
Keesokan harinya aku menghabiskan waktu luangku ditoko untuk membantu Sherli. Hari itu Sherli harus menyelesaikan 10 karangan bunga yang dipesan salah satu perusahaan ternama di bidang kesehatan. Perusahaan itu akan mengadakan acara amal untuk penderita penyakit dalam.
"Sher nanti biar kakak saja yang temani kamu antar bunganya yah. Hari ini kakak gak ada acara, biar gak bosan ."
"Memangnya bang Rey gak ajak kakak keluar. Hari inikan malam minggu? "
"Enggak "
"Bang Rey tugas? "
"Bukan gitu, kakak cuma mau sendiri aja dulu. "
"Bang Rey baik.kakak memangnya gak serius sama bang Rey, bukannya keluarganya mau melamar kakak yah ?"
"Kamu dengar gosip dari Siapa? " tanyaku bingung. Sherli tertawa kecil sambil berjalan menjauh. Mencoba menghindar untuk tak menjawab.
"Bapak yah? " tebakku. Sherli melirikku sesaat dan kemudian tersenyum.
"Kamu gimana, kamu gak malam mingguan juga? " tanyaku balik gak mau kalah. Sherli cuma memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Masih jomblo? " tebakku dan kali ini dia nyengir dan tak lama Gabriel masuk sambil membawakan makanan pesananku sebelumnya.
"Ini yah.. " katanya sambil meletakkan bungkusan itu diatas meja.
"Yel.. nanti habis anterin bungan jangan lupa antar Sherli pulang yah, sekalian ajak kencan."
"Apa sih..? " Gabriel tampak sedikit protes.
"Jangan disia siain gitu. Nanti diambil orang baru kerasa loh." kataku mengingatkan. Gabriel melirik Sherli sesaat lalu menghampirinya.
"Yah udah, tapi nanti pakai dres yah. Biar cakep dikit."katanya. Sherli menatapnya bingung.
"Kenapa harus pake dress? "
"Aku mau keacara ulangtahun temen. " terang Gabriel sedikit cuex sambil berlalu berjalan menuju pintu.
" Kalau gak senang gitu juga lebih baik gak usah pergi. Aku juga gak minta kok." kata Sherli sebal. Gabriel menghentikan langkahnya dan membalik menatap Sherli dingin.
"Ingat harus cakep. Poles dikit tu muka biar agak fres. "
"Ogah... " kata Sherli sebal. Gabriel tak menghiraukannya dia lalu pergi meninggalkan toko.
__ADS_1
"Gitu tu kelakuan adek kesayangan kakak itu. Ngesok betul. "gerutu Sherli. Wajahnya tampak begitu sebal.
"Setidaknya malam ini kamu ada yang ajak jalankan."
"Kakak sih..., "
"Sudah, cepat tu beresin. Biar ntar sore sempat dandan. "
"Aku gak bisa dandan" jawab Sherli sebal sambil ikut ikutan pergi meninggalkan toko. Aku hanya tersenyum kecil. Aku tahu walau mereka selalu tak akur tapi Sherli selalu perduli pada Gabriel. Aku tahu diam diam dia sangat menyukainya. Hanya karna sikap Gabriel yang cuek dan tak banyak bicara akhirnya Mereka berdua tak ada perkembangan.
Hari itu maminya Rey juga memanggil salah satu ajudannya dan meminta ajudannya untuk menjadi mencari informasi mengenai Sonia. Tak perlu waktu lama untuknya mendapatkan informasi, juga tentang Sonia sebagai mantan kekasih Rey.
"Rey.. mami berencana buat umumin pertunanganmu nanti diacara ulangtahun mami, gimana menurutmu? " tanya beliau saat rey bersiap siap untuk keluar sore itu.
"Hm bagus.. "
"Kamu mau pergi kencan yah? "
"Iyah mi, rencananya mau ajak Nona dinner diluar" terang Rey seraya mengenakan jaketnya. Lalu berpamitan pada maminya.
Sedang ditempat lain, tepatnya diruang aula tempat acara amal akan diselenggaran. Aku sedang sibuk menata bunga. Sherli pamit lebih dulu untuk pulang. Katanya dia mau bersiap untuk pergi kencan dengan Gabriel adikku. Hari itu pekerjaan kami berjalan lancar dan tepat waktu sehingga aku punya waktu extra untuk menikmati pemandangan dari balkon didekat aula itu. Pemandangan dari gedung itu tampak sangat bagus. Angin berhembus dengan lembut. Ku biarkan rambutku merasakannya. Namun tak lama kesenangan itu buyar oleh kemunculan sosok dokter muda yang kemarin ada di apotik. Dia tersenyum dan datang menghampiriku.
