
Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan, manik itu melihat ke kanan dan ke kiri bersamaan dengan rasa sakit yang menjalar ke tubuhnya. Ming Xia kini memiliki kesadaran penuhnya setelah beberapa saat.
"Kau sudah sadar?" pertanyaan itu berasal dari Lan Hua yang baru saja memasuki ruangan.
"Si-siapa kau? Apa yang terjadi denganku?"
"Kau tadi pingsan di toko kain."
Ming Xia memang sudah tidak enak badan sedari pagi, tetapi ia tetap harus pergi ke toko kain untuk mencari uang, karena penghasilan satu-satunya mereka ya hanya berasal dari toko kain itu.
"Terima kasih sudah menolongku."
Lan Hua tertawa miring, "Kau sedang hamil?"
Merasa malu Ming Xia segara menarik selimut agar perutnya tertutup sempurna tetapi nyatanya perutnya itu masih terlihat besar.
"Kenapa kau bodoh sekali dengan ingin menggugurkan anakmu itu, sedangkan banyak orang di luar sana yang menginginkan seorang anak."
"Ayahnya saja tidak menginginkannya lalu untuk apa aku mempertahankan anak ini?"
Ming Xia tidak lagi memiliki semangat hidup sejak kejadian dimana selir agung mendapatinya bersama Su Ho. Saat itu kandungannya lemah kata tabib, Ming Xia nekad meminum ramuan dari selir agung.
__ADS_1
Setelah meminumnya, perutnya sakit bukan main dan ia juga mengalami pendarahan. Karena itulah Ming Xia meminum lebih banyak lagi ramuan penggugur kandungan tetapi rupanya upaya Ming Xia itu tidak berhasil, saat memeriksakan dirinya ke tabib kandungannya memang masih lemah tetapi ia tidak gugur dan masih bertahan.
Ming Xia pada akhirnya menyerah meminum ramuan penggugur kandungan, saat sudah mulai membesar kedua orang tuanya tahu. Ibunya menjadi jatuh sakit dan ayahnya tidak pernah mau berbicara dengannya. Tetapi itu tidak berlangsung lama.
Setelah kondisi itu terjadi kurang lebih satu minggu, kedua orang tuanya pun menerimanya dan memberikan dukungan pada Ming Xia. Ibunya sampai sekarang masih sakit tetapi ia sudah tidak marah lagi akan kehamilan Ming Xia.
Meski seperti itu, Ming Xia masih tidak bisa menerima bayi itu. Su Ho saja membencinya lalu untuk apa anak itu masih Ming Xia pertahankan.
"Kasian sekali anak itu, ayahnya tidak menginginkannya dan juga ibunya menginginkan dia mati. Bukankah ia hadir juga karena perbuatan ayah dan ibunya?"
Ming Xia terdiam, memang seperti itu yang terjadi. Meski itu adalah anak haram tetapi tanpa perbuatan mereka berdua anak itu hadir.
"Anak itu tidak bisa memilih akan terlahir dari siapa. Lagi pula anak itu hasil perbuatan kalian, mengapa sekarang kalian justru ingin lari dari tanggung jawab."
"Bukankah semua orang sudah tahu jika kau hamil? Itu artinya mau kau melahirkannya atau menggugurkannya tetap saja kau sudah menanggung malu bukan? Jika sampai anak itu mati, itu artinya kau sudah gagal menjadi seorang wanita dan juga kau sudah gagal akan tanggung jawabmu."
Ming Xia memang sudah di gunjing sana-sini baik oleh tetangganya maupun kerabatanya, tetapi Ming Xia tidak bisa berbuat banyak karena kehamilannya ini begitu cepat membesar dan lebih besar dari usia kandungan seharusnya. Ming Xia tidak bisa menutupi itu lagi dan hanya bisa pasrah dengan keadaan yang terjadi.
"Dia darah dagingmu, anak itu sekarang tertidur di pertumu. Bagaimana bisa kau begitu tega ingin membunuhnya?"
Ming Xia kini memangis tersedu, kalimat yang baru saja ia dengar ini ada benarnya juga. Setiap malam saat akan tidur ia memang merasakan jika perutnya bergerak-gerak. Anaknya terasa sangat leluasa disana. Jika bukan karena ketidak inginan Su Ho maka Ming Xia juga tidak akan pernah sampai menggugurkan anak itu.
__ADS_1
"Bukalah pikiranmu, anakmu akan memanggilmu ibu berulang kali dan menangis jika tahu kehadirannya tidak diingkan. Cari lelaki itu dan minta pertanggung jawaban, karena bagaimanapun itu adalah hasil ulah kalian."
"Dia sangat tinggi dibandingkan dengan rakyat kecil sepertiku, aku tidak bisa berbuat banyak saat dia melangkahkan kakinya pergi."
"Siapa dia?"
Ming Xia menatap Lan Hua agak lama, orang di depannya ini sepertinya bisa ia percaya.
"Pangeran keempan, Han Su Ho."
Lan Hua sedikit terkejut memang, Su Ho ini memang selalu penuh dengan kelicikan tetapi Su Ho tidak pernah terlihat sering bermain wanita, sampai sekarang saja ia tidak mengangkat selir atau seorang istri.
"Pikirkan perkataanku dan jangan lakukan hal bodoh dengan melukai anakmu, dia membutuhkanmu."
Ming Xia tidak menganggukinya, tetapi pikirannya sekarang sedikit terbuka. Mungkin ia akan mempertimbangkan lagi untuk tetap mempertahankan anak ini.
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
__ADS_1
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.