
Sebuah lentera berada di tangan kanan Lan Hua, sedangkan satu tangan lagi ia gunakan untuk membuka jubah yang menutupi kepalanya. Lan Hua menatap sekelilingnya, meski itu hanyalah bangunan tua yang gelap dan kosong tetapi ia sama sekali tidak memiliki ketakutan di hatinya. Lan Hua sama sekali tidak memperdulikan keadaan yang mencekam ini, karena semua gosip menyeramkan itu sudah dipatahkan olehnya.
Tidak lama langkahnya telah sampai pada paviliun yang besar dan megah, senyuman mengembang di kedua sudut bibirnya. Meski ia pernah hampir saja mati di tempat ini tetapi itu tidak membuat tekadnya hilang justru semakin membara.
Saat pedang itu hampir menggores lehernya ia bisa melihat dengan jelas liontin giok berbentuk bunga teratai yang begitu indah. Ia bercahaya saat terkena pantulan cahaya bulan, tidak akan mungkin itu tidak langka, pasti hanya milik tuan itu seorang.
Sebuah paviliun megah di tengah bangunan tua yang dianggap sebagai kawasan terlarang ini tentu saja sangat mencurigakan. Sehingga hal ini semakin membuat Lan Hua yakin jika tuan muda Fei yang terkenal itu tinggal disini.
"Yang kudengar Tuan Muda Fei ini menggunakan topeng emas, pedang bulan miliknya memiliki sebuah giok langka berbentuk teratai yang berada di ujung pegangannya."
Lan Hua kembali mengingat kalimat itu, berkatnya ia sekarang berada disini. Lan Hua yakin pedang yang memiliki bilah sangat bening itu adalah pedang bulan. Dan giok teratai yang indah itu tiada duanya yang memiliki.
"Nona sebaiknya Nona tidak berada di tempat ini, tempat ini bukanlah kawasan untuk bermain-main."
Kalimat itu membuat Lan Hua menyunggingkan sebuah senyuman, waktu itu memanglah saat itu benar-benar bukan mimpi. Dirinya telah datang ke tempat ini dan hampir saja tewas.
Lelaki yang berdiri di depannya ini menggunakan pakaian serba putih, tubunya tidak terlalu tinggi tetapi ia memiliki perawakan yang sepadan dengan tingginya itu.
__ADS_1
"Aku kesini bukan untuk bermain-main, tetapi aku memiliki sebuah kepentingan."
Lan Hua menatap lelaki berpakaian putih itu dengan was-was, karena saat dahulu ia langsung diacungkan pedang maka kali ini justru ada lelaki lain yang bersikap sedikit lebih baik. Lelaki ini bukanlah Tuan Muda Fei, karena tidak ada topeng emas yang ia kenakan, perawakan Tuan Muda Fei juga lebih tinggi.
"Sebaiknya Nona cepat pergi jika tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk." kalimat itu mengalun cukup datar, tidak ada emosi yang berarti di dalamnya.
"Aku mohon," ucapan itu disertai dengan nada memelas.
Rupanya lelaki itu tidak begitu memperdulikan Lan Hua, ia seperti tidak terpengaruh sedikitpun.
Ada seekor kucing yang tiba-tiba saja mendatangi Lan Hua, kucung itu menggesekan bukunya debgan manja pada kaki Lan Hua. Melihat itu Lan Hua langsung saja menggedong kucing itu.
Kucing itu memiliki bulu sangat tebal dengan warna seluruh tubuhnya putih bersih, sangat halus dan cantik.
"Nona bisa serahkan Xiao Mao itu,"
Senyuman miring tercetak di bibir Lan Hua, lelaki di depannya ini sampai meminta kucing itu artinya kucing ini adalah binatang peliharaan di kediaman ini.
__ADS_1
"Ah jadi namamu Xiao Mao?" pertanyaan itu Lan Hua tunjukkan oada kucing.
Lelaki itu nampak menamapilkan raut cemas, kucing itu adalah peliharaan milik tuannya. Xiao Mao sangatlah disayangi oleh tuannya, ia bahkan pernah dihukum tidak makan seharian hanya karena lupa memandikan Xiao Mao.
"Lihatlah kucing ini sangat menyukaiku, aku akan membawa kucing ini pulang."
Tentu saja kedua matanya membola, bisa habis dirinya jika Xiao Mao dibawa pergi. "Jangan!"
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1