The Oldest Blossom

The Oldest Blossom
sesaat sebelum kesakitan itu tiba


__ADS_3


"Pagi.... " sapa Sherli setibanya didepan pintu rumah. Gabriel yang sedang menemani Gamboo bermain lalu menatapnya. Sherli tampak manis mengenakan dres yang ku belikan untuknya.


"Aku cuma mau ngantar ini" katanya sambil menyerahkan sebuah paperbag.


"Tolong kasih ke kak Nona yah. Itu make up. Nanti malam kak Non mau ke pesta katanya. "


"Ehmm. "


"Ya udah aku balik ke toko dulu. "


"Hei tunggu dulu." cegat Gabriel sebelum Sherli membalik.


"Ehmm., kita bareng aja. Aku juga mau keluar" kata Gabriel memberi alasan.


Gaabriel lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi. Sherli pun lalu naik setelah berpamitan kepada bapak dan ibu yang pagi itu duduk santai diteras rumah.


"Tumben... "kata Gabriel membuka pembicaraan. Sherli yang merasa bingung segera meliriknya seolah meminta penjelasan.


"Hari ini pakai dresss. "


"Ehmm, ini oleh oleh yang dibawakan kak Non. Sayang juga kalau cuma disimpan"


"oooo"


"Kamu juga tumben"


"Tumben apanya? "kini giliran Gabriel yang bingung sambil melirik Sherli sebentar


"Tumben kamu baik, nganterin aku. Biasanya juga dibiarin. Biasanya juga tega" keluh Sherli sedikit malu dan takut. Gabriel menatapnya lagi


"Emang sejahat itu yah"


"Ehmm, aku sebal banget kalau kamu marah marahin aku kalau aku datang telat bentar aja. Apalagi waktu kamu nyuruh aku nunggu kamu malam malam. Kehujanan sendirian didepan toko. "


"Ehmm. " hanya itu tanggapan Gabriel. Sherli meliriknya tak percaya. Expresi Gabriel masih biasa aja sambil fokus menyetir.


"Dia ngerti apa enggak sih? percuma juga di curhatin, gak di tanggepin sesek tahu" protes Sherli dalam hati dan tak lama mobil berhenti. Sherli sadar Mereka sudah sampai didepan toko.


"Makasih" singkat Sherli sambil membuka pintu mobil dan lalu menutupnya.


"Nanti sore cepat pulang yah. Kita makan diluar" kata Gabriel tiba tiba setelah membuka kaca mobil. Sherli meliriknya segera.


"Pakai dres... "


"Cuma makan aja kok harus pakai dres. Aku gak punya" protes Sherli blak blakan. Gabriel tak berkomentar, dia lalu menutup kaca mobil dan pergi begitu saja. Sherli merasa sedikit kesal karna Gabriel selalu bersikap seenaknya. Tapi setelah beberapa langkah. wajahnya tersenyum, dia merasa baper karena ternyata Gabriel baik mau mengajaknya makan malam.


"Dokter tolonglah... aku sangat memerlukan bantuanmu" kata Adi melalui vidio call pada salah satu dokter senior diluar negeri. Dokter Steve berfikir sejenak sebelum akhirnya dia menyetujui permintaan Adi. Adi merasa begitu gembira. Setelah dia mengakhiri komunikasi itu, Adi lalu keluar dari rumah sakit menuju kerumahku.


"Adi... " kataku tak percaya saat melihatnya keluar dari mobilnya. Adi berjalan sedikit cepat menghampiriku yang sedang membaca buku diteras depan.


"Gimana kabarmu?"tanyanya pertama


"Ehmm baik.. duduk dulu " kataku segera mempersilahkannya untuk duduk disebelahku


"Ada apa? "tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Aku punya kabar buat kamu"


"Kabar apa? "


"Kalau kamu setuju, aku akan sumbangkan ginjalku buatmu." kata Adi blak blakan. Aku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya.


