
hello reader,, sesudah baca critaku jangan lupa buat like dan coment yah. Biar aku makin semangat nulis setiap hari
happy reader
happy ngelahu 😁😁
Rey menggandeng tanganku memasuki rumahnya. Saat kami tiba dipintu depan tampak beberapa tamu memperhatikan kami. Rey begitu tampan dengan stelan jasnya, Rey dengan bangganya merangkul pinggulku dan berjalan beriringan denganku menghampiri kedua orangtuanya yang sedang menjamu tamu tamu disana.
"Akhirnya kalian datang juga. Kami semua menunggu kalian." sambut papinya Rey.
"Jalanan agak macet pi.. " terang Rey kemudian. Aku menatap maminya Rey, beliau masih tersenyum padaku. Sebuah senyuman yang tak ku perkirakan sebelumnya
"Selamat ulang tahun tante. " kataku seraya menyerahkan sebuket mawar putih kesukaannya.
"Makasih" sambut beliau sambil cipika cipiki. Didalam hati aku merasa bersalah. Aku sudah menilai buruk reaksi maminya Rey setelah beliau tahu bahwa aku adalah anak orang yang dulu menyakitinya.
"Oh yah mi, kami kesana dulu yah, mau samperin Adi " kata Rey meminta ijin. Rey lalu mengajakku kedekat ruang tamu. Ada Adi disana. Hatiku terkejut saat Rey memperkenalkan Adi sebagai teman baiknya. Adi hanya tersenyum kecil, menyalamiku seolah kami baru bertemu.
"Kenapa kebetulan sekali? tanyaku dalam hati dan tak lama aKu mendengar suara Sonia memanggilku
"Nona... " sapanya, Sonia tampak baru sampai. Dia Menegenakan dres berwarna biru muda bercorak bunga bunga. Dia tampak sangat cantik dan elegan dengan satu set berlian yang menambah kecantikannya.
"Sudah lama? " tanyanya dan aku hanya menggeleng.
"Aku sangat terkejut saat maminya Rey datang ke kantor untuk mengundangku. "
__ADS_1
"Oh yah, mami kesana. Kok mami bisa tahu kantor kamu? " kata Rey bingung namun belum Sonia sempat berkomentar terdengar suara maminya Rey memanggil.
"Rey kesini nak.. temani mami buat tiup lilinnya" kata beliau memanggil Rey. Rey segera menghampiri kedua orangtuanya. Tak lama acara pemotongan kue dimulai. Semua undangan bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
"Aku gak nyangka kamu berteman dengan Rey" kataku disela sela keriuhan itu. Adi yang berdiri disebelah kananku hanya tersenyum sambil melirikku sebentar.
"Sudah takdir Tuhan" katanya kemudian.
"Terimakasih buat semuanya, semua keluarga dan teman teman yang sudah mau menghadiri acara yang paling berbahagia ini. Saya sangat bersyukur masih diberi umur panjang dan kesehatan dan juga satu kabar bahagia lagi yang akan segera saya umumkan." kata maminya Rey setelah acara pemotongan kue selesai.
"Dimalam yang berbahagia ini saya juga mau mengungumkan. Kalau anak saya Rey akan bertunangan" kata beliau dan semua tamu disana memberi tepuk tangan yang meriah. Rey hanya tersipu malu karena tak sabar menunggu moment itu.
"Rey.. mami sangat bangga punya anak laki laki seperti kamu. Mungkin setelah apa yang dilakukan kakakmu dan melihat perjuanganmu merawat mami, mami percaya kalau kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama buat kecewain mami. Dan malam ini mami akan umumkan pertunanganmu dengan seorang gadis yang sangat spesial malam ini. " terang maminya Rey sambil menatapku. Sonia yang berdiri disebelah kiriku ikut bertepuk tangan menyemangatiku. Maminya Rey berjalan mendekat membuat jantungku berdebar. Rasa haru tiba tiba menghampiriku. Senyuman maminya Rey seolah membuyarkan semua penyesalan dihatiku. Tamu tamu disana menatap memperhatikan kami yang kini berdiri berhadapan. Aku merasa ada malaikat yang menarik kedua ujung sisi bibirku untuk tersenyum namun tiba tiba semua berubah saat maminya Rey malah meraih tangan Sonia yang berada tepat disebelahku.
