
Malam itu Rey beberapa kali menelfonku tapi rasa sakit yang sedang kutahan membuatku enggan untuk mengangkatnya. Malam itu juga sudah pukul 11 malam. Rey akan berfikir kalau aku sudah tertidur. Sedangkan Rey yang merasa tidak tenang lalu keluar dari rumahnya dan menuju rumah Sonia. Yah saat Rey pulang malam itu, maminya cerita soal pertemuan mereka dengan Sonia. Rey tahu itu akan berdampak buruk sehingga dia ingin meluruskannya.
"Kamu bicara apa saja dengan Nona? "
"Gak banyak" jawab Sonia tenang. Dia melihat kegelisahan dimata Rey. Sonia sadar Rey hanya berusaha untuk menjaga perasaanku.
"Kamu tenang saja. Aku gak bakal ribut kok dengan Nona. Lagi pula kita juga sudah putus. Kalian boleh untuk berpacaran."
"Aku hanya gak mau dia berfikir kalau kamu akan benci padanya. Nona sangat menjaga perasaanmu. "
"Aku akan cari cara untuk bicara baik baik dengannya. Aku akan cari alasan lain"
"makasih yah. "
"Iyah... sudah pergilah sana pulang. Ini sudah tengah malam."
"Okey deh... sekali lagi makasih yah. " kata Rey lalu pergi. Sonia mengakhiri senyumnya. dia ingin melihat Rey pergi sampai menghilang dari matanya.
"Aku cemburu Rey. Tapi aku harus bagaimana, dihatimu hanya ada dia."katanya kecil.
Keesokan harinya setelah selesai apel pagi Rey langsung menuju kerumahku. Bapak yang pagi itu sedang duduk santai diteras menyambutnya ramah.
"Pagi pak... " sapa Rey setelah sampai diteras.
"nak Rey.... "
"Iyah pak.. maaf pagi pagi udah ganggu."
"Ah gak apa apa, mau cari Nona yah? "
"Bapak tahu saja"
"Dia baru saja keluar. Katanya mau bertemu sonia."
"Ohh gitu, yah sudah kalau begitu saya temui nona nanti saja. Kalau begitu saya pamit dulu yah pak."
"Ah iyah yah. hati hati yah."
Rey pun akhirnya kembali kekantornya. Namun hatinya seolah tak bisa tenang dia begitu resah memikirkan pertemuanku dengan Sonia hari itu.
__ADS_1
Pagi itu Sonia tak terlalu sibuk jadi kami duduk dan mengobrol diruangannya. Aku tak mengira saat pertama kali melihatku masuk. Wajah Sonia tampak sangat welcome tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya.
"Masih pagi kamu sudah nyariin aku, kenapa?" tanyanya ramah setelah kami duduk berdekatan disalah satu sofa panjang disana.
"Aku mau jelasin soal yang dimall kemarin. Aku gak mau kamu salah paham."
"Apa sih.. sudah ahh gak usah dibahas."
"Aku gk enak son, aku gak mau kamu marah dan benci sama aku. "kataku menyesal dan gak berani menatapnya.
"Non... "
"Kamu bisa marah kok son, Aku bisa terima."
"Aku juga trima kok. Aku terima kalau kamu dan Rey jadian."
"Sonia... " kataku tak percaya sambil menatapnya. Aku bisa melihat ketulusan disenyum Sonia tapi tetap saja hatiku dihantui rasa bersalah.
"Kamu lupa yah kami sudah putus. Kamu jangan sampai merasa tak enak. Kita udah dewasa Non. Lagian Rey lebih cocok denganmu. "katanya memberi dukungan.
"Aku merasa bersalah... " keluhku dan Sonia segera memelukku.
"Aku baik baik saja. Persahabatan kita lebih penting,iyahkan . "bisiknya segera namun tetap saja aku merasa tak pantas mendapatkan perlakuan baik itu dari Sonia.
"Rey... " kataku kesal saat melihat Rey. Rey tertawa kecil namun saat aku memukul lengannya dia meringis kesakitan.
"Ahhhhh."
"Kenapa? " tanyaku bingung. Rey segera memperlihatkan perban dilengannya. Perban itu nyaris tertutup tangan kemeja seragamnya.
