The Secretary

The Secretary
PART 12


__ADS_3

Alifia kembali ke meja makan nya yang sudah di hidangkan berbagai macam menu yang ia pesan, ia memakan makanan nya dengan rasa kesal yang memenuhi hati dan fikiran nya, walaupun ia sedang marah tetap saja ia tidak bisa menahan rasa laparnya dengan melihat setumpuk makanan yang menggugah selera itu


tentu saja walau bagaimana pun ia tidak boleh mengabaikan perutnya, karena marah juga butuh tenaga kan? Ia tidak mau jika sampai pingsan di tengah jalan hanya karena marah dan kelaparan itu akan sangat memalukan!


"Dasar bos kampret, singa kutub sialan, bos biadab, bos jahat!!" Berbagai umpatan-umpatan kasar lolos terucap begitu saja di hati Alifia di sela-sela makan nya


Beberapa menit kemudian Alifia sudah berhasil menghabiskan semua makanan nya, ia pun langsung keluar dari restoran itu, kaki nya melangkah pelan menyusuri parkiran melewati beberapa mobil yang terparkir rapi di sana


"Alifia.."


Tiba-tiba Alifia mendengar suara orang memanggilnya, suara terdengar tak asing di telinga nya, ia pun membalikkan tubuhnya mencari sumber suara itu, dilihatnya seorang yang sangat menyebalkan untuknya itu sedang berdiri di samping sebuah mobil dengan gaya so' cool nya


Apa-apaan ini? Bukan nya si bos kampret itu udah pulang kok ini masih disini? Gue engga lagi mimpi kan? Apa jangan-jangan dia bisa membelah wujud jadi, hihh serem bangett


".Alifia .Putri .Prameswari! Saya memanggil kamu kenapa kamu bengong!" Nada suara nya meninggi dan terdengar horor membuat Alifia mengerjap kaget


"Oh bener ya ini si pak bos" Alifia berjalan menghampirinya "bapak ngapain kok masih disini? Bukan nya bapak udah pulang?"


Bukan nya menjawab perkataan Alifia, tuan Hafizh malah membuka pintu mobil nya "masuk!"


"Masuk apa nya pak?"


"Alifia, saya sangat berharap tidak ada yang salah dengan otak kamu dan saya juga yakin kamu tidak terlalu bodoh, maka ngertilah apa maksud saya"


Wow, Mulut pedas sepedas cabai sekilo nya ini benar-benar minta di gampar!


"Jadi maksud bapak ini saya masuk ke dalam mobil bapak dan pulang bareng bapak alias bapak yang nganterin saya pulang? Gitu kah?"


"Cepat masuklah tangan saya sudah pegal karena mulut mu yang banyak bicara itu"


"Tapi pak.."


Alifia tampak berfikir, jika ia pulang di antar oleh tuan Hafizh kan sudah terkesan ia pulang bersama laki-laki, kalo sampe bang Irfan tahu pasti ia akan di sate! Tapi jika ia menolak ajakan tuan Hafizh maka ia juga akan merasa tidak enak karena tidak menghargai niat baik atasan nya


"A-li-fia" nama itu menjadi terdengar horor saat pak bos menyebutnya dengan di eja dan penuh penekanan


Aaaah, lupakan soal Irfan! Jika sampai ketahuan Alifia akan menjelaskan semua ini dan meminta bantuan mamahnya supaya bang Irfan tidak ngamuk padanya, Alifia pun masuk ke dalam mobil mewah milik atasan nya itu


"Jangan diam saja, kenakan sabuk pengaman"


"Eh iya pak"


Tuan Hafizh langsung menyalakan mesin mobilnya dan mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang menembus keramaian jalanan kota


"Alifia, apa kamu sudah punya anak?" Tuan Hafizh kembali membuka suaranya setelah sedari tadi hanya diam


"Kenapa bapak tanya kaya gitu?"