"Sonia.. kamu maukan menikah dengan Rey? " tanya beliau hingga membuat darahku seakan membeku seketika. Rey terdiam mendengar pertanyaan yang baru saja diutarakan maminya.
"Tante.. aku... " Sonia pun tak kalah terkejut Mendapati keadaan itu tapi dengan segera maminya Rey menariknya dan menuntunnya berjalan kearah Rey yang masih berdiri disamping papinya.
Aku tertunduk seolah aku tak sanggup lagi menghadapi kenyataan yang akan datang untuk menghantamku kembali. Aku berjalan mundur dan berniat meninggalkan tempat itu. Rey yang berniat untuk mengejar malah dihentikan oleh maminya yang dengan sigap menahan tangannya
"Mami... "katanya tak percaya
"Gak sopan Rey.. ada Sonia yang nungguin kamu disini" potong beliau segera
"Mami kenapa? apa mami sadar mami sudah nyakitin hati Nona" kata Rey tak terima
"Kalau kamu masih ingin mami hidup. Menikahlah dengan Sonia. " kata maminya Rey lagi membuat Rey semakin kesal.
__ADS_1
Sedang aku berlari keluar meninggalkan rumah Rey sambil menangis. Melepas semua amarah dan sesal yang tak berkesudahan.
Kenapa maminya Rey begitu tega? kenapa maminya Rey harus mempermainkan perasaanku? apakah aku harus menanggung kesalahan yang sudah diperbuat oleh bapak dahulu? kenapa beliau begitu tega mempermalukanku didepan banyak orang disana?
Aku berlari dan terus berlari hingga kakiku terasa tak berdaya dan akhirnya terjatuh. Aku mencoba bangkit namun untuk melawan sakit ditubuhku pun aku sudah tak sanggup. Air mataku jatuh serasa tak berkesudahan.
Aku harus menghadapi kesakitan dihati dan ditubuhku bersamaan. Seolah aku ingin mati saja. Aku ingin menghilang, meninggalkan semua kesakitan ini
"Non... " suara Adi terdengar . Dia mendapatiku yang sudah tak sanggup untuk menatapnya. Adi memelukku, membiarkanku menangis dipelukannya. Dia mencoba menenangkanku dengan mengelus kepalaku.
"Aku antar pulang " katanya, aku hanya bisa menurut. Aku lalu berusaha bangkit dan mengikuti langkahnya yang menuntunku.
"Kak Non.. " kata Sherli saat melihatku turun dari mobil Adi. Mereka yang baru pulang tampak bingung dan tak lama Rey muncul menghampiri kami.
"Non... " panggilnya , Rey berjalan mendapatiku yang kini ada didekat Adi. namun Adi berjalan meninggalkanku dan dengan segera memukulnya
"Aku menghargai pertemanan kita Rey. Tapi apa yang mamimu lakukan benar benar kelewatan. Dia bukan hanya menyakiti dan mempermainkan perasaannya tapi juga membuatnya malu dihadapan banyak orang. Kalau mamimu memang mau menikahkanmu dengan Sonia lebih baik menjauhlah... " kata Adi memperingatkan, Gabriel yang mendengar hal itu mengepal tangannya segera
"Ini bukan urusanmu Di.. "
"Trus kamu mau bagaimana? apa kamu mau menambah sakit hatinya? percuma kamu bilang sayang dan segala macam bulsyit lainnya. Percuma Rey... " kata Adi lagi dan dengan segera Rey memukulnya.
"Sudah Rey sudah.. " kataku mencoba melerai hingga tak sengaja Rey mendorongku dengan sikunya hingga aku menabrak vase bunga yang kemudian jatuh dan pecah dan mengenai kedua telapak tanganku.
"Kak Non... "kata Sherli panik saat melihat darah mengalir dilantai. Adi menahan tangannya untuk memukul Rey. Dia mendapatiku dan segera membawaku masuk. Rey berniat untuk ikut tapi Gabriel segera menghadangnya.
"Pergilah.. "kata Gabriel mengusir dengan menahan emosinya
__ADS_1
"Pergi.. " katanya sekali lagi agak keras. Rey terdiam dan berjalan mundur. Dia merasa begitu kesal namun lalu pergi meninggalkan rumahku.