
Aku membuka layar kunci hpku. Aku melihat beberapa panggilan masuk dari Rey, juga beberapa pesan WA. Aku bisa melihat kekahwatiran dan kehilangannya dari setiap pesannya tapi aku sadar bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Aku menutup kembali hpku dan meletakkannya diatas meja. Setetes air mata jatuh dipipiku, aku merasa terjebak dalam situasi yang begitu rumit. Aku mengangkat sedikit lututku dan menyandarkan kepalaku disana. Aku menangis seraya menahan suaraku. Ingin sekali aku berlari dan memeluk Rey. Ingin sekali aku mengatakan bahwa aku begitu mencintainya. Inginku memeluknya dan tak melepaskannya.
Adi menahan langkahnya saat dia baru saja ingin masuk. Dia melangkah mundur dan menyembunyikan dirinya dibalik pintu.
"Nak Adi... " sapa ibuku yang juga baru datang tapi Adi segera menahannya disana
"Eh bu.. Nona sudah tertidur sebaiknya jangan di ganggu lagi. "
"Ibu fikir ibu akan tinggal disini untuk menemaninya malam ini "
"Ibu pulang saja, saya yang akan menjaganya. "
"Nanti nak Adi jadi repot"
"Enggak kok bu, tenang saja. Kebetulan saya mau mengecek kemajuannya. Saya juga ada beberapa tugas malam ini. Ibu tak usah khawatir"
"Begitu yah... baiklah. Maaf yah nak Adi. Maaf jadi merepotkan begini. Kalau nanti ada apa apa kabari tante yah"
" Tentu saja" kata Adi hingga akhirnya ibuku merasa tenang dan mau untuk pulang. Setelah itu Adi mengetuk pintu kamarku. Aku segera menyeka air mataku.
"Ibumu bilang kamu gak suka makanan rumah sakit. Jadi ku buatkan sesuatu untukmu" kata Adi sambil menunjukkan makanan yang dibawanya. Aku masih diam mencoba menenangkan diriku. Adi kemudian menarik mejaku dan menyiapkan makanan yang dibawanya.
"Makanlah.. " katanya setelah menyajikan makanan itu diatas meja kecil.
"Aku sedang tak ingin makan"
"Begitu yah.. sayang se x" kata Adi sedikit kecewa. Aku merasa tak enak. Adi sudah begitu baik membawakannya jika aku tak menghargainya tentulah dia akan sangat kecewa.
"Aku akan makan sedikit " kataku segera dan seketika wajah Adi berubah. Dia segera mengambil sendok dan menyuapiku sedikit demi sedikit.
"Kalau ingin menangis pun harus punya tenaga. Jadi makanlah sedikit supaya kamu bisa melanjutkan tangisanmu" kata Adi meledekku dengan wajah sok seriusnya.
"Jangan mengejekku"
"Aku serius..., oh yah tadi Rey kerumahku, dia mencarimu, tapi tenang saja aku gak bilang kamu disini. Aku gakkan tega liatin kamu ketemu dengannya dalam keadaan kacau begini"
"Ternyata selain jadi dokter kamu juga punya keahlian jadi pelawak" kataku sedikit kesal. Adi tertawa kecil.
"Aku lebih suka kamu yang marah begini." terangnya hingga membuatku terdiam dan malu.
"Mungkin kalau aku yang minta gakkan berpengaruh buatmu. Tapi fikirkanlah, setidaknya kamu harus berusaha untuk sembuh. Jangan mau kalah dengan semua ini"
"Apa dengan makan saja cukup untuk menang? "
"Kenapa tidak? asal kita punya iman, walau hanya sebutir nasi jika kita percaya, kita akan sembuh"
__ADS_1
"Sekarang kamu seperti pendeta berkothbah untukku"
"Aku bisa jadi apa saja untukmu. Asal jangan banci saja. "
"Dasar... " aku sedikit tertawa. Adi pria yang pandai menguasai keadaan. Menambah sedikit kegembiraan dalam hidupku dan selagi kami bercanda Adi terus menyuapiku hingga semua makanan itu akhirnya habis.
