
Pagi itu saat ayahku memberi makan ikan masnya dikolam. Mobil Rey parkir didepan rumah . Bapak yang bingung dan penasaran mulai memperhatikan sosok yang turun dari mobil. Sesosok pemuda yang berpakaian rapi dengan dinas polisinya.
"Gabriel..... " panggil bapakku dari luar. gabriel yang duduk disebelahku menikmati sarapan pagi itu langsung melirik kearah luar.
"Gabriel.... " sekali lagi suara bapak terdengar. dia bagai sedang marah. Gabriel bangkit bermalas malasan setelah meletakkan sendok ditangannya.
"Bapak kenapa ?... pagi pagi sudah tensian kaya gitu" kata ibuku sebal. Aku yang ikut penasaran lalu beranjak dan berjalan menghampiri mereka. Tampak bapak menatap dan lalu menjewer telinga Gabriel tiba tiba.
"Kamu buat masalah apa ha? sampai polisi datang pagi pagi begini. Kamu mau permalukan bapak dan ibu ha ?" Kata bapakku kesal sebelum bertanya. Wajahnya tampak kacau. Sedang Rey tampak bingung.
"Bapak.... " Kataku segera sambil berlari kecil mendapati mereka. Aku menarik Gabriel segera kedekatku.
"Bapak ini kenapa sih ? sakit tahu" Protes Gabriel segera sambil memegangi telinganya yang sakit.
"Ini jelasin kenapa ada polisi pagi pagi dirumah kita.? " Kata bapakku kesal.
"Saya temannya nona om. Nama saya Rey" kata Rey kemudian. Bapakku sedikit melongo. Dia menatap Rey lekat lekat dan kemudian menatapku.
"Temanmu? " Tanya bapakku ragu
"Iyah om.. saya calon menantu om " Kata Rey kegirangan sambil sedikit malu malu.
"Laki laki ini, kenapa selalu bicara to the point tanpa pikir panjang lebar ?" Gerutuku dalam hati.
" Dia bercanda pak. " Potongku segera sambil mencubit tangan Rey memberi sedikit hukuman.
"Kok main cubit cubitan? "Kata bapakku menyadari.
"Rey orangnya gitu pak, suka to the point kalau ngomong. Jangan terlalu diambil hati."
"Aku serius tahu.. " Rey sedikit protes sambil memasang wajah ngambeknya.
"Ini Rey pah.. teman sma waktu dulu. Kemarin kami ketemu ditoko." Kataku memperkenalkan. Rey lalu menyalami bapak. wajah bapakku langsung berubah begitu ramah terhadapnya.
__ADS_1
"Hayo masuk dulu. " Kata bapakku kemudian. Gabriel berjalan lebih dulu. Wajahnya masih tampak ngambek. Kami berjalan menuju ruang makan mendapati ibuku.
"Kamu sudah sarapan? " Tanya bapakku ramah
"Belum om"
"Bu siapin buat nak Rey.. "
"Hallo tante. saya Rey" kata Rey memperkenalkan diri.
"Temennya nona. katanya dia calon menantu kita." info bapakku sedikit tertawa kecil. Aku melihat rona bahagia diwajahnya. Ibuku segera menyiapkan sipiring nasi goreng untuk Rey. Kami makan bersama, Rey tampak sangat lahap dan langsung akrab dengan keluargaku.
" Rey masih seperti dulu. Masih punya sifat kekanak kanakan dan masih tampak begitu menggemaskan ssaat sedang tertawa dan lagi hari ini apa lagi yang akan terjadi..? " fikirku seraya menatap kebahagiaan mereka kala itu.
"Kamu gak kerja? " Tanyaku setelah kami selesai sarapan. Bapak dan ibu bagai begitu pengertian. Mereka meninggalkan kami berdua untuk bicara di ruang makan.
"Iyah.. aku cuma mau mampir sebentar."
"Biar bisa kenal dan dekat sama keluargamu."Kata Rey santai. Aku meliriknya.
"Aku mau kasih kesan yang baik sama keluargamu. Biar bisa segera di acc buat jadi menantu." Kata Rey sedikit bercanda.
"Iyah.., aku tahu kamu gunain seragammu buat nyogok bapak dan ibu. Orangtua mana coba yang nolak calon menantu yang udah punya pangkat dan ganteng kaya kamu."
