
"Apakah Pangeran yakin akan ikut berebut kursi putra mahkota?" pertanyaan itu berasal dari Xiao Chen yang sedang membereskan catur yang baru saja tuannya mainkan.
Pangeran ketiga mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Xiao Chen itu.
"Sekalipun aku sama sekali tidak menginginkannya tetapi aku harus tetap mendapatkannya."
Kursi putra mahkota itu tidaklah mudah di dapatkan, jika Lian Wu mendapatkannya karena itu memberian raja maka sekarang akan sangat berbeda. Raja belum mendapatkan orang paling tepat untuk mendudukki kembali kursi itu.
Masih ada Qiu Min dan Su Ho yang sama-sama menginginkannya. Itu artinya Qian Yue masih harus mengalahkan mereka berdua terlebih dahulu.
"Bukankah lebih baik membiarkan Pangeran kedua dan keempat bertarung dahulu, lalu saat keduanya sudah tumbang baru Pangeran masuk. Bukankah itu lebih baik Pangeran?" saran Xiao Chen.
Baik dari pihak Qiu Min maupun Su Ho sama-sama memiliki kubu yang kuat, mereka memiliki pendukung masing-masing yang cukup berpengaruh. Sehingga bisa dikatakan tidak ada yang lebih lemah, hanya status Su Ho saja yang merupakan putra selir agung tapi selebihnya mereka itu seimbang jika bertarung.
Jika mereka berdua sama-sama melawan maka yang tersisa nanti hanyalah seri, hanya tinggal menunggu kelengahan salah satu baru bisa salah satunya menang.
"Menunggu mereka bukanlah tontonan yang bagus, itu terlalu membosankan."
"Tapi bukankah kita tidak memiliki dukungan dan dengan apa tuan akan melawan mereka berdua. Saya hanya takut jika tuan justru dalam bahaya karena ikut merebut tahta. Bukankah tuan seharusnya memilikirkan ini lagi?"
Qian Yue tidak menunjukkan mimik marah sama sekali meski pernyataan Xiao Chen ini sedikit menyinggung dan merendahkannya.
__ADS_1
"Lalu apa salahnya mencoba?"
"Tapi Pangeran, bagaimana jika pangeran nanti berada dalam bahaya?"
"Sudah diamlah, aku akan pergi ke paviliun Anling. Jagalah kediaman dengan baik."
"Baik Pangeran," jawab Xiao Chen.
Setelahnya Qian Yue melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, membiarkan Xiao Chen disana seorang diri. Seperti biasa Xiao Chen hanya akan menjaga kediaman pangeran itu hingga malam tiba barulah ia akan datang ke paviliun Anling untuk menjemput Qian Yue yang kemungkinan besar sudah mabuk berat.
***
Xiao Min spontan menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan nonanya itu, "kurasa tidak nona, pangeran ketiga memangnya tahu soal pemerintahan? Setiap hari hanya pergi ke rumah bordil saja, mungkin auranya memang menakutkan dan berwibawa. Tapi bersaing dengan pangeran lainnya tidaklah semudah itu."
"Kau benar, tapi Qian Yue ini sudah banyak sekali memiliki perubahan."
"Nona benar,"
Tok... Tok...
Pintu diketuk membuat Xiao Min langsung bergegas membuka pintu, ada seorang pelayan yang memberikan surat.
__ADS_1
"Nona ada surat untuk Anda,"
Lan Hua langsung menerimanya, ia membuka surat itu.
Datanglah ke paviliun rengah kawasan terlarang, bukankah kau masih memiliki hutang denganku?
Lan Hua langsung meremas surat itu, ia kesal karena nyatanya hari itu ia memang membawa pulang racun itu secara cuma-cuma. Sekarang ia memiliki hutang, padahal racun itu juga tidak berhasil untuk membunuh Qian Yue.
"Xiao Min aku akan keluaer sebentar,"
"Baik Nona."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1