The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
membayar hutang


__ADS_3

may basah kuyub oleh air laut dan es. dia begitu terkejut saat melihat beberapa jenis seafood segar menghujaninya dan dia segera menyingkir dari sana. anak buahnya yang memegangiku dan maminya rey lalu pergi mendapatinya yang sedang panik .


aku berlari kearah rey untuk melihat keadaannya.


"bawa mami pergi dari sini"katanya


"bagaimana aku bisa meninggalkanmu? "


"aku akan segera datang. pergikah bawa mami"katanya. aku dengan berberat hati mengajak maminya rey untuk pergi. kami harus pergi meninggalkannya.


"ahh...... "may berteriak histeris saat kulitnya mulai memerah dan menjadi gatal. kedua bodiguard nya bingung harus berbuat apa.


rey memamfaatkan kesempatan itu untuk mengambil tas may yang terletak tak jauh darinya dan mencari penawarnya. salah satu dari bodyguard itu menyadari. dia berniat untuk memukul rey dari belakang tapi seseorang muncul dan memukul jatuh bogyduard itu.


"riu... "kata rey begitu senang.


"cepat bawa obat itu. paul akan segera kesini. aku akan berusaha menahan mereka "kata riu. rey lalu setuju. dia harus segera membawa penawar obat itu untuk adi.


"hayo cepat masuk"kata rey saat menemukan kami berlari menuju jalan raya. kami segera masuk dan meninggalkan tempat itu. rey mengemudikan mobilnya kencang menuju kota. namun jalanan sangat macet.


"ayara. jaga mami. aku harus cepat membawa obat ini untuk adi"katanya lalu turun dari dalam mobil. rey melihat seorang pengendara motor trail.


"aku polisi dalam tugas. aku perlu motormu"katanya tapi lelaki itu tak mau memberinya begitu saja.


"ini dompetku, hp juga dan itu mobilku. aku harus cepat"katanya. pertama pria itu masih belum berterima.aku lalu mencoba meyakinkannya dan akhirnya dia menyerahkan motornya. rey segera memakai helm dan menaikinya



"jaga mami"pesannya lalu pergi.


rey menggas motor itu kencang. setibanya disana dia langsung berlari menuju ruangan dokter.


"dokter sudah ku temukan "kata rey sambil mencoba mengatur nafasnya didepan pintu ruangan sang dokter. dokter bergegas mengambil sebotol obat penawar itu dan membawanya untuk rey.

__ADS_1



"tenanglah sobat. aku akan membayar hutangku"kata rey dalam hatinya. lalu dia meremas bahunya yang tadi disuntik oleh may. rey lalu duduk dilantai dan bersandar disana.


aku segera berlari menuju ruangan adi bersama maminya rey. aku melihat rey sudah ada disana sedang menyandarkan kepalanya kedinding



"rey.. rey... kau baik baik saja? "tanyaku menghampirinya. rey membuka matanya. dia meraih leherku dan memelukku.


"peluk aku saja"


"rey... "kataku takut namun dia tetap menahanku dalam pelukannya.


"hanya dua hari.. aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. jadi peluk aku"katanya.


"jangan bicara begitu. bukankah kita sudah ada penawarnya. aku akan panggilkan dokter untukmu "kataku menangis


"penawarnya hanya satu. aku sudah suruh dokter berikan untuk adi"katanya. aku menatap wajah rey yang masih berusaha tersenyum untukku sedang aku tengah menangis untuknya. maminya rey lalu bergegas untuk memanggil dokter keruangan adi dan meninggalkan kami disana.


"apa. rey terkena suntikan obat itu"kata papinya tak percaya dan begitu kaget. dia lalu segera meninggalkan ruangannya dan menuju rs rehabilitasi.


para perawat menarik rey dariku dan membawanya pergi kekamar isolasi. aku hanya menangis menungguinya diluar. kak mika berlari kecil mendapatiku dan aku segera memekuknya.


"kak... "kataku begitu sedih dan menangis keras dipelukannya.


