
Rey menatapku dari jauh. Dia melangkah perlahan mendapatiku yang sedang berdiri menunggunya ditaman didekat rumah sakit dan tak lama setelah dia sampai dia lalu memelukku.
"Maaf..., semua itu diluar dugaanku. Aku tidak tahu kalau mami akan bertindak seperti itu. "kata Rey berusaha menjelaskan. Aku lalu melepas pelukanku dan menatapnya.
"Tuhan.., aku tak sanggup menyakitinya. Tapi dia lebih baik kehilangan aku karna rasa benci dari pada harus kehilangan aku dengan bersedih. " teriakku dalam hati.
"Bagaimana lukamu? " tanyanya seraya memperhatikan kedua tanganku yang masih diperban.
"Sudah lebih baik"
"Maafkan aku.. " katanya sekali lagi merasa bersalah.
"Kamu jangan pernah merasa bersalah. Karna ini bukan kesalahanmu dan kamu jangan pernah marah karna aku hanya ingin melihatmu bahagia. " kataku pertama lalu mencoba tersenyum.
"Kalau diingat ingat dari awal kita memang sudah tak dijodohkan. Bahkan hingga kita berada disituasi saat ini. Terlalu banyak hal yang membuat kita tak bisa bersama. "
"Non... "
"Dengarkan aku saja.. " potongku sebelum Rey berbicara lagi. Aku lalu mengangkat tanganku dan menyentuh pipi kanan Rey.
"Aku juga gak pernah bilang kalau aku mencintaimukan? tapi... aku benar benar sayang. Buatku tak penting jika kita berjodoh atau tidak. Hanya asal ada aku dihatimu saja. Itu sudah sangat membuatku bahagia. Rey... ku mohon, jangan pernah menyalahkan tante, karna rasa sakit yang kita rasakan saat ini adalah rasa sakit yang dirasakannya dulu. Jangan pernah menyalahkannya karna memang tante gak salah. Aku ingin kamu bahagia. "kataku sambil sesekali meneteskan air mata dan saat aku ingin menarik tanganku Rey segera menahannya dan menatapku. Aku bisa melihat kepedihan disana.
"Akan ku minta pada Tuhan agar aku takkan pernah melupakanmu karna walau hanya sebentar kebersamaan ini tapi ini sangat membuatku bahagia. Aku sangat bahagia karena cintamu"kataku lagi lalu menarik kembali tanganku dan tertunduk.
"Aku harus pergi... aku kesini hanya ingin menyampaikan salam perpisahan. "kataku lalu kembali menatap Rey.
__ADS_1
"Non... " suara Adi terdengar jelas. Rey menatapnya sesaat dan saat aku baru berbalik Rey meraih tanganku kembali.
"Ini bukan karna dia kan? " tanya Rey, aku tak bisa menjawabnya lagi. Aku merasa begitu tak sanggup. Aku meneteskan air mataku sebanyak mungkin dan menahan suara tangisku. Aku tak ingin Rey melihatku menangis. Berat se x buatku untuk meninggalkannya. Adi lalu datang mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Kita harus pergi " katanya, perlahan aku melepas tanganku dan meraih tangan Adi. Rey hanya terdiam. Tak terasa setetes air mata mengalir dipipinya. Adi datang merangkulku dan segera membawaku meninggalkan Rey disana.
Setelah sampai didalam mobil. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku menangis disana. Adi diam sesaat dan sesaat kemudian dia memelukku. Dia memberiku waktu untuk menikmati semua rasa sakit dihatiku agar aku puas.
Rey melangkah perlahan. Dia masih belum bisa menerima. Hatinya begitu terasa sakit. Rey lalu masuk ke dalam mobilnya dan membawanya pergi dengan kencang seolah dia ingin melepas semua amarah dihatinya.
