu tak mengganggumu disana. "


"Sebenarnya bukan karna mereka. "


"Lalu? "


"Karna aku ingin didekatmu. Aku ingin terus melihatmu. Sejak saat kamu muncul dan mengobati tanganku. Aku tersadar, aku terus memandangimu. Tapi aku melihatmu begitu serius belajar. Aku gak ingin mengganggumu. Buatku bisa selalu didekatmu dan melihatmu sudah sangat membuatku bahagia. " terang Rei. Aku terdiam, Rey lalu menyentuh pipi kananku. Wajahnya terasa begitu dekat. Rey menempelken keningnya kekeningku dan kami tertunduk.


"Ku mohon ingatlah aku. "katanya pelan, aku yang bingung lalu menatap Rey. Aku tak mengerti kenapa tatapannya begitu sedih hingga membuatku tidak kuat. Rey lalu memelukku, dia seolah sedang melepas semua kerinduannya. Aku terdiam sebab aku tak mengerti mengapa Rey bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Tidurlah" katanya setelah aku berbaring. Aku memandangi Rey. Tangan kami masih saja saling bergengaman. Dia mengelus manis kepalaku dan tersenyum kecil. Ingin rasanya aku berlama lama melihat Rey tersenyum begitu. Tapi mataku terasa tak kuat dan akhirnya aku tertidur tapi aku masih bisa merasakan kehangatan tangan Rey ditanganku.


"Sebegitu kerasnya kamu berusaha menjaga ingatan itu. Hingga ingatan itu hilang darimu. ,non...., aku akan membawa ingatan itu untukmu. Untuk kita" kata Rey pelan. Rey tetap disiiku menjagaiku semalama itu. Hingga keesokan harinya jam 6 pagi. Rey harus pulang Karna dia harus bekerja.


__ADS_2