__ADS_1


"Saya tidak suka jika pertanyaan di jawab dengan pertanyaan"


Ternyata dugaan Alifia tadi salah! Rupanya tadi singa kutub ini ternyata mengintip ponsel nya secara diam-diam


"Seperti yang bapak lihat di dalam surat keterangan saya waktu wawancara disitu sudah tertera dengan jelas bahwa status saya masih lajang, alias belum pernah menikah. Dan foto anak kecil yang tadi bapak intip di ponsel saya itu foto keponakan saya" jelas Alifia berbohong


Tuan Hafizh tampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti


"Kenapa bapak tanya kaya gitu?" Rupanya Alifia masih belum menyerah dengan pertanyaan ini, ia penasaran kenapa bos nya ini menanyakan kehidupan pribadinya seolah ia peduli padanya bukankah menurut rumor yang beredar ia sangat tidak peduli pada para karyawan nya, hanya menindas para karyawan nya saja yang ia bisa


"Tidak, lupakan saja tentang itu" katanya dengan santai


"Ish, si pak bos mah nyebelin bener" gerutu Alifia


"Memang benar, saya memang sangat menyebalkan bahkan para karyawan saya tidak ada satu pun yang menyukai dan memuji saya dengan baik, hampir semua para karyawan saya disana setiap hari menjelek-jelekkan saya"


Alifia tampak bingung ia harus menjawab apa pada bos nya


"Kamu tidak perlu bingung seperti itu, saya hanya perlu teman curhat saja dan saya juga tidak membutuhkan jawaban dari kamu" katanya lagi


Wihh curhat dong katanya, aku engga salah denger kan? Ternyata singa kutub juga bisa ngomong panjang lebar tapi waitt, gimana dia bisa tau kalo semua karyawan nya pada ngejelek-jelekin dia? Aku benar-benar penasaran, ini bos penuh misteri


"Hehehe, yang sabar ya pak"


"Pasti"


"Oh iya, bukan nya tadi bapak bilang kalo bapak mau pulang duluan tapi kenapa bapak masih disana?" Tanya Alifia "apa jangan-jangan bapak sengaja nungguin saya?"


"Pak bos engga bisa bohong dikit aja, kenapa engga bilang iya aja gitu nungguin saya mungkin saya akan sedikit senang" Alifia menekukan wajahnya kecewa


"Rupanya kamu sangat berharap saya benar-benar menunggu kamu disana Alifia" tuan Hafizh mengangkat sudur bibirnya


"Tentu saja, itu akan sangat mengesankan buat saya pak, akan menjadi kenangan berharga buat saya, jika itu terjadi bukankah ini akan sangat manis sekali ada seorang bos menunggui sekretaris nya yang sedang makan, asek" Alifia tertawa menertawakan perkataan nya sendiri


"Sebaiknya pelankan suara tawa mu saya tidak bisa fokus menyetir karena suaramu" tuan Hafizh kembali memasang tampang datarnya dan tatatapan kembali fokus ke depan menyetir


Alifia langsung diam "baik pak"


Gini banget emang kalo udah sejatinya singa kutub ya tetap selamanya akan menjadi singa kutub, baru aja dia hangat senyum-senyum sekarang udah dingin lagi, dasar bos kampret nyebelin emang


"Rumah kamu yang mana?" Tanya tuan Hafizh saat sudah sampai di sebuah perumahan yang sesuai dengan alamat rumah Alifia yang tertera dalam surat keterangan yang sudah tuan Hafizh baca


"Eh udah nyampe sini aja ternyata, saya engga nyadar, bisa berhenti disini saja pak saya bisa jalan sendiri itu sedikit lagi kerumah saya"


Tuan Hafizh mengehentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah


"Terima kasih banyak pak atas tumpangan nya" Alifia membungkukkan badannya

__ADS_1


"Tentu" jawabnya singkat


Kemudian tuan Hafizh langsung membelokkan mobilnya dan menghilang dari pandangan Alifia.


...


Alifia merebahkan tubuhnya di atas kasur


Saat ini hanya kasur nya lah yang bisa mengerti kelelahan dirinya dan menjadi tempat ia menghilangkan segala macam beban yang menampung di kepala dan tubuhnya, biasanya rasa lelah nya sepulang ia kerja akan hilang ketika ia datang disambut oleh Ray, namun hari ini terasa berbeda bagi Alifia, Ray si bocah tampan itu tidak ada di rumah, saat Alifia pulang. Rumahnya itu tampak kosong, tapi Alifia tidak terlalu mengkhawatirkan mungkin Ray sedang di bawa jalan-jalan oleh Bu Reni


Alifia menyambungkan hp ke chargernya, tadi hp nya sempat mati karena kehabisan daya, dan benar saja ia mendapat SMS dari Bu Reni bahwa saat ini ia bersama Ray sekarang sedang berada di rumah bang Ilham


"Dekk, Fiaaa. Mamah kemana?"


