
"Rey belum pulang? " tanya papinya Rey saat dia baru saja duduk dikursi makan pagi itu. Istrinya tak menjawab, beliau sibuk menyendokkan nasi kepiring beserta lauk pauknya.
"Mami.... " papinya Rey mencoba untuk membuka pembicaraan namun kemudian tertahan saat mata maminya Rey meliriknya agak sinis, seperti sebuah isyarat kalau maminya Rey sedang tak mood untuk membahas hal apapun.
"Makannya pelan pelan saja " saran papinya Rey, tapi istrinya bagai tak acuh.
Tak lama suara pintu terdengar terbuka. Papinya Rey melihat Rey memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya. Dia terlihat kurang tidur dan masih bau minuman.
"Rey... " cegat papinya sambil bangkit dari tempat duduknya. Rey melirik seraya menghentikan langkahnya, menunggu papinya sampai dihadapannya.
" Kamu habis minum, kamu dari mana saja, sudah makan? " tanya papinya perhatian
"Rey lagi gak nafsu makan pi. Rey mau tidur "elak Rey lalu kembali melanjutkan langkahnya, papinya kembali kemeja makan, duduk dan terdiam, dia melirik istrinya lagi. Beliau pun bagai tak respect. Papinya Rey lalu memanggil pelayan dirumah mereka dan memintanya untuk menyiapkan makan siang untuk dibawah kekamar anak bungsunya itu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar terdengar jelas sebelum pintu kamar terbuka. Rey yang sedang duduk diujung tempat tidurnya mengangkat sedikit kepalanya dan melihat papinya datang membawakan makanan untuknya.
"Kamu tahu dulu saat kakakmu masih kecil, setiap kali dia mengambek pada mamimu papi selalu membawakan makan untuknya karna dia akan mogok makan sampai permintaannya dipenuhi" cerita beliau seraya duduk disamping Rey.
"Sekarang papi sadar, kamu gak ada bedanya dengan kakakmu. "
"Rey gak lapar pi"
"Sekalipun kamu gak lapar, kamu harus tetap makan. Kalau kamu gak makan gimana kamu bisa kuat hadapin mamimu"
"Papi gak belain mami? "
"Papi sudah mengenal mamimu cukup lama. Bahkan hingga kelahiran kakakmu dia masih mencintai laki laki lain. Dan sampai kejadian semalam papi menyadari kalau mamimu tidak pernah melupakannya. Papi merasa lucu,,, sudah selama itu tapi mamimu masih belum bisa menghadapinya secara dewasa. Bahkan dia sudah lebih dewasa" kata papinya Rey sedikit bercanda. Rey tersenyum menanggapinya dan papinya lega akan itu.
"Rey... papi mengerti perasaanmu. Papi dulu juga memperjuangkan cinta mamimu mati matian. Papi halalin banyak cara yang sampai sekarang mamimu gak tahu. Dan karna itu papi pun mau kamu bisa membaca situasi ini dengan baik. Rey.... papi gak minta kamu buat putus dari Nona, papi akan mendukung penuh keputusanmu. Hanya saja.., tolong jaga mami. Tolong jangan buat dia sakit. Buat papi, siapapun yang akan menjadi jodohmu, dia pasti yang terbaik. " kata papinya Rey lagi sambil menepuk bahu kanan Rey. Rey mengangguk kecil lalu papinya keluar meninggalkannya.
"Hai... " sapa Yuna ramah sambil sedikit tersenyum saat dia baru sampai disalah satu sudut lapangan basket yang disana ada gabriel yang baru saja duduk. Gabriel langsung berdiri dan menyambutnya dengan senyum.
__ADS_1
"Sori yah mendadak minta kamu kesini" kata Gabriel sambil menyerahkan sebotol minuman ringan kepada Yuna.
"Enggak apa apa kok. "
"Duduk dulu "
"Ah.. yah.. " kata Yuna sedikit gugup dan lalu mereka duduk bersampingan disalah satu kursi panjang.
"Jadi kenapa nich tiba tiba mendadak ngajak ketemuan? " tanya Yuna malu malu
"Ehmm.., gak apa apa sih. Cuma gak enak aja main sendiri disini gak ada yang temenin"
"Nanti pacar kamu marah lagi"
"Pacar..., pacar yang mana? " tanya Gabriel sambil meraih bola dihadapannya.
