
Maminya Sonia berteriak saat dia melihat Yuna tak sadarkan diri dibawah tempat tidurnya dengan mulutnya yang mengeluarkan buih. Yuna sudah menelan sejumlah obat tidur hingga kelebihan dosis. Sonia buru buru keluar dari ruang makan saat dia baru saja menikmati sarapannnya.
Mereka segera melarikannya kerumah sakit dan menunggunya dengan sangat khawatir. Yuna merasa begitu malu hingga tak sanggup untuk menghadapi kenyataan dan juga menghadapi semua orang yang mengetahui kejadian tersebut. Sonia ikut terpukul dengan kejadian itu.
Maminya Rey berjalan agak cepat memasuki rumah sakit bersama suaminya. Mereka menuju ruangan Rey tapi Rey tak ada disana. Mereka begitu bingung hingga akhirnya suster memberitahu kalau Rey berada diruangan yang lain. Kedua orangtuanya Rey lalu menuju ruanganku. Mereka melihat Rey tengah duduk menungguiku. Dia tak tertidur semalaman, hanya memegangi tanganku menungguku terbangun.
"Rey... " panggil papinya dan mereka begitu terkejut saat melihat bahwa sosok yang ada diatas tempat tidur dan belum sadarkan diri itu adalah aku.
"Rey.... " panggil papinya sekali lagi. Rey lalu menatap mereka. Ada luka yang begitu tampak jelas diwajahnya. Luka ditubuhnya juga luka dibatinnya. Papinya lalu mendekat dan memeluknya. Rey menangis seketika.
Maminya Rey melangkah keluar. Dia tak bisa berkata apa apa dan tak lama bapak muncul dan mereka berpapasan didekat pintu. Mereka sama sama tertunduk pertama dan kemudian bapak memberanikan diri untuk menatap beliau.
"Dia gak salah.. dia gak pantas untuk menerima semua beban karma yang kamu nantikan ini. Ana..., aku benar benar meminta maaf. Kalau pun kamu tak bisa memaafkanku. Ku mohon cukuplah karma itu untukku saja. " kata bapak. Maminya Rey hanya diam dan lalu dia pergi.
Sonia menghadang jalan Gabriel saat dia melibat Gabriel melewati Ugd dan seketika Sonia menamparnya.
"Lihat... lihat apa yang kamu lakukan? " bentak Sonia kesal tapi Gabriel tak perduli.
"Kamu benar benar keterlaluan. Tidak punya perasaan. " bentak Sonia penuh amarah
"Bukankah sekarang kita impas. Karma kembali pada tuannya" kata Gabriel begitu tenang.
"Yuna tak salah"
"Jadi menurutmu apa salah kakakku? apa salahnya sampai dia harus dipermalukan seperti itu? apa salahnya sampai dia harus menderita penyakitn jahanan itu? apa salahnya hingga Tuhan ingin mengambil nyawanya?" bentak Gabriel kesal hingga membuat Sonia terdiam menatapnya
"Dia gak salah apa apa" kata Gabriel lalu melangkah pergi. Sonia terdiam sebelum akhirnya dia mengikuti Gabriel. Sonia melihat Rey dan papinya baru keluar dari salah satu ruangan. Sonia mendekati ruangan itu dan memberanikan diri untuk masuk.
Sonia begitu terkejut. Airmatanya terjatuh melihatku tak berdaya disana. Sonia mendekat dan tak tahu harus berbuat apa. Sonia menangis.
"Dia kritis... " kata Adi yang juga ada diruangan itu. Sonia menatapnya seolah meminta penjelasan.
" Dia hanya memikirkan kebahagian kalian. Dia tak pernah memikirkan dirinya sendiri." terang Adi lagi. Sonia merasa tak kuat. Dia lalu berlari keluar dan menangis disana.
__ADS_1
Sonia merasa begitu syok dengan semua kejadian tak terduga. Disatu sisi dia memikirkan adiknya dan disisi lain dia memikirkanku yang nyaris tak bertahan.
Rey mandi, berharap air yang mengguyur tubuhnya juga akan membuang semua kesedihan dan masalahnya.
