The Prince Bride

The Prince Bride
20. Sisi Lain Pangeran Ketiga.


__ADS_3

"Nona Lan Hua ini memang tidak kenal takut Tuan, contoh kecilnya saja jika itu gadis lain akan kabur melihat kawasan terlarang tetapi Nona Lan Hua justru dengan berani masuk."


Seringaian muncul di bibir lelaki bertopeng itu, selanjutnya ia menegak arak yang ada di tangannya dalam satu tegakkan.


"Bukankah dia menarik, Bai?"


Bai mengangguk, "Nona Lan Hua sepertinya berbeda dengan gadis lainnya, Tuan Muda."


"Berhenti memanggilnya Nona, dia itu sudah menikah Bai."


Xiao Bai menggaruk kepalanya, "Ah benar, dia ini istri pangeran."


"Bai apakah kau tahu sari magnolia dari barat yang kemarin ia minta digunakan untuk apa?"


Bai menggelengkan kepalanya, "saya tidak tahu Tuan Muda."


"Dia ini memiliki rencana licik agar segera menjadi janda."


Kedua mata Bai membola, "apakah dia berani melakukan hal sebesar itu?"


"Dia berani. Gadis licik ini akan berguna jika diajak kerja sama."


"Tuan memang bijak, tetapi takutnya Nona Lan Hua akan mengacaukan rencana Tuan Muda."


"Minta Xiao Du untuk mencari informasi tentang gadis itu."


"Baik, Tuan Muda."


***


"Melihat Qian Yue masih selamat saja aku sangat bersyukur, aku tidak memberikan sangsi lebih atas perbuatannya. Karena Qian Yue adalah putraku, aku sangat menyayanginya."


Kalimat itu selalu saja berputar di kepala Lan Hua bahkan setelah ia berkali-kali menepisnya. Bagaikan alunan melodi terkenal, ia selalu saja membuatnya teringat ucapan ratu.


Ratu begitu menyayangi Qian Yue, karena bagaimanapun dia adalah putranya. Katakan saja kasih sayang ibu itu sepanjang masa, tidak perduli bagaimana kelakuan anaknya. Terlebih Qian Yue berkelakuan buruk seperti itu karena sakit bukan sedari kecil.

__ADS_1


"Apakah keputusanku untuk membunuhnya ini tepat?" batinnya.


Ia menuangkan cairan di dalam kaca bening itu ke dalam arak, lalu membiarkannya terlarut sendiri. Lan Hua tidak juga beranjak, ia masih menatap saja arak itu selama beberapa saat.


Klek,


Pintu terbuka membuat Lan Hua sedikit terkejut, nampaklah sosok Qian Yue yang tengah menatapnya tajam.


Lelaki itu beringsut mendekat ke arah Lan Hua, ia mendudukan dirinya di depan Lan Hua. Mereka benar-benar berhadapan dengan sebuah meja yang memberi jarak pada mereka.


Seketika saja hawa dingin memenuhi tempat itu, seolah aura dari Qian Yue memanglah sangat kuat.


"Kau ingin menyiapkan arak dewa lagi untukku, sungguh istri yang baik."


Lan Hua tidak berkata apapun, ia hanya bisa terdiam sembari menjatuhkan pandangannya pada lantai.


"Kalau begitu tuangkan arak itu untukku."


Lan Hua tidak melakukan apapun selama beberapa saat, hingga ia akhirnya memantapkan dirinya untuk menuangkan arak dan memberikannya pada Qian Yue.


Qian Yue tersenyum miring, "Apakah begitu besar kebencianmu padaku?"


Menyadari Qian Yue tahu jika ia memberikan racun pada arak dewa itu Lan Hua membolakan kedua matanya. Ia sangat terkejut, cairan racun itu seperti air bening dan tidak menyebabkan perubahan warna sama sekali dalam minuman, ia juga tidak berbau sama sekali. Jadi darimana Qian Yue mengetahuinya?


Lan Hua segera mengatur ekspresinya, ia tidak boleh semudah itu tertangkap basah.


"Lan Hua tidak mengerti maksud Pangeran."


"Arak dewa seharusnya memiliki warna sedikit keruh dan terasa hangat seperti jahe. Tetapi arak dewa milikmu ini begitu berbeda selain dari aromanya."


Lan Hua memperhatikan dengan seksama arak itu tetapi rupanya tidak terjadi banyak perubahan dari awal saat ia belum memberikan racunnya. Tidak banyak perubahan atau dia saja yang kurang teliti.


"Mungkin arak dewa ini belum matang sehingga berbeda dengan arak dewa yang telah matang, Pangeran."


"Bukankah ini terlalu bening dan dingin?"

__ADS_1


Lan Hua tidak bisa lagi menjawab pertanyaan itu.


"Seharusnya kau berterima kasih kepadaku bukannya membenciku."


Mendengarkannya Lan Hua serasa ingin menghantam mulutnya yang menyebalkan.


"Cih, berterima kasih pada orang sepertimu? Orang yang tanpa sopan santun merebut mahkotaku dan orang yang sangat memalukan karena setiap hari pergi bersenggawa dengan banyak pelacur? Aku sangat tidak sudi."


"Rupanya kau tidak pintar menilai situasi, memangnya jika saat itu aku tidak berada di kamarmu berapa banyak orang yang akan membicarakannya."


Lian Lan Hua adalah sosok wanita yang memiliki kecantikan seperti dewi, ia menikah pada pangeran ketiga yang setiap malam pergi ke rumah bordil. Jika pada malam pertama pangeran ketiga tidak mendatangi kamarnya maka akan tersiar kabar jika Lan Hua ini tidak seterhormat yang dibicarakan, orang-orang pasti akan mencelannya karena tidak bisa merebut perhatian pangeran ketiga.


Akan tersiar kabar jika para pelacur lebih menarik ketimbang Lan Hua.


"Aku sudah menyayat jariku agar kain putih pernikahan itu merah tetapi balasan yang kudapatkan adalah racun mematikan ini?"


Sejenak saja Lan Hua tidak bisa menelan air liurnya, tubuhnya juga mendadak kaku mendengar pernyataan itu.


"Kau sama sekali tidak menyentuhku?"


"Menurutmu?"


Lan Hua bukan lagi anak kecil, saat itu ia memang tidak merasakan ada tanda bekas kecupan di tubuhnya bahkan ia juga tidak sama sekali merasakan sakit di area bawahnya. Seharusnya itu akan terasa perih jika benar-benar berdarah. Lan Hua adalah orang yang akan mudah terbangun dari tidurnya jadi jika ada yang mengerayangi tubuhnya tentu ia akan bangun.


Lan Hua terlalu kesal saat itu hingga tidak memperhatikan fakta ini.


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Dont forget to click the vote button!


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^


And, see you.

__ADS_1


__ADS_2