"Bukannya kamu lagi pacaran sama anak ketua dpr itu yah? "
"Hahahahaha, kalian para cewek cewek ini memang murah banget yah baper" kata Gabriel sedikit tertawa lucu
"Baper...? "
"Jadi kalian gak pacaran nich? " tanya Yuna penasaran. Gabriel lalu menatapnya serius dan dia menatap Yuna cukup dekat hingga Yuna benar benar salah tingkah.
" Kalau kamu, kamu mau jadi pacarku? "tanya Gabriel. Mata Yuna terbelalak sebentar dan kemudian menunduk.
"Jangan gitu, ntar aku baper lagi" elaknya. Gabriel lalu bangkit dan berdiri dihadapannya. Gabriel tersenyum kecil lalu mulai memainkan bola basketnya. Yuna lalu memperhatikannya dan semakin dilihat dia semakin jatuh cinta. Sosok Gabriel yang selama ini yang ada diimaginasinya saja sekarang berada dihadapannya bahkan menembaknya secara tak terduga. Yuna lalu memposting beberapa foto dan vidio live Gabriel yang sedang bermain basket didepannya dan memamerkannya di ignya. Teman temannya langsung merespon dengan memberikan komentar.
"Bu.., bagaimaa keadaan Nona? " tanya bapak yang baru saja sampai keruanganku. Mereka tengah berdiri tak jauh dari pintu.
"Adi sedang memeriksanya, Adi bilang dia akan segerap membaik "
"Syukurlah.. "
__ADS_1
"Apa yang terjadi semalam sepertinya membuatnya sangat terpukul, ibu gak tega lihat Nona begini pak. "
"Dia akan segera membaik bu.. "
"di... " panggilku saat Adi tengah menyuntikkan obat melalui selang infusku.
"Yah... "
"Kapan aku bisa pulang? "
"Non..., jangan paksakan dirimu lagi. Tinggal disini beberapa hari untuk menjalani pengobatan "
"Adi.. "
"Menurutlah, jangan bebal" saran Adi lagi
"Bapak dan ibu akan curiga kalau aku berlama lama disini"
"Kalau kamu benar benar menyayangi mereka, kamu harus berjuang buat sembuh. Bukannya malah berbuat hal bodoh yang semakin membahayakan nyawamu sendiri. "
kata Adi lagi. Aku terdiam berfikir kenapa orang yang baru saja kukenaLi itu begitu gigih untuk menyembuhkanku.
"Aku akan cari cara untuk menjelaskannya pada bapak dan ibumu, sekarang istirahatlah" kata Adi lagi dan sebelum dia pergi aku meraih tangannya
"Makasih yah Di..., kalau gak ada kamu aku gak tahu harus bagaimana, makasih...."
"Sudahlah.., apa yang sudah terjadi, walaupun itu begitu nyakitin kamu tapi itu gak bisa jadi alasan buat kamu down. Kamu harus bisa kuat, ingat keluargamu. Mereka semua sangat menghawatirkanmu. "
"Kenapa aku yang harus menanggung karma ini?"
"Jangan bicara seperti itu. Apapun itu, om pasti punya alasan sendiri. Om yang kukenal sangatlah baik. Aku yakin om pun sangat terpukul karna hal ini. Kalau kamu semakin sedih, dia pun akan semakin sedih dan menyalahkan dirinya. "
" Ini sangat menyakitkanku Di.. "keluhku dengan mata yang mulai berkaca kaca. Adi mengelus elus punggungku untuk menghibur dan gak lama akhirnya tangisku pecah kembali. Adi lalu duduk dan menyandarkan aku di dadanya.
"Nangis aja,, biar lega.. " kata Adi begitu pengertian, bapak dan ibu melihatnya dari luar. Mereka saling bertatapan dan terharu.
__ADS_1
"Untung ada nak Adi yah pak, bisa temenin dia, ngasih support " kata ibuku yang ikut ikutan menangis.
"Jodoh ditangan Tuhan bu.,,, TUhan pasti memilihkan jodoh yang terbaik untuk anak kita"