
"Apakah kau sudah menemukan dalang dari penyeranganku hari itu?"
Lelaki di depannya itu mengegeleng, ia sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari informasi tetapi sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Maaf Pangeran kami belum menemukannya, pihak istana juga belum menemukan petunjuk apapun, para pembunuh itu sangat bersih. Hanya ada keterangan dari warga dibawah hutan jika mereka melihat orang-orang berpakaian hitam memasuki area hutan pada dua hari sebelumnya."
"Warga bodoh! Mereka tidak melaporkan apapun setelah melihat keanehan."
"Tenanglah Pangeran, istana saja belum berhasil menemukannya itu artinya para pembunuh ini memang terlatih." ucap seorang pria lagi yang tengah menemani Qiu Min.
"Xunlong, apakah menurutmu ini ulah Su Ho?"
"Bisa jadi Pangeran, yang terluka ada pangeran dan juga pangeran ketiga. Satu-satunya orang yang bermasalah dengan kalian tentu adalah pangeran ke-empat."
"Tidak menyangka Su Ho selicik ini."
"Tapi tetap saja belum ada bukti Pangeran, kita tidak bisa asal menuduh."
"Kau benar, untuk saat ini Su Ho masih aman. Lihat saja nanti, bagaimana dia akan menderita."
"Ah iya Pangeran, saya sudah menemukan kekasih pangeran ke-empat."
Xunlong meminta anak buahnya untuk menyelidiki kekasih Su Ho, berkat informasi dari paviliun Fei mengenai Su Ho memiliki kekasih dan kepergiannya akhir-akhir ini karena menemui sang kekasih. Tentu saja ini adalah kesempatan bagus untuk mencari kelemahan Su Ho.
"Siapa gadis itu?"
"Gadis itu bernama Ming Xia, putri dari pedangang, bisnis toko kain yang digunakan untuk mencari makan sehari-hari. Ming Xia ini bukan berasal dari keluarga kaya, hanya gadis biasa saja. Pangeran ketiga beberapa kali mengunjungi Ming Xia, bahkan sering bermalam dengannya di sebuah tempat hiburan."
Qiu Min menyunggingkan senyumannya, "Ini bisa menjadi kelemahanya, seorang pangeran yang memiliki budi luhur tentu tidak akan sembarangan meniduri seorang gadis. Kumpulkan bukti kuat agar Su Ho ini bisa mendapatkan nama buruk di depan ayahanda."
"Baik, Pangeran."
***
__ADS_1
Lan Hua hanya menatap manisan ceri di depannya dengan malas, padahal itu adalah salah satu makanan kesukaannya. Manisan ceri yang lezat karena harganya cukup mahal, tetapi kini Lan Hua tidak bernafsu untuk memakannya.
Tiba-tiba saja ada sebuah tangan lain yang mengambil manisan ceri itu lalu memakannya, Lan Hua menatap orang itu dengan kesal. Bukan kesal karena manisan cerinya di ambil tetapi ia kesal karena memang tengah kesal dengan lelaki ini.
"Untuk apa kau datang kesini, bukankah paviliun Anling lebih menyenangkan?"
"Kau cemburu."
Lan Hua membolakan matanya, ia memang sangat kesal karena Qian Yue tidak menghargainya yang menemaninya semalaman. Tetapi Qian Yue ini rupanya sangat percaya diri.
"Hais untuk apa aku cemburu, kau memang selalu pergi kesana dan aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan."
Qian Yue terkekeh, selanjutnya ia mengambil lagi manisan ceri untjk dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Kau hari ini tidak pergi lagi ke paviliun Anling?"
Qian Yue menggeleng, "Jika pergi lagi kesana nanti aku tidak terlihat seperti orang sakit."
"Hebat sekali, padahal saat itu kau benar-benar sekarat."
Lan Hua tidak habis fikir saja, saat semalam sudah seperti akan mati tetapi paginya sudah bisa pergi. Qian Yue ini memang sangat sulit sekali untuk ditebak.
"Aku tidak akan mati hanya karena racun dingin, selama ini tubuhku selalu mengonsumi banyak obat berharga jadinya racun dingin ini tidak akan mempan meski tetap menimbulkan efek samping."
Lan Hua teringat dengan keluh ratu yang mengatakan sangat bersyukur bisa mengetahui Qian Yue selamat. Selama ini Qian Yue menghabiskan banyak waktunya untuk berobat, ia mengkonsumsi banyak obat bergarha, tubuhnya ini menjadi sedikit kebal terhadap racun. Hanya sedikit, karena ia tetap bisa terkena racun tergantung tingkat racunnya. Apakah itu berbahaya atau tidak.
Pandangan Lan Hua teralihkan pada tangan Qian Yue yang mengalirkan darah, darah itu berasal dari lengan atas Qian Yue hingga mengalir lalu menetes di lantai. Tetapi rupanya Qian Yue tidak sadar dengan hal itu.
"Qian Yue, lukamu terbuka."
Lan Hua langsung bergegas membuka tali hanfu Qian Yue, awalnya lelaki itu keheranan dengan Lan Hua yang langsung mengambil langkah itu. Namun rupanya Lan Hua hanya menggendorkan tali hanfu lalu menurunkan bagian pundak hingga lengan saja.
Nampak perban yang sudah berdarah itu, luka itu terlihat tidak dirawat dan justru digunakan untuk beraktifitas seperti biasa hingga terbuka seperti itu.
__ADS_1
"Apakah tidak menyaktikan terbuka seperti ini?"
Qian Yue tidak seperti sedang kesakitan, ia justru sampai tidak sadar jika darahnya sudah menetes hingga lantai.
"Tidak."
"Qian Yue, dasar kau ini!"
Lan Hua beranjak, ia mengambil kotak obat laku membuka perban Qian Yue. Benar saja luka itu terbuka, sama sekali tidak diobati lagi setelah tidak dirawat oleh tabib.
Lan Hua membersihkan darah itu, lalu memberikan bubuk obat yang menghentikan pendarahan. Lan Hua mengoleskan beberapa bubuk obat lagi, sembari matanya mencuri ekspresi Qian Yue. Ia kira Qian Yue akan meringis kesakitan, rupanya lelaki itu diam saja, ekspresinya tidaklah berubah sama sekali.
Melihat itu Lan Hua mempercepat pekerjaannya, ia memberikan perban agar luka itu aman.
"Qian Yue, seharusnya kau tidak usah sok pahlawan membantu pangeran kedua menghindari panah, sekarang kau jadi susah sendiri kan."
Qian Yue menyungginkan sebuah senyuman, "Memang itu tujuanku, bukankah dengan luka kecil ini aku bisa memanah dua burung?"
Lan Hua mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Qian Yue.
"Apa maksudmu?"
"Suatu saat aku akan memberitahumu."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1