
"Minumlah, ramuan ini akan membuatmu lebih baik."
Tuan Muda Fei menyodorkan sebuah ramuan berwarna coklat untuk Lan Hua, tetapi gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya. Hanya terduduk di ranjang dengan memeluk kedua lututnya. Pandangan Lan Hua nampak kosong.
"Minumlah, setelahnya aku akan mengatarkanmu kembali."
"Kenapa harus aku?" pertanyaan itu mengalun dengan dingin dari bibir Lan Hua.
Lan Hua rasa masih banyak gadis di luaran sana yang lebih cantik darinya, mengapa harus ia yang ditiduri oleh lelaki ini.
Lan Hua sangat menjaga dirinya, saat ia salah paham mengira sudah di tiduri pangeran ketiga saja ia sangat marah, padahal saat itu mereka sudah di ikat pernikahan. Lan Hua baru lega saat tahu ternyata dirinya masih perawan, lalu kali ini justru mahkotanya harus direnggut oleh orang asing.
"Bukankah itu lebih baik daripada dilecehkan oleh pangeran yang setiap hari pergi ke rumah bordil?"
"Tidak!" jawab Lan Hua dengan lantang.
"Kau tahu bukan, bagaimana reputasiku?"
Siapa yang tidak mengenalnya, tuan muda Fei yang agung. Pemilik paviliun Fei yang begitu terkenal, meski ia tidak pernah muncul di hadapan publik tetapi orang ini begitu populer.
"Kau jauh lebih buruk, karena setidaknya dia adalah suamiku, seburuk apapun dia kami masih pantas berhubungan. Sedangkan kau, hanya seorang lelaki brengsek yang merampas sesuatu yang sangat berharga."
Tuan Muda Fei terdiam sebentar, raut wajahnya masih saja sulit untuk ditebak.
"Marilah aku akan mengantarkanmu kembali ke istana."
Lan Hua masih diam di tempatnya, ia sama sekali tidak tertarik untuk beranjak.
__ADS_1
"Baik, setelahnya aku tidak sudi bertemu dengan penjahat sepertimu. Tolong jangan pernah lagi sekalipun muncul di hadapanku."
"Lian Lan Hua!"
Lan Hua justru menangis, kini isakan itu berubah menjadi begitu memilukan. Tuan muda Fei diam-diam mengepalkan tangannya. Ia memeluk Lan Hua, membiarkan gadis itu menangis di balik dada bidangnya.
"Kau pantas membenciku, aku memang sangat bersalah padamu. Tapi sekarang aku sudah memiliki tanggung jawab terhadapmu, aku akan selalu menjagamu Lan Hua."
***
Ming Xia sudah menata berbagai hidangan di dihadapannya, mulai dari kudapan hingga berbagai jenis makanan berat tersedia disana. Itu adalah hasil masakan tangannya sendiri, ia memang ahli dalam hal memasak, jadi sudah biasa memasak seperti ini.
Su Ho memasuki ruangan itu, ia langsung meraih pinggang Ming Xia untuk memeluk gadis itu.
"Pangeran sudah datang,"
"Tentu saja Ming Xia, kau menyuruhku datang untuk memintaku mencicipi masakan lezatmu ini?"
"Silahkan duduk Pangeran."
Su Ho menurut, ia duduk di kursi. Ming Xia dengan anggun menyajikan makanan ke dalam piring Su Ho. Disana ada ayam panggang, daging kukus dan beberapa masakan lainnya, Ming Xia mengambilkan semuanya hingga piring Su Ho penuh.
Ming Xia juga menuangkan arak ke dalan gelas Su Ho, itu adalah arak mahal yang memerlukan banyak dari bagian tabungannya untuk membeli itu.
"Ini terlalu banyak Ming Xia,"
Ming Xia menggeleng, "tentu saja tidak Pangeran, ini untuk merayakan sesuatu yang menggembirakan."
__ADS_1
Su Ho mengeryitkan dahinya, "Sesuatu yang menggembirakan? Apa itu?"
Ming Xia mendekatkan bibirnya ke telinga Su Ho, "Aku hamil Pangeran."
"Apa?!"
Su Ho nampak terkejut mendengarnya, ia baru saja berhubungan dengan Ming Xia, belum terlalu lama. Mungkin baru sebulan terakhir, dalam sebulan itu memang setiap bertemu mereka pasti berakhir berhubungan badan di ranjang tetapi Su Ho tidak mengira Ming Xia akan hamil secepat itu.
Melihat raut Su Ho yang tidaka bagus, Ming Xia menjadi menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Apakah Pangeran tidak senang? Ini adalah anakmu pangeran."
"Bukan begitu Ming Xia, hanya saja saat ini tahta putra mahkota belum aku dapatkan. Bisa menjadi berbahaya jika ada yang tahu kau hamil, jadi sebaiknya sembunyikan dulu kehamilanmu. Dan kita juga harus tetap menyembunyikan hubungan kita, setelah aku naik tahta, baru aku akan menikahimu Ming Xia."
"Tapi itu kapan Pangeran? Bukankah terlalu lama jika menunggumu mendapatkan tahta teerlebih dahulu."
"Secepatnya, aku akan mendapatkan tahta secepatnya. Dan saat itu kau akan menduduki kursi putri mahkota, tunggulah sebentar lagi Ming Xia."
Ming Xia mengangguk, "Baik Pangeran, Ming Xia akan tetap diam dan menunggunnya."
"Bagus, kau memang yang terbaik, Ming Xia."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
__ADS_1
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.