
"Kau tau apa salahmu Su Ho?"
Su Ho bersimpuh di depan kursi ibunya, ia menundukkan kepalanya dan hanya berani memandang ke lantai.
"Ibu aku hanya pergi bersenang-senang dengan Ming Xia."
Selir agung terkekeh, "Bersenang-senang sampai dia hamil maksudmu?"
Su Ho tidak memberikan jawaban, memang itu adalah kenyataannya.
"Kau harus sadar jika wanita itu hanyalah rakyat biasa, ia tidak pantas untuk bisa bersamamu. Bahkan bermimpi saja sudah kurang ajar!"
"Ibu kami saling mencintai," cicit Su Ho pelan.
"Cinta kau bilang? Itu bukan cinta tapi nafsu, dia terus menerus memberikan tubuhnya untukmu sehingga kau merasa senang. Itu bukan cinta Su Ho!"
Su Ho sedikit merenung, saat itu jika Ming Xia tidak memamerkan tubuhnya juga Su Ho tidak tertarik untuk meniduri Ming Xia. Awalnya Su Ho ini lurus pada tujuan, tetapi saat ditawari seonggok daging di depan mata tentu ia tidaklah tahan godaan. Su Ho ini sudah tergoda oleh tubuh Ming Xia.
"Dia itu wanita memiliki motif licik, menggodamu untuk menidurinya lalu sengaja agar dia hamil. Lalu dia akan menggunakan anaknya untuk meminta tanggung jawab, trik murahan seperti itu sudah ibu hafal."
__ADS_1
Su Ho pernah memberikan pil untuk Ming Xia, yaitu pil untuk menunda kesuburannya, yang entah mengapa pada akhirnya Ming Xia bisa hamil. Sepertinya yang dikatakan ibunya ini memang benar.
Saat mengetahui Ming Xia hamil, Su Ho sebenarnya memang tidak senang. Ia menginginkan tubuh Ming Xia tetapi tidak menginginkan anak itu. Jadinya saat tadi ibunya menyuruh pelayan memberikan obat penggugur kandungan untuk Ming Xia, Su Ho tidak memprotesnya.
"Su Ho sekarang ini bukan saatnya bersenang-senang, kau tahu bukan rencana kita kemarin ternyata tidak terlalu berhasil. Bukankah kita harus memiliki banyak rencana lain lagi?"
Su Ho mengangguk, "Maafkan aku Ibu, mulai sekarang aku akan fokus pada tujuan."
"Bagus, memang harus seperti itu dari awal."
***
Raja saat ini memiliki empat selir dan juga satu permaisuri, istri dari pangeran ada tiga yaitu Mei Lan, Yue Yi dan Lan Hua. Ada juga istri dan selir pangeran agung, mereka tetap diundang karena dianggap sebagai kerabat istana. Para putri kerajaan juga pastinya datang meramaikan perjamuan ini.
"Mei Lan, aku tidak suka acara seperti ini." bisik Lan Hua pada Mei Lan.
Perjamun ini dilakukan di paviliun belakang, ia ada di tengah danau buatan. Ada dua buah meja panjang dengan di ujungnya adalah tempat duduk untuk ratu.
"Kau harus menyukainya Lan Hua, karena nantinya kau akan sering datang ke acara semacam ini."
__ADS_1
Lan Hua terlalu malas untuk berbaur, ia tidak memiliki banyak teman saat masih di kediaman Lian atau bahkan sekarang. Sehingga Lan Hua jarang sekali datang ke acara perjamuan semacam ini.
Ratu datang setelah semua orang duduk di mejanya, wanita paruh baya yang masih anggun itu terlihat sangat bersinar dengan mahkota kebanggannya.
"Selamat datang semuanya di perjamuan ini, aku ingin mengajak kalian semua melihat teratai mekar juga untuk mempererat hubungan."
Teratai-teratai di danau itu memang tengah mengembang, mereka semua secara serentak tengah menunjukkan keindahan meski ini bukanlah awal musim semi. Bunga-bunga lain batu saja selesai berguguran sedangkan ia justru baru mulai terkembang.
"Katanya paviliun ini sengaja dibuat oleh raja agar ratu bisa menikmati keindahan bunga teratai. Ratu sangat menyukai bunga teratai." ucap Mei Lan pada Lan Hua.
"Ah, begitu rupanya."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
__ADS_1
And, see you.