
Malam itu Rey mengajakku makan malam dirumahnya. Maminya sudah menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan Rey. malam itu walau hanya berempat tapi serasa begitu menyenangkan. Kondisi maminya Rey juga semakin membaik bahkan beliau sudah tak menggunakan kursi roda lagi. Wajahnya selalu tersenyum. Aku bisa merasakan kasih sayang yang seperti ibuku dari beliau.
"Rey kapan kamu mau melamar Nona? jangan nanti dia pergi lagi." tanya beliau saat kami tengah makan bersama.
"Malam ini sih mah maunya. " kata Rey sambil memandang kearahku dengan senyumnya yang khas dan matanya yang agak sipit.
"Itu bagus.. " kata papinya setuju.
"Mami sudah konsep pesta buat acara lamaran. Tapi sebelum itu mami dan papi harus ketemu dulu dengan keluarga nona. Biar lebih enak ngomongnya, iyahkan pi? "
"Tante... apa tak terlalu cepat? aku belum selesaikan sekolahku. Masih ada satu semester lagi."
"Tante udah gak sabar. Tante udah gregetan."
"Kenapa, memangnya nak Nona belum siap ya? "
"Ah bukan begitu om..,aku hanya merasa terlalu cepat ."
"Yah sudah, kalian diskusikan saja dulu. Kalau sudah siap beritahu tante yah. Kalau bisa jangan lama lama, tante sudah ingin sekali menimang cucu. " pinta beliau dan tiba tiba hpku berdering. Ada panggilan dari bapak. Maminya Rey melihat kelayar hpku dan beliau terdiam saat melihat foto profil bapak.
"Permisi sebentar tante. " kataku sambil meninggalkan ruang makan dan berjalan agak jauh dari sana.
"Hallo pak.. " jawabku segera.
"Non..., bapak hari ini akan pulang terlambat. bilang sama ibu gak usah ditungguin yah. jalanan macet. Takutnya akan sampai subuh" kata bapak yang hari itu keluar kota untuk menghadiri acara pesta pernikahan sepupuku dikampung.
__ADS_1
"Ah iyah pak, nanti aku sampaikan ke ibu. Bapak hati hati yah. "
"Iyah"
Setelah memutus telponnya aku pun kembali ke meja makan namun aku tak melihat lagi maminya Rey disana.
" Tante kemana? " tanyaku pada Rey yang masih melahap makan malamnya.
"Mami tiba tiba merasa gak enak badan. Papi mengantarnya untuk istirahat. "
"Oh... "
"Udah ayo lanjutkan makannya." saran Rey lagi tapi feelingku merasa tak enak. Kenapa tiba tiba tante berubah ? Apakah ada yang salah? Bukankah biasanya dia sangat senang saat bersamaku. Dan tadi kondisinya juga sangat baik, malah masih bisa tertawa bersama.
"Ehmm, aku sudah kenyang. Rey..., tadi bapak bilang bapak akan pulang agak terlambat, jalanan macet. Sebaiknya aku cepat pulang, kasihan ibu gak ada yang temani. Gabriel pasti belum pulang. "
"Ya udah, aku antar ya habis ini." kata Rey pengertian. Setelah Rey selesai makan. Aku membereskan ruang makan dan mencuci piring kotor. saat ingin pulang aku berniat berpamitan pada maminya Rey. tapi Rey bilang kalau maminya sudah tertidur. Tak enak jika aku mengganggunya.
Rey pun akhirnya mengantarkanku pulang malam itu. Seperti feelingku, Gabriel adikku belum pulang. Belum ada mobilnya digarasi.
"Makasih yah sudah nganterin aku pulang " kataku sebelum turun dari mobil Rey.
"Langsung tidur yah. " pesan Rey lalu mencium keningku segera. Aku hanya tersenyum kecil dan lalu keluar. Aku melambaikan tanganku sebelum akhirnya mobil Rey menghilang dimataku.
"Ibu... "sapaku saat melihat ibuku sedang membenahi beberapa album lama di ruang tamu. Tampak Gamboo sedang memainkan sebuah bola kecil dilantai didekat ibu.
