
"Kebakaran! Kebakaran! Tolong ada kebakaran!"
Suasana ricuh terjadi di kediaman pangeran ketiga, api sudah menyambar dimana-mana. Semua orang nampak panik, terus berusaha mengguyur api dengan air yang di timba dari danau buatan yang tidak jauh dari sana.
"Selamatkan semua yang ada di dalam!"
Awalnya api hanya terlihat menyambar bagian dapur yang berada di arah belakang tetapi dengan cepat ia berpindah ke bangunan lainnya, hingga sekarang sudah hampir setengah dari kediaman pangeran ketiga yang terbakar.
Tidak ada yang diam saat melihat api itu, mereka tetap berusaha untuk pergi memadamkannya kecuali satu orang yang hanya memandang dari jauh sembari menyunggingkan sebuah senyuman licik, siapa lagi jika bukan Su Ho.
"Ini akibat menolak kerjasama denganku, putrimu terbakar di dalam sana."
Tidak ingin ada orang lain melihatnya, kini Su Ho melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan kericuhan itu tanpa memiliki niat untuk menolong sama sekali.
***
Duduk di bawah pohon ceri sembari menikmati ceri berwarna hitam itu membuat Lan Hua senang bukan main, duduk di bawah sini sangat menyegarkan sedangkan ceri berwarna hitam ini benar-benar jauh dari ekspetasinya. Ia kira ini akan sangat pahit, tetapi rupanya berkali lipat jauh lebih manis, dagingnya sangat empuk dan berbeda kelas dengan ceri biasa.
"Marilah aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
Lan Hua menggeleng, "Tidak perlu, aku ingin disini saja menghabiskan seluruh buah ceri milikmu ini."
__ADS_1
"Kau yakin tidak ingin melihat sesuatu yang lebih menakjubkan di banding buah ceri ini?"
Lan Hua menggeleng, ia tidak bisa ditawar lagi jika mengenai makanan terlebih ceri ini begitu enak.
"Siapa sebenarnya kau itu, kau memiliki paviliun Fei yang begitu besar, paviliun di tengah bangunan terlarang dan juga paviliun yang menyimpan banyak tumbuhan aneh seperti ini."
"Aku tidak bisa memberitahumu, rahasia ini tidak ada siapapun yang tahu."
"Kau sudah dua kali menculikku dan juga pernah melakukan hal yang sangat kurang ajar denganku tapi balasannya tidak ada? Sungguh keterlaluan!"
Tuan muda Fei hanya mengulas sebuah senyuman.
"Jangan-jangan wajahmu itu hancur ya, jadi kau malu dan memakai topeng."
"Kau tidak perlu malu dengan keadaanmu, sekalipun kau buruk rupa tapi gadis manapun pasti mau denganmu melihat banyaknya hartamu dan keberhasilanmu. Kau tahu bukan jika di setiap sudut kota selalu membiacarakan kehebatan tuan muda Fei."
"Kau benar, mungkin suatu saat akan ada masanya aku membuka topengku."
"Melihat pencapaianmu ini kutebak kau pasti sudah tua, apakah kau berusia empat puluh tahun atau justru lima puluh tahun? Gawat itu artinya aku harus memanggilmu kakek."
"Keberhasilan ini tidak mudah di dapatkan, sangat sulit dan pasti kau tidak akan percaya jika kuceritakan."
__ADS_1
"Berceritalah, siapa tahu nanti aku juga akan menjadi seperti ini."
"Tidak akan cukup satu hari untuk menceritakannya."
"Hais kau ini sangat pelit, padahal hanya untuk berbagi cerita."
"Tapi aku akan mengatakan satu hal yang mungkin akan membuatmu terkejut."
"Apa itu?"
"Saat tiba di istana kau akan melihat jika kediamanmu rata dengan tanah."
Lan Hua mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?"
"Ingat saja itu dan lihat saat kau tiba di istana nanti."
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
Dont forget to click the vote button!
════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════
__ADS_1
Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^
And, see you.