"Aku punya senior yang siap membantu. "


"Kamu jangan gila, jangan mengambil resiko sebesar itu hanya untukku. Aku gak pantas menerimanya"


"Kenapa? "


"Karna itu gak mungkin. Kita baru saja kenal. Kenapa kamu harus menawarkan dirimu hanya untuk menolongku. Aku bukannya tidak tahu terima kasih. Tapi.. aku tak mau membawamu kedalam masalahku. "


"Aku serius... " aku terdiam saat melihat mimik keseriusan diwajah Adi. Aku lalu bangkit mendekati pagar kayu mencoba berfikir Kenapa Adi begitu bodohnya menawarkan ginjalnya serta membahayakan nyawanya hanya untuk menyelamatkan aku yang baru saja dikenalnya. Aku teringat bagaimana Sonia dulu menyelamatkanku hingga dia harus terluka.


"Non.. " Adi datang mendekatiku


"Aku gak main main. Aku tahu ini bisa saja membahayakanku. Tapi aku gak bisa tenang. Aku terus memikirkanmu. "


"Adi...., maaf.. aku tahu niatmu baik. Sungguh aku sangat berterima kasih. Tapi aku gak mau seumur hidupku harus berhutang nyawa. Aku gak mau mengulAnginya dua kali. Kalau Tuhan memang berkehendak aKu harus mati. Aku iklas" kataku lagi menolak, Adi terdiam. Dia bagai kehilangan semua semangat yang tadi membakar hatinya.


"Kamu orang yang baik. Aku besyukur mengenalmu walau hanya di sisa akhir ini. "kataku lagi dengan mata berkaca kaca. Namun setelah agak lama aku mencoba menahan air mataku akhirnya air mata itu jatuh juga. Adi menyekanya perlahan, aku cuma bisa tertunduk, tak ingin membiarkan moment itu menggentarkan hatiku.


"Kakak cantik banget, mau kemana?"tanya Yuna saat melihat Sonia merias wajahnya didepan cermin.


"Mau kepesta ulang tahun maminya kak Rey"


"Apa....? aku gak salah dengar? bukannya kalian udah putus yah kak?"


"Iyah.. tapikan putus bukan berarti harus musuhan. "


"Kakak udah cantik blom?" tanya Sonia sambil berbolak balik dihadapan adik bungsunya itu.


'Cantik sih.. tapi sayang... "


"Sayang kenapa? " tanya Sonia penasaran sambil menatap Yuna yang sedikit tersenyum


"Sayangnya kalian udah putus" ledek Yuna segera sambil tertawa kecil


"Dasar kamu ini ya.. "Sonia berlari untuk mengejar Yuna. Tapi dengan gesitnya Yuna berhasil kabur dari kamar kakaknya itu.


Sedang ditempat lain saat Sherli baru saja sampai kerumah dengan wajah lelahnya. Dia dikagetkan saat mendapati ada paperbag dari salah satu butiq yang diletakkan didekat meja didekat kamarnya.


"Tadi nak Gabriel kesini. Katanya itu buat kamu" terang ibunya Sherli saat beliau sedang menyiapkan makan malam didapur didekat kamar Sherli. Sherli yang penasaran dengan segera membuka paperbag itu untuk melihat isinya


Sherli mendapati sebuah dres pensil berwarna merah. Dresnya sangat bagus, Sherli dengan segera masuk kekamar mandi tepat sebelum kakaknya masuk kedalam.


"Sherli.... "protes kakaknya kesal setelah Sherli menutup pintu kamar mandi


"Sori.. lagi buru buru.. "teriak Sherli dari dalam.


Malam itu sekitar jam 7. Aku merias sedikit wajahku yang agak pucat dengan make up. Agak lama aku memandangi wajahku dicermin. Hatiku terbang melayang memikirkan reaksi maminya Rey. Apakah dia marah, apakah dia akan senang melihatku lagi, atau apakah sikapnya akan berubah dan berbalik tak merestui hubunganku dengan Rey?


