The Prince Bride

The Prince Bride
07. Merebut Keperawanannya.


__ADS_3

Pernikahan keluarga kerajaan tentu menjadi hal yang dinantikan oleh masyarakat, seperti sekarang ini jalanan menuju istana dipenuhi oleh rakyat ibu kota yang antusias menyaksikan iring-iringan Lian Lan Hua putri dari perdana menteri Lian.


Tidak begitu lama kereta kuda yang di naikki Lan Hua sudah tiba di pelataran istana, dibantu dengan pelayannya Lan Hua turun dengan pelan. Dibalakangnya ada pengantar pengantin yang disiapkan oleh kerajaan.


"Xiao Min sebenarnya aku mengantuk," bisik Lan Hua pada Xiao Min.


"Hais Nona ini adalah hari paling penting, Nona jangan mengantuk."


Bagaimana tidak mengantuk, Lan Hua tidak dapat tidur semalaman karena memikirkan hari ini. Lalu tadi perjalanan dengan kereta kuda yang bergoyang tentu membuat kantuknya semakin hebat dalam menyerang.


Lan Hua menghela nafas panjang sebelum melangkahkan kakinya seanggun mungkin, meski ia malas melakukan pernikahan ini tetapi ibunya sudah mendidiknya sedari kecil untuk selalu berjalan anggun di hadapan publik. Hal itulah yang membuat Nona muda keluarga Lian digosipkan sangat cantik dan anggun.


Pernikahan seorang pangeran tentu tidak semeriah pernikahan resmi putra mahkota yang bahkan bisa dilakukan tiga hari tiga malam.


Terlebih pangeran yang akan menikah adalah pangeran ketiga, pangeran tanpa prestasi dan pangeran yang memiliki reputasi terburuk.


Lan Hua telah sampai di aula utama untuk melakukan serangkaian ritual pernikahan yang dimulai dengan penghormatan pada raja dan ratu. Yang Lan Hua bisa lakukan hanyalah menirit saja karena seperti pengantin pada umumnya seluruh wajahnya ditutupi oleh cadar merah yang akan dibuka oleh suaminya dikamar pernikahan nanti.

__ADS_1


Lan Hua masih bisa melihat tetapi itu juga sangatlah samar, wajah orang saja tidak nampak sama sekali hanya siluet saja.


"Kedua mempelai memberi hormat pada raja dan ratu!"


Lan Hua menundukkan tubuhnya, ia hanya mengikuti arahan kasim.


Setelahnya serangkaian acara melelahkan dilakukan, setelah semua itu selesai Lan Hua diantarkan menuju kamar pengantin oleh beberapa pelayan. Tetapi mereka hanya menunggu diluar sedangkan Lan Hua masuk seorang diri.


Tanpa menunggu apapun lagi, ia membuka cadar yang menutupi wajahnya karena sedari tadi memang manahan untuk tidak melepaskan itu.


"Aku benar-benar mengantuk,"


***


Kelopak mata Lan Hua perlahan terbuka, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah kelambu kamar yang semalam ia tidur. Kamarnya dengan pangeran ketiga.


Jika mengingat pernikahannya kemarin maka suasana hatinya akan langsung buruk seketika, mengingat nasibnya yang berjalan begitu buruk.

__ADS_1


"Putri sudah bangun?"


Lan Hua mengeryitkan dahinya mendengarkan suara itu, ia langsung terduduk dan ternyata di samping ranjangnya sudah ada beberapa pelayan yang duduk bersimpuh.


"Malam pertama kalian dilalui dengan baik, seharusnya putri bisa beristirahat lagi tidak perlu bangun terlalu pagi." ucapan dari kepala pelayan, sedangkan tangan wanita paruh baya itu menyodorkan kain putih yang berisi noda seperti darah.


Lan Hua membolakan matanya menyadari apa yang terjadi, kain itu digunakan sebagai pertanda jika seorang wanita yang baru saja menikah masih suci. Jika keluar darah maka masih suci jika tidak maka sudah tidak.


Lan Hua beralih melihat penampilannya yang sudah tidak karuan, pakaian pernikahannya sudah tidak terikat lagi.


"Dasar kurang ajar, menyetubuhiku saat aku tertidur. Lihat saja kau!" teriakan Lan Hua.


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════


Dont forget to click the vote button!


════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════

__ADS_1


Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^


And, see you.


__ADS_2