"Hai... " sapanya ramah
"Hai... "
"Tokoku yang handle dekorasinya"
"Oh.. begitu. "
"Kamu...? "
"Cuma salah satu anggota pengisi acara, Sebagai pembicara "
"Oh... "
"Kenalin namaku Adi." katanya ramah sambil mengulurkan tangannya. Aku lalu menyalaminya.
"Nona "
"Nama kamu Nona? "
"Yah.. "
__ADS_1
"Oh yah, namanya bagus" puji Adi. Aku cuma tersenyum ramah. Dan tak lama aku mendapat telpon dari Rey.
"Aku permisi dulu" Kataku lalu berjalan agak jauh dari Adi.
"Lagi dimana? "tanya Rey tak sabaran.
"Ohh di gedung pertemuan Highclass. "
"Tunggu disitu yah, aku akan jemput"kata Rey lalu menutup telponnya dan tiba tiba aku merasakan tubuhku kembali tak stabil. Aku menabrak pintu kaca didepanku hingga Adi sedikit terkejut. Dan dengan sigapnya dia lalu menangkap tubuhku yang langsung ambruk tak berdaya.
Adi membawaku kesalah satu ruangan digedung itu dan memeriksa kondisiku dengan cekatan.
"Apa yang terjadi? " tanya salah seorang temannya yang ada diruangan itu lebih dulu. Adi tak menjawab, dia tampak sibuk dan bingung saat mendapati denyut nadiku terasa begitu lambat. Adi lalu memeriksa tasku dan mendapati obat obatan yang sebelumnya ku beli di apotik.
"Apa dia mengonsumsinya? " kata Adi pelan dan bingung dan gak lama temannya itu datang dan melihat jenis obat yang dipegang Adi.
"Dia ingin mati? " katanya heran. Adi pun tak tinggal diam. Dia lalu membawaku dari ruangan itu segera sedang tak lama kemudian Rey datang dan mencariku disana.
Adi dengan cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Begitu mobilnya parkir di depan pintu icu. Beberapa suster langsung datang menghampirinya. Mereka sedikit terkejut saat melihat Adi mengendongku keluar dari mobilnya dan berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan.
"Tolong cek ktpnya, apakah dia pernah dirawat disini sebelumnya." katanya pada salah seorang suster seraya menyerahkan KTP milikku yang diambilnya dari dalam tasku. setelah itu adi dibantu 2 orang suster melakukan pemeriksaan pada tubuhku yang sudah tak berdaya.
"Kamu dimana sih non? " fikir Rey yang begitu khawatir karna sejak dia sampai. Dia tak menemukanku disana. Ditelpon juga gak tersambung. Rey mencoba mencari kebeberapa tempat tapi tetap saja nihil. Rey merasa begitu kesal dan lalu meninggalkan tempat itu.
Malam itu tepatnya pukul 7 lewat 25. Gabriel dan Sherli memasuki halaman belakang rumah Siska. Sang taun putri yang sedang merayakan ulangtahunnya. Sejak pertama kali masuk. Sherli bisa merasakan tatapan yang tak mengenakkan dari beberapa tamu cewek cewek disana. Mereka mencibir Sherli yang begitu PD menggandeng Gabriel. Gabriel tak memperdulikan mereka. Dia fokus pada langkahnya dan menghampiri teman Temannya yang berkumpul didekat kolam renang.
"Eh iyel... " kata Siska menyambut ramah namun matanya bagai tak senang melihat Sherli.
" Selamat ulang tahun yah. " kata Gabriel memberi selamat seraya memberikan sebuah kotak sebagai hadiah ulangtahun. Siska tampak senang dan langsung mencium pipi kanan Gabriel didepan Sherli.
"Makasih oppa " katanya manja.
"Iyah.. "
"Dia siapa? " tanya Siska kemudian seraya melirik ke arah Sherli.
"Namanya Sherli"
"Cewek baru lagi? " tebak siska. Sherli merasa sebal dan menatap Gabriel segera.
"Bukan... "
__ADS_1
"Jadi kamu masih sama anak ketua dpr itu? kalau dia sampai tahu kamu datang sama cewek lain. Dia bisa meledak. " kata Siska sok lucu tapi Sherli bagai tak perduli dia memalingkan wajahnya sambil seolah olah sedang menikmati acara itu.