
Sore itu setelah apel sore selesai, Rey bergegas masuk keruangannya dan mengemasi barangnya. Sebelum pergi dia memeriksa wanya. Rey menemukan bahwa semua pesan yang dikirim padaku hanya bertanda ceklis satu. Rey lalu bergegas keluar dan menuju mobilnya.
Saat Rey tiba didepan rumah ibuku yang pertama kali melihatnya dan menyambutnya dengan senyum.
"Hallo tante... lagi sibuk yah ?" sapa Rey basa basi saat melihat ibu membawa beberapa sayuran segar dari kebun belakang.
"Enggak juga, tante cuma petik sayur untuk makan malam nanti. "
"Begitu... ,oh yah tante nona ada gak yah? dari tadi saya wa tapi sepertinya hpnya tidak aktif"
"Ohh, dia sakit. Dari pagi hanya bisa tiduran. Untung Saja temennya yang dokter itu kesini. Terakhir ibu lihat dia sudah lebih baik. Sudah tidak demam lagi" terang ibuku dengan polosnya. Wajah Rey bagai tak senang saat mengetahui ada orang lain yang menemuiku. Tapi kemudian dia bergegas mencariku ke kamar.
"Non... " katanya setelah mengetuk pintu. Tak Lama aku membukanya dan mengajaknya duduk di balkon depan.
"Kamu sakit apa? kok gak bilang bilang" katanya seraya menjentuh jidatku
"Cuma demam. " jelasku singkat seraya menurunkan tangannya namun Rey masih saja menggenggamnya
"Maaf,, aku tidak ingin membuatmu khawatir. juga soal semalam. Aku benar benar minta maaf" kataku pelan seraya tertunduk. Rey tersenyum kecil lalu mengelus manis kepalaku.
"Besok mami ulang tahun. Mami buat acara kecil. " lapornya, entah mengapa aku enggan untuk tersenyum, yang ada hanya ada rasa takut untuk menghadapi maminya Rey.
"Besok aku jemput kamu jam 7 yah.. " kata Rey lagi. Aku melihat dia begitu berharap, tak ingin rasanya aku membuatnya kecewa lagi.
"Oh yah tadi tante bilang tadi ada dokter yang datang. Katanya teman kamu, Siapa? "
"Dia kenalanku saat kemarin beli obat di apotik. Dia dokter muda yang ramah. "
"Aku curiga... " kata Rey sedikit ngambek. Dia memalingkan pandangannya pada hamparan bunga di bawah. Aku mengerti mungkin dia cemburu. Aku lalu meraih tangannya lagi dan Menggenggamnya.
"Kenapa...? "
"Aku gak suka kamu dekat sama cowok lain. Dia bisa saja menyukaimu, atau kamu yang suka. Apalagi dia seorang dokter." terang Rey kesal. Aku tertawa kecil dan laLu memeluknya manja.
"Aku mana ada waktu menyukai cowok lain. Menyukaimu saja sudah sangat membuatku sesak nafas."
"Hei... " rey seolah tak terima dengan kata kataku. Dia sedikit mendorong tubuhku dan menatapku sedikit kesal.
"Apa aku begitu membuatmu menderita ?" cetusnya kesal
"Bukan.... maksudku, wajah tampanmu ini juga sangat membuatku kewalahan. Tentu banyak yang menyukaimu, dan bagaimana kalau kamu tergoda. Aku harus bagaimana ?"
"Kamu hanya perlu diam dan tenang. Karna aku hanya akan kembali buatmu saja. Kemanapun aku pergi, mau sama siapa pun. Cuma kamu tempat aku bakal balik. Jadi tolong jangan tebar tebar pesona saat aku tak ada didekatmu. Kalau sampai dokter muda itu mendekatimu aku akan mematahkan kakinya."
__ADS_1
"Dia bisa membalasmu, dia seorang dokter. Dia akan menyuntikkan obat obat yang bisa membuatmu menderita. "
"Loh kok kamu jadi belain dia? "
"enggak,,,,mana ada"
"Tu tadi barusan ngomong apa coba? memang kamu tega ninggalin aku demi dokter muda itu?"
"Enggak bukan gitu maksudnya" kataku coba membujuk rey yang mengambek habis.
"Jadi apa coba..,?"
"Aku cuma becanda.., kamu serius amat tanggapinnya. "
"Jeles tau... , awas aja ntar aku balas kamu. " kata rey lalu bangkit, berjalan meninggalkanku.