"Gak ada tu.. "
"Ya udah sana berangkat. Nanti atasan kamu marah loh, jangan mentang mentang om itu menjabat kamu jadi gak disiplin gini. "
"Sebenarnya ada alasan lain."
"Ahhh. " aku menatap Rey bingung.
"Mami nungguin kamu dirumah. Dia gak ada temen, minta aku buat jemput kamu."
__ADS_1
Waktu itu masih jam 10 pagi. Setelah mengantarkan aku kerumahnya Rey berangkat ke kantornya. Saat aku masuk kerumah, aku mendapati maminya Rey sedang merawat taman kecilnya disana. Kondisinya tampak lebih baik. Wajahnya sumringah saat melihat kedatanganku.
"Tante gak boleh capek capek dulu. "Kataku setelah sampai didekatnya.
"Tenang saja, tante sudah janji akan sehat terus. Tante cuma mau rawat bunga bunga ini, kasihan gak ada yang urusin."
"Ehmm, anggreknya bagus"Kataku sambil menyentuh kelopak anggrek berwarna pink didekatku.
"Tante sangat suka anggrek. Setiap kali dihari ulangtahun pernikahan kami, papinya Rey selalu menghadiahkan satu bunga baru. "
"Romantis sekali"
"Ehmm, dulu papinya Rey itu sama sekali bukan tipenya tante. Dulu tante punya pacar. Dia pemuda yang baik dan kami sudah pacaran sejak lama. Dia juga selalu menghadiahkan anggrek buat tante. Tapi tiba tiba dia menghilang dan gak lama tante mendapat kabar kalau dia sudah menikah dengan perempuan lain. Tante sangat sedih. kalau bukan karna ommu yang begitu peduli sama tante mungkin tante sudah mati bunuh diri." cerita maminya Rey seraya mengenang masa lalunya.
"Gak lama setelah itu, dia menemui tante. Dia bilang dia tidak mencintai tante karna tante anak yang manja dan gak bisa mandiri. Gak seperti anggrek yang kuat dan mampu mekar diwaktu yang lama. Dia bagai sedang membenci kelemahan tante. Sejak dulu keluarga kami memang kaya. Itu sebabnya tante tidak mandiri. Tante sangat terpuruk waktu itu. Dan sampai sekarang tante masih sangat membencinya. "
"Kalau begitu tante sangat beruntung menikah dengan om. Om tampak sangat menyayangi tante. "
"Ehmm, sejujurnya diawal pernikahan kami. Tante sama sekali tidak mencintai ommu. Tapi setelah Mika lahir perasaan itu mulai tumbuh dan terasa semakin besar. Tante bersyukur punya suami yang sangat menyayangi dan setia pada tante. "
"Baguslah.. aku senang mendengarnya. "
" Bahkan tante sering berdoa semoga dia mendapat karma atas apa yang dia perbuat untuk tante. Tante gak bisa menerima perbuatannya. "
"Gak baik loh tante simpan dendam begitu. Gak baik buat perasaan dan kesehatan tante."
"Tante hanya mau Dia merasakan sakit yang tante rasakan waktu itu, itu saja. Supaya dia bisa lebih menghormati perasaan orang lain." Terang maminya Rey penuh harap dan seketika wajahnya berubah seolah dia mendapat ide difikirannya.
"Kita ke mall yok" Katanya penuh semangat.
"Tantekan baru sembuh, tante harus istirahat dulu."
"Gak mau ah bosan, tante mau jalan jalan. sudah lama tante gak ke mall. Kita lihat tas baru. Suasana baru. yah yah" Ajaknya membujukku. aku bagai tak bisa mengelak tapi agar tak terlalu lelah. Aku menyarankan agar maminya Rey menggunakan kursi roda. Sehinga beliau tidak perlu merasa lelah untuk mengelilingi setiap store dimall itu. maminya Rey tampak bahagia. Dia tampak punya semangat baru dihatinya. Aku mendorong kursi rodanya perlahan. Ingin sekali rasanya aku mengurus dan menemani maminya rey seperti ini. Hatiku terasa bahagia saat aku bisa dekat seperti itu dengan maminya rey. Kami tertawa dan bercerita layaknya ibu dan anak. Sungguh sangat menyentuh hatiku.
__ADS_1