Keesokan harinya Rey kembali bekerja. Hari itu dia mengikuti salah satu pertemuan untuk membahas strategi. Mereka akan mengeledah sebuah gudang tua yang sudah lama mereka curigai melakukan aktifitas jual beli narkoba. Rey mendengarkan arahan seniornya dengan baik bersama rekannya yang lain.
Rey yang bergabung dalam kesatuan intel bertugas untuk memantau dan memata matai selama beberapa hari kedepan untuk mengumpulkan beberapa bukti dan gambaran dari situasi digudang itu.
"Kamu dimana, aku ingin bicara" pagi itu aku membaca pesan terakhir dari Rey. Mungkin tak baik jika aku menghindarinya begini. Aku lalu mengetikkan sesuatu dan kemudian mengirimkannya segera.
Rey segera membuka Hpnya saat notifikasi nada wanya berbunyi. Ada satu pesan yang baru saja ku kirim.
"Saat ini kita tak bisa bertemu. Aku perlu waktu. Bekerjalah dengan baik. "
"Kapan kita bisa bertemu? "
"Aku tidak tahu..., "
"Ku mohon.... " pesan Rey itu membuatku merasa tak enak hati dan sebelum aku membalasnya Adi masuk beserta salah seoarang perawat yang mengikutinya.
"Sepertinya kondisimu sudah semakin membaik. Setelah benar benar pulih kamu
jalani terapi. Aku sudah siapkan semuanya"
"Di..., tolong jangan begitu repot mengurusku. Aku tak mau menyusahkanmu"
"Jadi kamu lebih memilih untuk mati dari pada menjakani pengobatan ?"
"Kita sudah pernah membicarakannya"
"Baiklah kalau kamu mau begitu. Aku takkan memaksamu" kata Adi dengan nada kecewa lalu pergi. Aku menghela nafas panjang. Kenapa laki laki ini begitu gigih dan kenapa aku selalu mengecewakannya. Sesaat kemudian aku teringat pada Rey. Aku kembali meraih hpku dan begitu terkejut saat melihat durasi panggilan.
"Apa Rey mendengar semuanya? " fikirku khawatir setelah memutusnya.
"Hei... "sapa Riu saat Rey berjalan perlahan sambil tertunduk.
"Sedang memikirkan apa? " tanya Riu seraya berjalan keluar dari ruangan itu.
"Hanya soal pekerjaan"
__ADS_1
"Ku dengar target x ini sangat penting. Ku dengar dia juga tak segan untuk melawan. "
"Ehmm. "
"Harus hati hati,"
"Ok... "
"Ini pesanan kakak, sudah ku bawakan semua" kata Sherli sambil menyerahkan sebuah paperbag berisikan pakaian baru.
"Makasih yah.. "
"Kakak yakin mau ketemu bang Rey?"
"Ehmm sudah kakak fikirkan. Kakak lebih baik menemuinya dan memutuskan hubungan kami."
"Bang Rey pasti sangat patah hati "
"Dia lebih baik patah hati dari pada mengetahui keadaan kakakkan? " kataku sambil berusaha sedikit tersenyum. Aku melihat wajah Sherli yang sudah melow dan tak lama dia menangis dan segera menyeka air matanya.
"Jangan menangis" kataku sok kuat dan tiba tiba Sherli mendekat dan memelukku
"Kak... " katanya begitu sedih.
"Sudah tak apa apa, nanti ada yang dengar" bujukku, aku mengerti perasaannya. Tangisannya begitu sedih tapi aku harus bisa menguatkan diri.
"ehm ehm... " Adi muncul seketika dan Sherli melepas pelukannya. Menyaka air matanya dan berbalik agar Adi tak melihatnya.
"Kamu mau apa? " tanya Adi saat melihat pakaianku yang dibawakan Sherli.
"Aku mau bertemu Rey"
"Apa.. ?"
"Aku ingin bertemu dengannya"
"Kondisimu belum pulih, bagaimana kalau terjadi apa apa? "
"Sebentar saja, bukankah waktuku juga tak banyak? sekali lagi ini saja. Biarkan aku mengucapkan salam perpisahan. " kataku lagi
"Baiklah, tapi dengan satu syarat"
"Apa syaratnya? "
"Kita pergi bersama, aku tidak bermaksud apa apa, hanya ingin memastikan kalau nanti Rey takkan menahanmu lebih lama. "
__ADS_1