"Oh Tuhan, kenapa engkau cobai aku seperti ini. Apakah aku yang harus menerima karma dari kesalahan dimasa lalu bapak. Dan kenapa aku serasa tak iklas jika harus melepaskan Rey, dan kenapa harus dalam keadaanku yang seperti ini?" keluhku dalam hati. Ingin sekali aku menangis tapi aku tak ingin merusak tataan riasan diwajahku. Aku kemudian turun setelah mendengar suara mobil Rey memasuki gerbang rumah.


"Om, tante kami berangkat dulu yah" pamit Rey begitu sopan sebelum kami berangkat. ayah dan ibuku tersenyum seraya melambaikan tangan mereka hingga kami pergi melewati gerbang.

__ADS_1


"Kamu cantik hari ini"puji Rey tak lama kemudian


"Apa hanya hari ini saja? "


"Bukan.. tapi setiap hari. "


"Kamu kayanya seneng banget"


" Mami ulang tahun, tentu harus happi dong. Oh yah mami bilang mami juga ngundang Sonia"


"Sonia... ?" tanyaku dalam hati seolah tak percaya. Hal itu seperti sebuah peringatan dan pertanda yang membuat hatiku semakin tak karuan.


"Aku juga mau kenalin kamu sama sohibku. Dia juga seorang dokter."


"Oh... "


Malam itu Gabriel datang tepat jam 7.30. Sherli sudah siap sejak beberapa menit yang lalu. Begitu mendengar suara mobil parkir didepan rumahnya Sherli langgsung keluar dari kamarnya


"Hari ini hari apa? " kata kakaknya Sherli tak percaya saat melihat Sherli menghampiri Gabriel yang baru turun dari mobilnya.


"Kamu sudah datang" kata Sherli sambil tersenyum. Gabriel bagai tak mengacuhkannya dan berjalan menuju rumah Sherli.



"Bu ijin dulu yah. Mau ajak Sherli keluar. nanti malam akan segera saya antar pulang" kata Gabriel meminta ijin. Sherli yang pertama merasa kesal karna tak diacuhkan berubah luluh dan meleleh melihat sikap sopan Gabriel


"Iyah nak Gabriel. Hati hati yah" kata ibu Sherli bahagia. Gabriel lalu meninggalkan mereka dan mengajak Sherli pergi segera.


"Kok senyum senyum sendiri? " tanya Gabriel saat diperjalanan


"Enggak, salut aja lihat kamu sopan begitu sama ibu. Pacarnya kakak saja gak pernah begitu. "


"Jadi kamu lebih suka nih kalau aku jemput di pinggir jalan? "


"Bukan gitu.. aku cuma terharu.. "


"Kamu kelihatan banget gak pernah diapelin" ledek Gabriel sambil tersenyum kecil, sedang Sherli lalu diam bagai sedang malu dan kesal.


"Kamu suka makan apa? "tanya Gabriel lagi agar Sherli tak cemberut


"Terserah.. apa aja juga boleh. Hanya jangan ajak aku makan d restoran. Aku gak bisa table manner"


"Tuh kan makin kelihatan gak pernah kencan. "


"Apa sih... " kini Sherli mulai protes


"Iyah.. kamu pasti gak pernah diajak kencankan. Table manner aja gak bisa"


"Bukan gitu, yah aku gak suka aja makan pake sendok ama garpu. Trus mehong gitu. Mending juga makan dipinggir jalan tapi murah dan bikin kenyang"


"Iyah iyah.. gak usah ngamuk Kenapa"


"Aku gak ngamuk... "


"Nah trus itu apa namanya ?"


"Yah kan aku cuma bilang pendapatku doang. Aku kan beda sama kamu. Beda sama semua cewek yang pernah kamu ajak jalan. Yang kamu ajak makan di restoran pake sendok garpu. "

__ADS_1


"Kamu cewek pertama kok" Sherli terdiam mendengar hal itu. Sherli lalu menatapnya tak percaya


"Masa iya? "tanya Sherli penasaran tapi Gabriel tak ingin menanggapinya.


__ADS_2