"Kamu seneng gak? " tanya Gabriel pada Yuna yang sedang bersandar dipundaknya. Yuna menggenggam erat tangan Gabriel sambil mengibas ngibaskan kakinya kedalam air. Gabriel bisa menebak kalau Yuna tampak nyaman dan bahagia. Diam diam Gabriel menatapnya sinis ada dendam yang juga ingin dilepaskannya.
"Oh yah.. besok kamu ada live yah.. "tanya Yuna sambil menatap Gabriel.
"Ehmm, besok valentine. Aku mau buat siaran langsung."
"Ehmm ide bagus"
Adi merasa kesal sendiri diruangan kerjanya. Dia kehabisan cara untuk membujukku agar aku mau menjalani pengobatan. Sedang aku tengah bersiap siap untuk pulang.
"Non.. tunggu sebentar yah. Bapak sama ibu mau pamitan sama nak Adi"
"Ehmm. " balasku patuh sambil tersenyum. Bapak dan ibu lalu berjalan keruangan Adi dan menemuinya disana.
"Nak Adi.. sekali lagi trimakasih yah, nak Adi sudah banyak membantu" kata bapak yang berdiri dihadapan Adi didekat meja kerjanya.
__ADS_1
"Nona sudah menunggu. Kami akan pulang" kata bapak lagi. Adi merasa kian kacau dan berfikir untuk mengatakan kebenarannya pada kedua orangtuaku sebelum mereka pergi.
"Pak.. "panggil Adi menahan mereka.
"sebenarnya, ada yang harus kukatakan"kata Adi. Bapak dan ibu lalu membalik dan mendengarkan penjelasn Adi seksama. Bapak dan ibu sangat terkejut dan ibu sampai menangis karna tak menyangka akan separah itu.
"Dia mengonsumsi obat obatan yang mengurangi rasa sakitnya namun sekaligus perlahan merusak tubuhnya. Nona tak ingin kalian tahu soal hal ini. Dia tak ingin membuat kalian sedih. Tolong bersikaplah seperti biasa hingga dia pulih. Saya akan cari cara untuk membujuknya agar mau menjalani pengobatannya sebelum berakibat fatal. " pinta Adi..
Bapak dan ibu kembali kekamarku. Saat melihatku tersenyum menyambut mereka. Air mata bapak terjatuh begitu juga dengan ibu.
"Bapak sama ibu kok nangis? " tanyaku khawatir tapi mereka segera menyeka air mata mereka dan tersenyum.
"Nak Adi menyarankan agar kita berlibur dulu. Bapak tersadar sudah sangat lama kita tak berlibur. Bapak sangat merindukan bisa berlibur bersama. Bapak dan ibu sudah sepakat. Kita akan berlibur" kata bapak, aku merasa lega lalu meraih tasku dan kami pun lalu meninggalkan rumah sakit segera.
Rey mencoba menyibukkan dirinya agar bisa melupakan perasaannya yang sedang hancur. Dia keluar dari rumah dengan pakaian biasa dan bergerak menuju daerah gudang tua itu.
Rey berusaha untuk mendapatkan beberapa informasi dari beberapa masyatakat disana tanpa dia sadari ada salah seorang dari anggota komplotan itu yang ada disana dan dia langsung memberitahukan informasi itu pada atasannya.
"Besok datang kealamat ini. Aku akan suruh Tom menyemputmu kerumahmu jam 7" kata Gabriel seraya meletakkan 2 bungkusan diatas meja kerja Sherli. Sherli bingung dan melihat isinya. Ada sepatu hills dan juga dress berwarna pink muda.
"Aku sudah booking salon untukmu besok. Aku akan kirim alamatnya"
"untuk apa? " tanya Sherli bingung sebelum Gabriel pergi.
"Lakukan saja, yang jelas aku takkan mencelakaimu" terang Gabriel lalu pergi meninggalkan toko. Sherli kembali duduk. sikap Gabriel yang tak terduga membuatnya sedikit kesal. Sherli lalu kembali mengeluarkan dres tersebut dan memandanginya.
__ADS_1
"Cantik sekali" fikir Sherli dalam hati.