" Istirahat yah.. aku pulang" katanya berpamitan.
Malam itu adi tak bisa tertidur. Dia terus teringat dan terbayang akan wajahku. Seperti ada sebuah rasa tak iklas. Setiap x mengingatku merasa kesakitan dia semakin emosional. Adi lalu bangkit dari tempat tidurnya. Dia turun kelantai bawah menuju dapur. Adi mengeluarkan sebuah kaleng bir kecil dan meneguknya dengan cepat hingga habis seketika.
"Shitt... "katanya kesal sambil meletakkan botol kaleng minumannya diatas meja. Adi tertunduk dan berfikir sejenak. Tak lama dia mendengar hpnya berdering, ada telpon masuk dari Rey.
"Hallo " katanya segera
" Dirumah"
"Kedengarannya gak mood banget, kenapa? "
"Lagi sumpek aja"
"Keluar yuk. ketempat biasa"
"ok.. .,otw"
Rey dan Adi bermain bilyar bersama disalah satu tempat dipusat kota. Mereka sering kesana jika ada waktu. Yah mereka bertemu disana 4 tahun yang lalu.
"Besok mami rayain pesta kecil buat rayain ulang tahunnya. Mami minta aku ngundang kamu"
"Tante kondisinya udah gimana? "
"Yah semenjak nona pulang dan mereka bertemu, mami jadi dapat semangat baru. Sekarang sudah sangat sehat. Dia senang sama Nona, mereka sangat cocok"
__ADS_1
"Bagus... "
"Mami nyuruh aku melamarnya besok" terang Rey hingga Adi gagal fokus menembak bola terakhirnya.
"Shit... nyaris aja" kata Rey tersenyum kecil.
"Kamu yakin mau melamarnya? "
"Ehmm, Mami sama papi udah setuju. Aku juga gak mau lagi buang buang waktu. "
"Trus dianya gimana? "
"Dia gak akan nolak... "kata Rey begitu percaya diri. Adi meletakkan sticknya dan meneguk kembali sebotol bir.
"Kenapa?"
"Enggak papa.. cuma merasa kamu terlalu percaya diri. Dia baru balik, baru juga beberapa hari kalian bersama. Takutnya kamu melewatkan beberapa hal. Terlalu memburu kadang gak baik."
"Maksudku,, kenapa kamu tiba tiba jadi peminum begini? "
"Oh.. " Adi tersadar. Rey tersenyum kecil seraya menyodorkan sebotol bir lagi.
"Pasti lagi ada masalah. Gak mau cerita? "
"cuma lagi gak konsen aja"
"Soal apa? "
"Pasien... "
"Apa pasienmu itu sangat special sampai kamu harus begini? "
"Situasinya sangat rumit. Dia terlalu pesimis, nyaris sekarat dan akan segera fatal jika tak ditindak lanjuti."
"Baru kali ini aku melihatmu begitu terganggu dengan pasienmu. Kamu hanya perlu melakukan semaksimalmu. Lebih dari itu yah urusan Tuhan. "
"Masalahnya aku tak ingin dia mati" terang adi lagi. " Aku gak bisa tenang. Dia terus mengganggu fikiranku. Benar benar payah "sesal Adi sambil tertunduk. Rey terseyum seraya menepuk punggung Adi seolah sedang memberinya semngat.
"Aku tidak mengerti bagaimana membujuknya. Kamu ingat saat kamu datang ke klinik? aku bercerita soal seorang gadis yang membeli obat keras"
"Ehmm, apa dia pasienmu itu? "
"Hmm, kemarin kami bertemu lagi di highclass. Dia pingsan dan aku membawanya kerumah sakit. Aku begitu terkejut membaca hasil laporan Medisnya. sepertinya obat obatan itu mulai merusak syaraf dan motoriknya. Kalau masih dilanjutkan...., ahh. ....Entahlah. Dia bahkan sudah menyiapkan dirinya untuk mati."
"Mungkin dia menghadapi banyak masalah. jadi begitu pasrah"
__ADS_1
"Apa mati akan menyelesaikan masalah? "tanya Adi
"Kita gak bisa menebak hati dan fikiran seseorang. Jika dia bahkan tak mempermasalahkannya kenapa kamu begitu menghawatirkannya. Atau jangan jangan kamu menyukainya yah?" tebak Rey namun Adi tak berniat untuk menjawabnya lagi.