The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
kekacauan


__ADS_3

Rey membuka layar kunci dihpnya. Dia berniat untuk menelfonku tapi karena tak ada jawaban dan hp tertinggal dirumah akhirnya Rey beranjak dari ranjangnya. Dia keluar dari rumah tanpa berpamitan pada maminya yang duduk di ruang tamu.



Maminya Rey merasa kesal tapi beliau pun tak berminat untuk menegur sikap anak bungsunya itu.


Saat tiba didepan rumahku Rey merasa heran karna rumah terkunci dan tampak sepi. Rey mencoba menelfon berkali kali tapi tetap saja nihil. Rey lalu berinisiatif menuju toko, tapi disana pun dia tak mendapatkan apa apa.


"Bang Rey... " kata Sherli saat melihat Rey tertunduk didepan toko. Sherli bisa melihat expresi putus asa dari body languagenya.


"Sher... "


"Kenapa abang kesini? "


"Kak Non..., tadi rumahnya sepi. Telpon juga gak diangkat"


"Aku memang gak berhak buat ikut campur hubungan kalian. Tapi mungkin sekarang lebih baik jangan bertemu dulu. Kak Non butuh istirahat. Dia perlu menenangkan hatinya. "


"Sher.. tolonglah.. " kata Rey memohon


"Aku bukannya gak mau nolong. Tapi, aku sudah janji sama kak Non.. Aku gak bisa bilang kak Non ada dimana. Yang jelas dia akan segera membaik. Dia akan baik baik saja" kata Sherli sedikit menguatkan dirinya walau sebenarnya dia sudah tak tahan untuk menahan air matanya. Sherli berjalan melewati Rey dan menutup tokonya dengan benar kemudian pergi.


"Nak Adi, makasih yah. Nak Adi sudah sangat baik merawat Nona. Bapak sangat bersyukur disaat seperti ini ada nak Adi " kata bapak saat mereka duduk di ruang tunggu didepan kamar inapku.


"Gak usah sungkan pak, itu sudah jadi kewajiban saya. "


"Bapak sedih melihatnya begini. Bapak merasa bersalah. Bapak pun gak mau ini terjadi tapi Tuhan sudah menakdirkan harus begini"


"Saya percaya bapak punya alasan sendiri. "


"Makasih nak Adi.. kamu sudah mau percaya bapak sebelum kamu tahu kebenarannya. Sedangkan orang lain bahkan maminya Rey tidak pernah mempercayai bapak. "


"Kalau memang bapak membuat sebuah kesalahan, kenapa bapak tak meminta maaf dan menjelaskannya? "


"Sulit nak Adi, terkadang kita harus memilih diam dan menanggung semua sendiri demi kebaikan semua. "


"Maksud bapak ? " tanya Adi bingung. Bapak menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya.


"Sewaktu muda dulu maminya Rey itu cinta pertama bapak. Hubungan kami sangat baik. Bapak begitu serius dan sayang. Bapak tidak pernah berfikir untuk menyakiti apalagi meninggalkannya. Sampai suatu saat bapak harus memilih antara keluarga dan cinta. Dan bapak sebagai anak sulung harus bisa lebih dewasa dalam mengambil sikap. Bapak tahu apa yang bapak sudah putuskan akan sangat menyakitinya. Dan ternyata hingga saat ini pun dia masih begitu membenci bapak. Yang bapak sesalkan cuma satu, kenapa harus Nona, kenapa dia harus menanggungnya? itu kesalahan bapak, bapak tidak mau dia membenci bapak. Mungkin bapak pantas di benci,, tapi bapak gak mau dia terluka seperti ini. Bapak gak sanggup melihatnya menangis. Bapak sangat menyesalinya." terang bapak sambil menahan perasaannya. Adi mencoba memberi dukungannya. Sedang aku hanya bisa menahan tangisku dibalik pintu, sebab aku tak mau mereka mendengarnya.


Malam itu Sherli kembali kerumah dan dia bertemu Gabriel yang bersiap siap untuk pergi

__ADS_1


"Kamu mau kerumah sakit? " tanya Sherli saat baru tiba dan mendapati Gabriel memakai sepatunya diteras.


