
"Nona akan pergi kemana?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Xiao Min, pasalnya Lan Hua sudah menganti pakaiannya menjadi pakaian sehari-hari yang tidak terlalu mencolok.
"Aku akan pergi ke paviliun Anling!"
Tentu saja perasaan Lan Hua hari ini sama sekali tidak membaik, kesabarannaya sudah habis karena sampai hari sudah malam seperti ini pangeran ketiga belum juga kembali dari paviliun Anling. Rencana Lan Hua yang ingin meluapkan amarahnya itupun sama sekali belum tersampaikan.
"Nona akan sangat memalukan jika Nona pergi ke pavilun Anling dan marah-marah disana, nanti apa yang akan dikatakan oleh orang-orang."
Lan Hua mendengus, "Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain, Xiao Min!"
Seorang pelayan masuk ke dalam kediaman Lan Hua dengan sedikit berlari, nafasnya pun kini tinggal satu-satu.
"Nona, pangeran ketiga sudah kembali ke kediaman."
Lan Hua segera melangkahkan kakinya, ia memang sudah meminta agar pelayan memantau kembalinya pangeran ketiga.
Lan Hua langsung memasuki halaman pangeran ketiga yang baru dua hari menjadi suaminya itu.
"Dimana pangeran ketiga?"
"Maaf Putri, pangeran baru saja kembali tidak bisa dinganggu untuk saat ini."
__ADS_1
Lan Hua tidak memperdulikan kalimat itu, ia langsung bergegas untuk masuk ke dalam kediaman pangeran ketiga. Aroma arak begitu menyengat begitu Lan Hua membuka pintu, Lan Hua memang menyukai arak tetapi aroma pekat ini terlalu berlebihan.
Seorang lelaki dengan penampilan sedikit acak-acakan tengah menopang kepalanya dengan satu tangan. Sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk meminum arak dari botolnya langsung.
Rahanya tegas, kulitnya sehalus giok juga matanya yang setajam mata elang. Ia begitu sempurna hingga bisa membuat Lan Hua tertegun, tubuhnya juga terlihat tegap sempurna meski ia tengah dalam posisi duduk.
Tidak ingin terlalu larut dalam menatapnya Lan Hua segera menghilangkan ketertarikannya, tidak ingin hanya karena tampang ia menjadi melupakan perlakuan kurang ajar dari pangeran ketiga.
"Kau! Mengapa kau sangat kurang ajar! Bagaimana kau bisa melakukan hal sekurang ajar itu padaku hah! Kau-"
Lan Hua menghentikan kalimatnya karena pangeran mengangkat araknya.
"Kau ingin menemaniku minum arak?" ucapnya tidak nyambung dengan nada khas orang mabuk.
Lan Hua memutar bola matanya malas, ia belum sampai mengeluarkan seluruh kekesalan di hatinya tetapi rasanya akan percuma jika mengatakannya pada orang yang tengah mabuk berat ini.
"Putri ... Mengapa putri berada disini?" pertanyaan itu berasal dari kasim pribadi pangeran ketiga, dirinya yang baru datang tentu baru saja melihat Lan Hua, di tangannya ada sebuah mangkuk.
"Hei cepatlah sadarkan dia, aku ingin meminta penjelasan."
Lan Hua merebut mangkuk yang berada di tangan kasim, tetapi ia urung memberikannya pada pangeran ketiga karena merasa aneh.
__ADS_1
"Mengapa kau memberinya ramuan? Kau seharusnya memberinya sup pereda mabuk!"
"Putri, ramuan itu lebih ampuh dalam meredakan mabuk."
"Kalau begitu cepat berikan padanya, aku ingin bicara dengannya!"
Lan Hua ingin Qian Yue cepat sadar dari mabuknya. Ia ingin berbicara dengan orang normal bukan orang mabuk karena percuma saja jika ia berbicara dengan orang yang tengah mabuk berat.
"Putri bisa katakan saja pesan pada saya, nanti saya akan sampaikan pada pangeran. Saya tidak yakin pangeran akan kembali sadar dalam waktu yang cepat."
Hanya dengan meminum ramuan tidak mungkib seseorang yang mabuk akan sadar sepenuhnya, pasti juga akan membutuhkan waktu yang banyak.
Hal itu jugalah yang membuat Lan Hua akhirnya sadar dan melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.
"Baiklah aku akan kembali kesini besok pagi," ucapnya lalu benar-benar meninggalkan kediaman itu.
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
__ADS_1
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.