"Lengan kamu kenapa? "
"Semalam habis berantem ama bandar"
"Maaf yah aku gak sengaja" kataku menyesal. Rey lalu mengelus manis kepalaku.
"Kamu gak angkat telponku. Juga gak balas wa ku, kenapa ?" tanyanya kemudian. Aku tertunduk dan lalu berjalan menuju kursi dan disusul oleh Rey.
"Tadi pagi aku juga kerumahmu. Om bilang kamu pergi cari Sonia."
"Ehmmm, kemarin.. "
__ADS_1
"Mami sudah cerita. Karna itu aku cari kamu. Aku gak mau kamu dan Sonia jadi gak enakan. "
"Justru karna itu... " sesalku sambil tertunduk.
"walaupun Sonia bilang dia bisa terima dan bilang kalau dia gak marah tapi tetap saja. Aku merasa sangat jahat padanya. "
"Sonia sangat dewasa. Kamu gak perlu merasa bersalah lagi. Lagi pula dari awal yang kusukai itu kamu bukan dia. "
"Mengatakan gak semudah melakukannya rey. Aku juga punya perasaan .Bagaimana kalau aku yang berada diposisinya. Aku pasti sangat cemburu. " kataku melow. Rey lalu pindah dan berlutut dihadapanku ,meraih tanganku dan menggenggamnya.
"Lalu gimana dengan perasaanku? " tanyanya. aku menatap mata Rey. mata yang menyimpan rasa rindu. mata yang selalu kucari selama ini untuk melihatku.
"Aku sayang kamu Non.... "katanya. aKu bisa merasakan ketulusan dan keseriusan dari kata kata itu. Ingin sekali aku memeluknya. Ingin kukatakan jika aku pun sangat menyayanginya. Merindukan sosoknya selama ini.
"Aku bukan cowok yang romantis. Tapi aku sungguh sudah bosan menunggumu selama ini. Aku gak mau kehilangan kesempatan lagi. aku Mau sama kamu, cuma mau kamu non. " katanya tegas. Aku bagai terhipnotis dengan keadaan dan sosok Rey yang berlutut dihadapanku hingga tak kusadari dia datang mendekat dan menciumku.
Oh rey seandainya kamu tahu perasaanku. seandainya kamu tahu bagaimana aku mencoba bertahan selama ini menahan rasa rinduku. Bagaimana sulitnya aku saat harus menghadapi kenyataan yang sedang kuhadapi. Serasa ciuman itu membayar semua perasaanku yang kacau agar kebaikan dan keburukan dihidupku seimbang.
"Kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku tolong jangan fikirkan perasaan yang lain. Fikirkan tentang kita saja, aku ingin kita bisa bersama seperti pasangan normal lainnya. Beberapa tahun sudahlah cukup untukku menunggumu. Aku ingin menjadi bagian terpenting untukmu. Aku ingin bisa melakukan banyak hal denganmu. pergi berkencan dan melakukan banyak hal lainnya. "kata Rey setelah itu.
"Aku hanya merasa sangat egois."
"Sebenarnya kamu sayang aku atau tidak? "
"Sayang... "
"Kalau begitu sayangi aku terus, jangan sibuk untuk memikirkan hal hal lain."
"Itu juga egois namanya"
"Masa bodoh. selama ini aku mengalah. Kali ini aku takkan melepaskanmu lagi."
"Kalau kamu memang menyukaiku sejak dulu kenapa tidak pacari aku dari dulu."kataku sedikit protes.
"Siapa suruh kamu ngasih surat cinta orang lain? membacanya saja benar benar membuatku pusing. Apalagi harus berpura pura menjadi pacarnya. Benar benar membuatku menderita. Aku harus melakukan semua yang dia mau. Kamu gak tahu aku nyaris sesak nafas hanya untuk menjadi pacar yang baik untuknya. Semua itu hanya buat membalas hutangmu untuknya. "
"Akukan gak nyuruh kamu buat pacarin dia. Kamu bisa nolak."
__ADS_1
"Ah sudahlah,,, jangan membahasnya lagi. Kepalaku pusing" gerutunya sambil bangkit dan duduk disampingku dan kemudian menyandarkan kepalanya kebahuku.
"aku mau tidur,,,, jangan membangunkanku." katanya memperingatkan.