"Bukan. "


"Kak non sakit dan kamu mau pergi "


"Ada hal penting yang harus aku lakuin"


"Apa kakak sendiri tidak lebih penting? " kata Sherli tak percaya. Gabriel yang sudah selesai mengenakan kedua sepatunya lalu bangkit dan memandang Sherli agak kesal.


"Jangan urusi urusanku" katanya dingin lalu pergi. Sherli terdiam, dia tidak mengira sikap baik yang baru baru ini dirasakannya berubah kembali kesikap Gabriel yang semula. Sherli merasa begitu kesal namun tak bisa berbuat apa apa.



"Yuna mau kemana? " tanya Sonia saat dia baru kembali dari kantor dan mendapati yuna akan menaiki taxi.


"Mau keluar kak. Ada janji sama temen, mau makan diluar"


"Tumben.., sama siapa ?"


"Teman aku banyak loh kak. "


"Ok kak, dah... " Yuna melambaikan tangannya sebelum masuk kedakam taxi. Sonia pun meneruskan langkahnya masuk kerumah dan mendapati maminya Rey ada disana sedang berbincang bincang dengan maminya.


"Eh.. ada tante rupanya.. " kata Sonia sambil mendekati mereka diruang tamu. Sonia lalu menyalami maminya Rey kemudian duduk disebelah maminya.


"Kamu pulangnya kok malam? "


"Tadi ada sedikit kerjaan yang kejar deadline tante. Jadi harus di beresin. "


"Jangan terlaku capek."


"Tante udah lama? "


"Engak juga, tante fikir kamu sudah pulang.makanya tante kesini. "


"Ehmm.. "


" Kamu gak pernah cerita ke mami kalau kamu mau menikah dengan Rey. Untung mbak Ana cerita. Kamu mau kasih surprise yah? " kata maminya Sonia sambil tersenyum bahagia. Sonia melirik maminya Rey, dia tak mengira maminya Rey akan bertindak secepat ini padahal Rey pun belum bisa didapatkannya.


"Gak gitu mi.. "

__ADS_1


"Memang Sonia gak berniat begitu. Semalam saya yang melamarnya untuk anak saya. Saya merasa mereka sangat cocok."


"Ehmm, nak Rey juga sangat baik. Kami pernah sekali bertemu"


"Oh begitu.. "


Maminya Rey juga maminya Sonia menikmati pembicaraan itu. Tampak mereka berdua sangat antusias membahas perjodohan itu tapi Sonia merasa terganggu mendapati kenyataan kalau Rey sama sekali tak mengingininya.


Malam itu Adi keluar dari rumahnya. dia sudah tak mengenakan seragam dokternya. Dia mengenakan kaos hitam dan melapisinya dengan kemeja lengan pendek yang tak dikancing.


"Di.... " panggil Rey saat Adi berniat membuka pintu mobilnya.


Tampak Rey berjalan mendekatinya. Rey memperhatikan rantangan yang dibawakan Adi.


"Kalau gak buru buru, aku perlu bicara"


"To the point aja. Aku harus kerumah sakit. "


"Ehm.. "


"Ada apa? "


"Nona,, apa kamu tahu Dia dimana? "


"Kenapa mencarinya, gak takut mamimu marah? "


"Aku serius Di"


"Aku gak bisa bilang dia dimana. Yang jelas dia butuh waktu untuk pulih."


"Maksudmu apa? "


"Apa menurutmu setelah kejadian semalam dia baik baik saja?"


"Kamu gak berniat untuk menjadi rivalkukan? "



"Rey,, dengan siapapun kita berjodoh itu sudah takdir dari Tuhan. Sekalipun dia gadis yang selama ini kamu tunggu, tapi kalau tak berjodoh kamu mau bilang apa? " kata Adi begitu santuy. Rey merasa kesal dan lalu mendorong Adi kemobilnya. Adi bisa melihat emosi Rey yang siap untuk meledak.


"Lebih baik stabilkan dulu emosimu. Emosimu yang berlebihan ini hanya akan memperburuk keadaan. Aku tidak bilang akan menjadi rivalmu tapi jika itu memang harus terjadi aku juga tidak keberatan. " kata Adi lagi. Rey merasa siap meledak dia lalu mengangkat tangannya dan memukul bagian atas pintu mobil adi dengan keras lalu lergi.

__ADS_1


__ADS_2