
Dihadapan Lan Hua sekarang adalah paviliun Anling yang membentang luas, mereka berada di lantai paling dasar yang merupakan tempat pertemuan. Ada sebuah singgahsana megah dengan banyak gulungan di lemari belakang singgahsana.
Tempat ini adalah yang paling sepi daripada tempat lainnya, sehingga Qian Yue mengajak Lan Hua kesini. Ruang pertemuan ini hanya akan ramai saat pertemuan terjadi, sedangkan pada hari biasa seperti ini tentu akan sangat senggang bahkan tidak ada orang hanya pelayan saja yang datang membersihkan.
Meski begitu melalui tempat pertemuan ini terlihat bagaimana kemegahan paviliun Fei, ia terdiri dari lima lantai ke bawah yang pasti membangunnya saja akan sangat sulit, ia juga membutuhkan biaya yang sangat besar hingga bisa terbagun seperti ini.
"Kau benar-benar memiliki semua ini?"
Banyak furnitur langka dan desain ruangan juga terbilang unik, beberapa patung berharga juga menjadi hiasan disini.
"Tempat ini adalah pusat pemerintahan paviliun Fei, paviliun di balik bukit adalah tempat penyimanan obat dan racun berharga, sedangkan yang berada di bangunan terlarang adalah tempatku menenangkan diri."
Lan Hua sampai terganga mendengarkan hal itu, Qian Yue ini memberikan kejutan yang cukup besar untuknya.
Keberhasilan sebesar itu mungkin terlihat tidak mungkin, tetapi perlu diketahui jika Qian Yue juga membutuhkan kerja keras bertahun-tahun untuk membuat paviliun Fei sebesar ini. Ia mati-matian memulai semuanya dari awal hingga berada di atas seperti ini.
"Paviliun Fei terkenal dengan informasinya, apakah kau benar-benar seajaib itu bisa mengetahui segalanya."
Qian Yue menggeleng, "Tentu saja tidak, paviliun Fei memiliki anggota yang terstruktur, mungkin akan sulit untuk menjelaskannya tapi informasi dari kami seratus persen benar."
Bukan hanya pencari informasi, tetapi paviliun Fei juga terjun ke pasar gelap untuk mencari harta berharga dan menjualnya lagi. Paviliun Fei juga memiliki pasukan prajurit yang sangat terlatih, mereka Qian Yue gunakan untuk mengatasi keadaan terdesak.
"Kau sudah memiliki nama sebesar ini, bukankah jabatan putra mahkota tidak sebanding dengan tuan muda Fei? Lalu untuk apa lagi kau menginginkannya Qian Yue?"
__ADS_1
"Bukan untuk diriku, tetapi untuk rakyat dan kerajaan."
Qian Yue sedari dahulu sebenarnya sama sekali tidak tertarik dengan perebutan tahta, saat kakak sulungnya naik tahta ia bisa tenang karena yakin jika ia tidak akan berbuat macam-macam.
Tetapi setelah ia dibunuh, Qian Yue memiliki tekat lain. Ia ingin membalaskan dendam kakaknya itu pada orang yang membunuhnya yaitu menghancurkanny sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya benar-benar hancur.
"Kau tahu bagaimana Qiu Min dan Su Ho? Jika Qiu Min naik tahta ia akan menjadi seorang raja yang kejam dan hanya menuruti egonya sendiri, sedangkan Su Ho yang licik itu tidak akan peduli dengan penderitaan rakyat, ia paling mementingkan wibawanya, orang seperti ini sangat mudah dihasut."
Kalinat Qian Yue ini sangat masuk akal, selain ingin membalaskan dendam. Jika Qiu Min atau Su Ho ini yang naik tahta maka Han akan menindas rakyatnya sendiri dan yang paling parah adalah kemunduran dari Han.
Awalanya Han Lian Wu adalah orang yang paling tepat dibanding yang lainnya, tetapi sekarang tidak ada lagi yang pantas menjadi penerus Han.
Jika itu Qian Yue tentu adalah yang paling tepat, paviliun Fei saja dapat ia bangun sebesar ini karena ketelitian dan kecerdasanya. Mungkin Han bisa lebih maju lagi jika Qian Yue ikut andil dalam pemerintahan.
"Aku?" Lan Hua menunjuk dirinya sendiri.
Qian Yue mengangguk. "Tentu saja."
"Tidak, aku tidak memiliki waktu untuk ikut dalam perebutan tahta kalian."
Qian Yue menyeringai, ia menatap tajam ke arah Lan Hua. Gadis itu memundurkan langkahnya hingga dibelakangnya sudah hanya tinggal tombok, Lan Hua sudah terpojok dengan lelaki di depannya yang jaraknya sangat dekat dengannya.
"Kau sudah tahu terlalu banyak tentang paviliun Fei, biasanya mereka yang tahu akan langsung kubunuh. Jadi menurutlah jika kau ingin tetap hidup."
__ADS_1
"Kau!" Lan Hua kesal bukan main terhadap lelaki di depannya ini.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku, Lian Lan Hua."
Setelah mengucapkan itu barulah Qian Yue melangkah sedikit mundur.
"Kau menjebakku! Dasar menyebal—"
Cupp,
Belum sampai Lan Hua melanjutkan kalimatnya, Qian Yue sudah mengecupnya. Lan Hua tentu terkejut dengan perlakuan itu.
"Menurutlah aku kan suamimu."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.
__ADS_1