__ADS_1
"Kok cepat sekali pulangnya ? "
"Bapak telpon katanya bapak akan pulang telat. Jalanan macet"
"Gimana makan malamnya? "
"Yah gitu dech bu. "
"Kamu kaya gak senang, kenapa? "tanya ibuku saat menyadari ketidakpuasan diwajahku.
"Gak apa apa bu, aku hanya kahwatir sama maminya Rey. Mendadak tadi kondisinya kurang baik. "
"Oh... " seolah ibuku paham kegelisahanku. dan tak lama aku melirik pada sebuah album lama. Aku meraihnya dan membolak balikkannya.
"Ini album lama bapak yah bu? "
"Iyah, waktu masih kuliah dulu. " terang ibuku. tanganku pun dengan lihainya membuka album itu satu persatu,melihat foto foto jadul bapak. Dan tak lama mataku tertuju pada satu foto wanita yang berdiri disamping bapak. Seolah wajah itu sangat familiar dimataku. Aku mengamatinya lagi dan yah aku teringat. Aku melihat foto maminya Rey sewaktu muda dipajang dirumah mereka.
Apa perasaaku benar? aku terdiam sesaat itu juga. Maminya Rey juga langsung berubah saat melihat foto bapak. kenapa? apakah lelaki yang dulu menyakiti hati maminya Rey adalah bapak? bagaimana mungkin bisa begitu kebetulan. Atau apakah ini karma sesuai yang diinginkan maminya Rey. bagaimana bisa semua kesialan ini menimpaku. Aku segera masuk kekamarku. Mengunci diriku disana dan menangis. Aku teringat kata kata maminya Rey. Betapa dia sangat membenci bapak. Lalu bagaimana aku harus menghadapi beliau. Apakah maminya Rey akan membenciku setelah dia tahu kalau aku adalah anak dari lekaki yang dulu menyakitinya. Lalu bagaimana dengan hubunganku dengan Rey ,bagaimana reaksinya jika mengetahui hal ini. "Tuhan ujian seperti apakah ini. Baru saja aku membuka hatiku. Menyenangkannya sesaat dan kenapa harus terjadi seperti ini. Apakah Engkau tak ingin menjodohkan aku dengan rey sehingga dengan begitu keras Engkau menegurku dan menghancurkan hatiku. Sejak awal memang sudah seperti pertanda. terlalu banyak alasan agar berpisah dengannya. "
Aku berjalan mendapati tempat tidurku. Aku menangis disana tanpa bersuara sedikit pun. Sakit se x rasanya, semua beban perasaan itu serasa bersarang didadaku. Serasa tak mau berhenti menyiksa. Terus menerus menyerangku.
Sedang didalam kamarnya maminya Rey kembali teringat akan kejadian waktu silam saat dia begitu khawatir karna tak bisa menemukan bapak, dan bagaimana hatinya begitu hancur saat bapak datang menemuinya dan mengatakan kalau bapak sudah menikah dengan seorang mahasiswa lain dikampus yang sama dengan mereka. Itu adalah masa masa paling sulit yang pernah dialami beliau. Dan luka itu masih membekas didalam hatinya. Bahkan hingga saat ini, maminya Rey membalikkan dirinya kesamping. Dia menahan suaranya agar suaminya yang tertidur disampingnya tak mendengarkan kesedihannya yang kembali muncul setelah sekian lama dia beusaha membalutnya.
Sedang malam itu saat sedang mengedit beberapa vidio siaran untuk chanelnya. gabriel tak sengaja terpesona pada sosok Sherli yang sedang merangkai bunga ditoko. Dia mengamati sosok Sherli sesaat. Selama ini mereka memang tak banyak bicara. Gabriel baru menyadari kalau dia sudah mengabaikan sosok Sherli selama ini. Gabriel tersenyum kecil, dia teringat expresi Sherli yang selalu mengambek dan tak melawan setiap kali Gabriel mengomelinya jika dia datang terlambat sebentar saja. Dan dihari berikutnya dia akan tampak seperti biasanya. Seperti dia kebal pada semua tingkah gabriel. Dia selalu tersenyum ramah pada semua pelanggan dan bekerja keras walau terkadang harus lembur sampai malam.
__ADS_1