
"Nona pangeran sudah ditemukan, tetapi keadaannya—" kalimat dari pelayan itu menggantung, ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Tetapi dari keraguan pelayan memberikan informasi, Lan Hua sudah tahu jika Qian Yue tidak baik-baik saja.
Lan Hua langsung bangkit dan melangkahkan kakinya menuju ke tenda lain, benar saja sudah ada beberapa orang di depan tenda itu. Mei Lan juga berada disana, sedangkan Qiu Yue tengah diobati oleh tabib di dalam tenda. Sengaja tidak ada yang boleh masuk terlebih dahulu, agar tabib bisa fokus mengobati, terlalu sesak orang tidaklah bagus karena tenda itu tidaklah begitu luas.
"Apa yang terjadi?" tanya Lan Hua pada Mei Lan.
Sedari tadi Lan Hua memang sangat santai karena ia sudah yakin jika Qian Yue akan baik-baik saja. Tetapi setelah mendengar jika lelaki itu terluka tentu ia menjadi panik, bagaimanapun Qian Yue ini adalah suaminya.
"Pangeran kedua dan ketiga ditemukan tidak sadarkan diri di wilayah hutan bagian barat, pengawal mereka juga mengalami hal yang sama. Sepertinya mereka diserang." Jelas jenderal Mo yang kebetulan mendengar pertanyaan Lan Hua.
"Lalu bagaimana keadaannya, jenderal Mo?"
"Saya kurang tahu, mungkin harus menunggu tabib keluar terlebih dahulu. Semoga saja kedua pangeran baik-baik saja."
Lan Hua mengangguk paham, mengerti dengan informasi dari jenderal Mo ini.
"Ini aneh, area hutan milik kerajaan seharusnya aman."
__ADS_1
"Sebelum perburuan sudah dilakukan patroli, semuanya sudah aman Putri, seharusnya tidak ada yang berani memasuki hutan kerajaan."
***
Sepasang ibu dan anak itu terlihat tersenyum puas, teh bunga yang tengah diseduh beraroma sangat manis sama persis dengan suasana hati mereka yang tengah senang.
"Mereka berdua terluka parah, Ho'er. Hanya dengan satu kali bidik rupanya dua pangeran sudah terkena akibatnya."
Su Ho menganggukan kepalanya, rencana ini sudah ada di kepalanya sedari dahulu. Ia dan ibunya sudah menyusun strategi, bahkan memasang banyak jebakan juga disana.
Awalnya hanya menargetkan Qiu Min, tapi siapa sangka Qian Yue juga masuk ke wilayah hutan bagian barat.
Selir agung menggeleng, "Tidak akan, para pembunuh banyak yang mati di tempat, sedangkan yang selamat tentu sudah pergi kabur dan tidak muncul kembali lagi. Aku sudag membayar sangat mahal agar mereka menutup rapat kejadian ini."
Su Ho menganggukan kepalanya, "Qiu Min ini meski terluka parah tetapi ia tidak cedera, seharusnya salah satu tangan atau kakinya terpotong agar tidak memiliki kesempatan lagi."
"Ini saja sudah bagus Ho'er, kita sudah bisa mengambil banyak langkah disaat Qiu Min tidak bisa apa-apa."
Mencelakai anggota keluarga kerajaan adalah kesalahan besar, mereka pun dijaga oleh penjagaan ketat. Bisa melukai sampai parah tentu adalah keberhasilan yang besar.
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu sekarang, sudahkah kau memikirkannya Ho'er?"
Su Ho menganggukkan kepalanya, "Tentu saja mendesak ayah untuk menentukan putra mahkota. Aku berencana mengajak kerjasama perdana menteri Lian. Dia adalah orang yang paling didengar oleh Raja, jadi dia harus berada di kubu kita Ibu."
"Menteri Lian ini susah di dapatkan, dia tidak pernah bergabung dengan siapapun. Takutnya kau tidak akan berhasil mengajaknya bergabung."
"Jika dengan cara baik-baik dia tidak ingin bergabung, maka harus dengan sedikit paksaan. Bukankah itu yang Ibu ajarkan?"
Selir agung tersenyum, buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Bagaimana selir agung mendidik Su Ho tentu sekarang sudah nampak. Licik, adalah sebuah hal yang sudah tertanam semenjak Su Ho kecil, jadi jangan tanyakan lagi darimana sifat itu diturunkan.
"Kau memang putraku paling pintar Su Ho."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
__ADS_1
And, see you.