Seketika suara gemuruh datang mengacaukan ketenangan Alifia yang sedang beristirahat, Alifia sangat ingin sekali melemparkan guling yang ia peluk ke wajah Irfan yang dengan ketidak sopanan nya berteriak dan membuka pintu kamar tanpa mengetuk apalagi permisi


"Bang, kamu engga punya sopan santun sama sekali ya? Ketuk dulu pintu nya kek. Ini mah main nyelonong aja masuk tanpa permisi ganggu orang istirahat" cerocos Alifia kesal


Irfan terlihat mendengus kasar "Yaelah lagian ini bukan kamar tamu ngapain pakek permisi, Abang nanya kemana mamah?"


"Dirumah bang Ilham" jawab Alifia tak bernafsu


Irfan hanya ber oh ria dan dengan santainya ia duduk di atas meja belajar Alifia


"Bang?"


"Apaan?"


"Bos ku di kantor baru tempat aku kerja itu super menyebalkan" acara curhat Alifia di mulai


"Kenapa emang" Irfan menyimpan buku yang baru ia pegang


"Gini bang.." Alifia bangun dari rebahan nya ia memilih duduk dengan memeluk guling kesayangan nya "dia tuh superr galak bangett, wajah nya sih ganteng pake banget malah tapi ya gitu memiliki rupa yang menyeramkan mirip singa kutub sih kalo lagi mode dingin nya"


"Bhahahahha, ngaco kamu mana ada singa kutub" tawa bang Irfan pecah


"Ya ada lah bang, itu sejenis spesies baru dan langka tapi dia ngga tinggal di kutub melainkan di perusahaan besar, kerjaan nya juga bukan mainin es melainkan mencari kesalahan semua para karyawan nya dari A sampai Z" Alifia membenarkan posisi duduknya "selain itu juga dia sensitifnya bang minta ampun dah, bikin kepalaku pusing"


"Kalo pusing ya minum obat fi, apa susah nya kan? Tuh di kotak obat ada banyak obat sakit kepala"


Ha? Apa katanya minum obat? Menyebalkan sekali curhat pada seorang manusia yang tidak peka! Bukan nya mendapatkan solusi tapi malah membuat makin pusing


"Oke deh bang makasih saran nya" Alifia senyum dengan di paksakan ingin sekali rasa nya ia sekarang mendepak manusia tidak peka ini ke Pluto! Seandainya saja Alifia tidak ingat dengan status Irfan yang notabene nya adalah kakaknya


Manusia tidak peka itu hanya nyengir-nyengir saja tanpa rasa bersalah


"Dan kalo Abang engga ada kepentingan apa-apa lagi disini, sebaiknya sana keluar!" Usir Alifia, rasanya benar-benar sangat melelahkan ia ingin sekali beristirahat dengan tenang, ia benar-benar menyesali dirinya karena curhat kepada manusia tidak peka, seandainya saja waktu bisa di putar Alifia akan lebih memilih curhat dengan tembok walaupun tembok tidak memberi saran apapun tapi setidaknya ia bisa tenang setelah mengeluarkan unek-unek nya, dari pada dengan seorang Irfan itu membuatnya menjadi semakin stres

__ADS_1


"Oke, Abang keluar" Irfan berjalan ke arah luar kamar dan menutup kembali pintu kamar itu namun beberapa detik kemudian ia membuka pintu kamar itu lagi dengan hanya menampakkan wajahnya "pesan Abang, makanya jangan bar-bar kalo engga mau punya bos yang kejam dan galak kaya singa"


Setelah perkataan itu selesai kemudian Pintu kamar itu pun kembali tertutup meninggalkan seorang Alifia yang tengah mencerna semua perkataan Irfan "apa katanya barusan? Aku bar-bar? BANG IIRRFAAAANN!!!" Alifia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut untuk meredakan sedikit rasa kesalnya kemudian ia pun tertidur dan tak mengingat apa-apa lagi.


__ADS_2