The Prince Bride

The Prince Bride
13. Pemakaman Putra Mahkota.


__ADS_3

"Apakah Qian Yue belum juga pulang?"


Pertanyaan itu berasal dari Lan Hua, memangnya selain dirinya siapa lagi yang dengan gamblang memanggil pangeran ketiga langsung dengan namanya tanpa embel-embel apapun.


Xiao Min yang sedang menyeduhkan teh untuk Lan Hua menggelengkan kepalanya, seolah mengetahui suasana hati tuannya yang sedang buruk ia kini menatap lantai dengan pandangan yang sendu.


"Pangeran ketiga belum juga kembali sampai hari ini."


Lan Hua rasanya ingin membenturkan kepalanya pada dinding, disaat semua pangeran lain tengah menunjukan dukanya. Meski entah bagaimana hati mereka tetapi setidaknya di depan umum mereka menunjukan duka mereka untuk putra mahkota.


Tetapi suaminya yang juga masih memiliki ikatan saudara se-ayah dan juga se-ibu dengan putra mahkota, justru sama sekali tidak menunjukkan batang hidungya.


"Astaga bagaimana bisa dia sangat menyebalkan, bukankah besok pagi adalah pemakamannya?"


"Benar Nona, besok pagi putra mahkota akan dimakamkan."


Raja malam telah lama bertahta, ini sudah hampir tengah malam tetapi rasa kantuk sama sekali tidak menyerangkan Lan Hua, melainkan perasaan kesal yang begitu dalam.


"Qian Yue ini sepertinya memang tidak pernah diajari tentang tata krama!"

__ADS_1


"Nona Anda harus banyak berlapang hati,"


Lan Hua mendengus, sudahlah tamat nasibnya karena besok pasti akan muncul bisikkan menggelikan tentang tidak adanya tata krama pangeran ketiga.


***


Iring-iringan besar itu membawa begitu banyak pengawal dan orang pengantar jenazah. Pemakaman anggota kerajaan memanglah selalu seramai itu, disertai isak tangis dan juga kesedihan hati. Ratu mengantarkan pemakaman salah satu putranya itu dengan pakaian berkabung, tidak ada perhiasan sama sekali yang ia kenakan.


Duka tentu saja menyelimuti hatinya, putra yang ia persiapkan dari kecil sebagai putra mahkota justru kini telah berpulang karena tahta itu sendiri. Hati ibu mana yang bisa menerima putranya diracuni hungga tewas.


Tak terasa rombongan itu telah sampai di kuil pemakaman kerajaan, prosesi pemakaman dilakukan dengan hikmat. Tangisan kembali terdengar, tentu itu berasal dari Mei Lan, istri dari putra mahkota.


"Nona bukankah itu pangeran ketiga?" bisik Xiao Min pada Lan Hua.


Lan Hua langsung melihat ke arah yang ditu juk oleh Xiao Min, benar saja ia melihat pangeran ketiga dengan pelayannya. Air wajahnya datar saja tetapi mata elang itu lurus menatap ke arah peti mati yang tengah diturunkan ke dalam tanah. Biasanya pangeran ketiga tidak pernah menampilkan wajah datar itu, melainkan sebuah ekspresi yang menyebalkan.


"Nona setelah kulihat-lihat wajah pangeran ketiga itu menyeramkan."


Wajahnya memang begitu tampan dengan pahatan sempurna itu, tetapi aura yang ditampilkan dan juga tatapan mata elang itu membuat ia cenderung seperti sosok angkuh yang mendominasi. Terlebih saat ini penampilaan lebih rapi dari biasanya, masih dengan pakaian bebasnya tetapi rambutnya tidaklah acak-acakan. Wajahnya juga tidak memerah karena mabuk.

__ADS_1


"Dia terlihat berbeda dari biasa—"


Kalimat Lan Hua itu terhenti karena ia melihat pangeran ketiga melangkahkan kakinya pergi, menghilang dari kerumunan. Baru saja akan memujinya berbeda tetapi harus urung karena lelaki itu nyatanya kini sudah benar-benar pergi menghilang.


"Dia pergi lagi?! Hais yang benar saja!"


Tidak ikut dalam mengiringi kepergian putra mahkota yang merupakan kakak kandungnya, lalu sekarang muncul sepersekian detik lalu menghilang lagi tanpa jejak.


"Sepetinya aku harus ganti suami, terlalu memalukan untuk menjadi istrinya ini."


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Dont forget to click the vote button!


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^


And, see you.

__ADS_1


__ADS_2