"tenanglah.. tenanglah.. "kata kak mika ikut menangis.


riu menyiksa may hanya untuk mendapatkan informasi mengenai bahan penawar obat itu tapi may tetap tak mau memberitahukannya.


"non pulanglah. biar kami saja yang menjaga rey"saran papinya rey padaku yang masih duduk dilantai didepan ruangan isolasi itu.


" tidak om. aku mau disini. aku mau menemani rey. aku tidak akan meninggalkannya. "kataku sambil mengusap pipiku dan tak lama suara kegaduhan terdengar dari dalam. kami lalu bangkit dan melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


rey berteriak teriak. berusaha lepas dari borgol ditangannya. dia mulai berperilaku aneh disana.


hatiku begitu sakit melihatnya. serasa aku ingin berlari untuk memenangkannya. tak lama suster dan dokter berlarian mereka mencoba memberi obat penenang padanya hingga akhirnya dia kembali tenang.


"pi... anak kita pi..., lakukan sesuatu. mami gak mau rey jadi gila. rey itu satu satunya anak laki laki kita pi? "rintih maminya rey begitu kalut. kak mika mencoba mendekat untuk menenangkan maminya tapi secara spontan beliau mendorong kak mika kesal hingga kak mika menabrak meja dan perutnya terbentur. kak mika merasa kesakitan dan nyaris terjatuh.riu segera menangkapnya dan langsung meneriaki suster.


"kak mika... "kataku khawatir seraya mendekatinya.


"sakit sekali "katanya meringis. papinya segera mendekat dan membantu untuk mengangkat mika. maminya terdiam menyesali perbuatannya.


paul menemani papinya rey membawa kak mika kerumah sakit umum. aku melihat maminya rey menangis disudut ruangan. kedua anak mereka kini harus dalam kondisi yang menegangkan dan membuat semuanya menjadi khawatir. aku berjalan mendekati beliau. sangat pelan aku mencoba meraih tangannya. beliau menatapku. air matanya bercucuran. aku segera memeluknya dan kami menangis bersama disana.


dokter berusaha untuk meneliti sisa tetesan dari botol tersebut dan berniat untuk meramunya. butuh waktu yang lama untuk meneliti dan menyempurnakannya. sedang setelah sejam kemudian kami mendapat kabar kalau kak mika harus menjalani oprasi sesar segera.


aku segera menghubungi suaminya agar segera datang dan malam itu juga abang ipar rey langsung berangkat Kekota.


aku dan maminya rey tak tertidur semalam dan disaat pagi kami tertidur dikursi tunggu. samar samar aku mendengar sesuatu. aku terbangun dan mendekati ruangan rey.


aku melihat rey membentur benturkan kepalanya kedinding dibelakangannya. aku bergegas masuk dan aku gak sadar aku membuat maminya rey ikut terbangun.


"rey... rey hentikan. kepalamu bisa terluka"kataku seraya menahan kepala rey namun secara tiba tiba rey menggigit bahuku dengan sangat kencang dan aku berusaha menahannya.


maminya rey begitu terharu melihat kejadian itu. dimana aku harus menahan kepala rey dengan kedua tanganku dan membiarkan dia menggigit bahuku.


"suster tolong. suster... "teriak maminya rei dan perawat segera berlari dan melepaskan rey dariku.


"tolong jangan dekati pasien dulu. dia sedang mengalami proses kecanduannya. akan bahaya jika terlaku dekat. dia bisa berlaku kasar diluar sadarnya "kata parawat memperingatkan.


maminya rey membawaku keluar. kami duduk dan beliau memeriksa bahuku yang sudah memerah. aku menangis dan maminya mencoba mengusap usapnya. kami kembali menangis bersama.


"bagaimana jika rey akan menjadi gila, bagaimana harus Menghadapinya ? "


"jangan bikang begitu tante. rey akan sembuh"

__ADS_1


" bagaimana kalau dia tak bisa sembuh? "


"aku akan merawatnya. aku sangat mencintainya. aku takkan meninggalkannya"kataku dan maminya rey segera memelukku.


__ADS_2