
"Yuan aku sudah tidak sabar menunggu hari kematian Qian Yue," ucap Lan Hua dengan riang gembira.
"Lan Hua pelankan suaramu, sangat berbahaya jika sampai ada yang mendengar."
Yuan menengok kesana-kemari untuk memastikan jika disekitarnya tidak ada orang, berbicara tentang kematian keluarga kerajaan di depan umum adalah hal yang tidak diperbolehkan.
"Kemarin Xiao Min bilang Qian Yue meminum arak berisi racun itu."
"Baguslah, semakin cepat kau meninggalkan istana maka akan semakin baik."
"Mengapa kau berbicara seperti itu?"
"Entah hal mengerikan seperti apa yang akan terjadi selanjutnya karena perebutan tahta."
Perebutan tahta memang mengerikan, pertumpahan darah bisa terjadi kapan saja. Karena ini terjadi di istana maka bukan menutup kemungkinan pertumpahan darah itu terjadi di istana.
Istana memang megah dan indah, tetapi di balik itu semua setiap orang menyimpan belati tajam dibalik tubuhnya. Ia sangat tajam dan kapan saja siap digunakan untuk membunuh orang.
"Apakah itu akan benar-benar terjadi?"
__ADS_1
"Putra mahkota telah wafat, meski masih banyak pangeran tetapi bisa dikatakan tidak ada yang paling tepat. Pangeran kedua meski memiliki banyak prestasi tetapi selalu mementingkan egonya, pangeran pangeran ketiga tidak mungkin, pangeran keempat meski terlihat tulus tetapi sebenarnya sangat sulit ditebak, dan pangeran kelima tidak memiliki bakat sama sekali karena ia hanya tertarik dengan karya seni."
"Kalau menurutku pangeran keempat Han Su Ho yang lebih pantas, selama ini dia terlihat tulus dan sepertinya tidak seperti yang kau bilang jika ia orangnya sulit ditebak. Meski pangeran keempat terlahir dari selir tetapi itu adalah pangkat selir tertinggi, jadi ia masihlah pantas jika dibandingkan dengan pangeran kedua yang bertempramen buruk dan selalu tidak ingin mendengarkan orang lain."
"Karena perebutan tahta sudah akan dimulai kita hanya bisa menyaksikannya."
"Ya, tidak ada gunanya juga ikut-ikutan. Lrbih baik melihat saja siapa yang akan berhasil."
Dahulu saat Lian Wu diangkat menjadi putra mahkota mereka semua masih belum terlalu dewasa, baru sampai tahap saling pamer kemampuan. Tetapi sekarang ini sudah berbeda, mereka sudah memiliki pencapaian masing-masing dan keinginan untuk menjadi pemimpin negeri ini.
***
Lan Hua mengangguk, "Lan Hua sudah terbiasa dengan pangeran yang setiap hari pergi ke rumah bordil sehingga sekarang Lan Hua tidak memiliki beban lagi, Nenek."
Sebenarnya Lan Hua juga menyayangkan sikap nenek yang juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menasihati Qian Yue. Membiarkan saja lekaki itu bersikap semakin sembrono, dan tidak tahu aturan. Padahal Qian Yue adalah cucunya sendiri.
Mata nenek menatap ke halaman depan, munculah seorang wanita paruh baya yang ikut duduk bersama Lan Hua dan juga nenek. Itu adalah ratu sehingga Lan Hua juga memberikan hormat kepada ibu mertuanya itu.
"Lan'er, aku meminta maaf atas Qian Yue, dia tidak bisa menjadi suami yang pantas untukmu. Aku harap kau memiliki hati yang lapang."
__ADS_1
Lan Hua pura-pura mengangguk, meski di dalam hatinya ia menyumpah serapahi kalimat ratu. Semua orang hanya menyuruhnya bersabar tanpa mencarikan solusi yang bagus untuknya.
"Dahulu saat masih kecil Qian Yue memiliki hati yang tulus, ia juga sangat berbakat. Di usianya yang baru menginjak angka delapan ia sudah bisa mengalahkan kakeknya bermain catur. Qian Yue kecil juga sangat dibanggakan karena kecerdasannya ia juga selalu mengikuti pertemuan kerajaan .... Tetapi suatu hari ia terkena racun mematikan. Qian Yue dibawa berobat di kediaman di atas gunung selama bertahun-tahun, tetapi setelah kembali ia justru menjadi sangat berbeda, ia senang meminum arak hingga setiap hari pergi ke rumah bordil. Qian Yue tidak lagi tertarik dengan urusan kerajaan dan selalu hidup sesukanya."
Sejenak Lan Hua merundukkan pandangannya, satu fakta lagi yang baru saja ia ketahui jika kehidupan Qian Yue tidak semudah yang ia bayangkan. Awalnya ia mengira karena menjadi seorang pangeran makanya ia memiliki sikap manja yang lama kelamaan semakin menjadi. Rupanya Qian Yue dahulunya juga pernah mengalami kemalangan.
Qian Yue memang memiliki masa sulit itu, saat itu umurnya baru menginjak angka sembilan tetapi ia diracuni oleh racun ular hitam yang saat itu juga langsung melumpuhkan dirinya, racun berbahaya itu biasanya langsung membunuh hanya dalam beberapa saat. Untungnya Qian Yue masih selamat, meski sudah ditangani racunnya sudah menyebar hingga ke sum-sum tulang. Qian Yue masih koma dan keadaannya terus memburuk sehingga raja meminta tabib terkenal turun gunung dan membawa Qian Yue untuk dirawat bersamanya.
Pengobatan itu sangat lama, Qian Yue baru kembali setelah berusia remaja. Dari anak yang selalu bisa menjawab pertanyaan pengajar dan selalu antusias dalam politik kerajaan, Qian Yue berubah menjadi pemuda dingin yang tidak lagi perduli dengan apapun. Setiap hari ia hanya menghabiskan waktunya untuk mabuk, dan pergi bermain wanita.
Banyak orang mengatakan jika racun sangat berbaya, suatu keajaiban Qian Yue bisa selamat. Sehingga itu telah memutus beberapa syarat Qian Yue sehingga ia menjadi orang yang sangat berbeda.
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
__ADS_1
And, see you.