"Besok aku akan mendonorkan sebelah ginjalku untuk Nona. Aku tak bisa memprediksi hasilnya. Kemungkinanmya sangat tipis karna sebagian organnya sudah mulai tak berfungsi dengan baik. Walaupun begini kamu tak perlu merasa berhutang nyawa. Saat ini sangat sulit mendapatkan pendonor yang cocok dengannya. Jika oprasi ini berhasil suatu saat kamu harus membayarnya. " kata Adi sebelumnya. Rey segera berpakaian dan berniat meninggalkan rumah.
"Rey... " panggil maminya saat Rey menuju ke pintu.
Rey berbalik dan menatap maminya.
"Kamu mau kemana? kamu belum sembuh, istirahatlah"
"Apa menurut mami hatiku bisa tenang jika berada disini sedang dia sedang melawan kematian disana? "
"Rey.... "
"Mami... , mami bisa minta apa saja dariku. Mami bisa suruh aku apa saja untuk senangkan hati mami. Tapi,,, jangan suruh aku untuk berhenti menyayanginya mi. Mami tahu aku sangat sangat mencintainya. Aku sangat mencintainya mi. Aku gak sanggup. Aku gak bisa kalau harus kehilangannya."
"Rey... "
"Aku meminta ini padamu karna aku tahu kamu pasti memilih jalan yang terbaik. Kebahahian keluargamu dan juga kebahagian Ana ada ditanganmu. Aku takkan memaksamu" papinya Rei teringat kejadian 30 tahun silam saat dia menyampaikan peringatan pada bapak.
Sherli melihat Gabriel duduk bersandar disalah satu kursi panjang didepan ruanganku. Sherli bisa melihat kalau hati dan fikiran Gabriel sedang kacau. Sherli datang dan menghampirinya.
"Pulang dan istirahatlah dulu" saran Sherli. Gabriel hanya meliriknya dan Sherli lalu duduk disampingnya.
"Pulanglah.. aku akan jaga disini. Aku akan mengabari kalau ada apa apa" bujuk Sherli lagi. gGabriel lalu pergi tanpa berpamitan. Sherli hanya memandanginya dari belakang dan selang beberapa waktu kemudian Rey muncul disana.
__ADS_1
Rey berjalan tak memperhatikan sekitarnya. Sehingga dia tak melihat ada Sonia dan keluarganya disana. Sampai akhirnya dia berpapasan dengan Sonia.
"Kamu sudah tahu? " tanya Rey dan Sonia hanya mengangguk kecil. Sonia tak berani menatap Rey hingga sampai maminya Sonia memanggilnya dan menghampiri mereka.
"Tante... "sapa Rey
"Nak Rey kok bisa kesini"
"Nona dirawat disini. Dia sakit parah" jelas Sonia.
"Kebetulan sekali" kata maminya pelan
"kebetulan bagaimana? "
"Yuna juga dirawat disini. Dia meminum banyak obat hingga overdosis"
"Apa.. ?" Rey tak percaya.
"Ceritanya panjang. Tapi keadaanya sudah lebih baik. "
"Ehmm"
"Kamu kesini pasti untuk melihatnyakan. pergilah... "kata Sonia. Rey pun lalu melanjutkan langkahnya dan menuju keruanganku. Tampak Sherli ada disana menemani ibu.
"Bagaimana, apa dia sudah sadar? " tanya Rey. Sherli hanya menggeleng. Rey lalu berjalan masuk. Ada Adi disana.
"Bukankah kamu harus siap siap untuk menjalani operasi? "
"Aku hanya ingin meyakinkan kalau dia baik baik saja"
"Aku akan membayar ginjalmu" kata Rey. Adi lalu menatapnya dan diam sejenak.
__ADS_1
"Aku tidak akan menjadikannya cuma cuma. Jadi kalau operasi ini berhasil tolong berhentilah menjadi rivalku. Itu kalau kamu masih menghargai pertemanan kita "kata Rey. Adi tak menjawabnya. Dia lalu pergi meninggalkan ruanganku.