
Zui mulai menyeringai sinis setelah mendapati jika suami adiknya adalah Darren, laki-laki yang pernah ia ingin dapatkan, tapi sekarang ia sudah membencinya. Sebelum Zaila menikah bersama Darren, ia memang sempat bercerita kepada Zui kalau dirinya telah dijodohkan dengan seorang laki-laki pilihan ayah dan mamanya. Awalnya Zui masa bodoh, namun sekarang ia mulai tertarik akan itu.
“Darren Kadet Argantara, aku nggak nyangka kita bakalan ketemu lagi,” celetuk Zui seraya menyilangkan tangannya.
“Kakak sama Darren udah saling kenal?” tanya Zaila memastikan.
Zui terkekeh sembari terus menatap Darren yang hanya tertegun menatapnya. “Tentu.” Ia kemudian beralih menoleh pada Zaila. “Kamu nggak tau kalau suamimu ini sebelas dua belas sama kakakmu?”
Zaila mulai bingung. “Maksud Kak Zui apa?”
Zui berdecih. “Kamu bego banget, sih,” serunya mengatai Zaila.
“Zaila, ayo kita pulang.” Darren yang tidak ingin perangai kelamnya diketahui sang istri terus mengajak Zaila pergi dari sana.
“Gimana kabar papamu?” celetuk Zui tiba-tiba membuat Darren dan Zaila yang sudah berdiri menjadi tertegun bingung.
Darren kembali menoleh pada Zui. Di sana perempuan itu terlihat menatapnya dengan sorot mata malas. Zui menunjuk kursi dengan dagunya mengisyaratkan agar Darren duduk kembali ke tempat semula. Darren dan Zaila pun kembali duduk. Mereka mulai menyimak Zui lagi.
“Kalau kabar papamu sekarang baik-baik aja, mungkin nanti aku harus bikin dia nggak baik-baik aja,” ujar Zui pada Darren.
“Apa maksud kamu?” Darren menanyai Zui dengan ekspresi tajam.
Zui mulai menggarangkan raut wajahnya, seolah ia benar-benar benci akan sesuatu. “Papamu yang udah bikin aku di sini,” timpalnya membuat Darren langsung terkejut antara mempercayai dan enggan mempercayai.
Zui tersenyum menyeringai. “Sepertinya bisnis Argantara Group kurang menyibukkan papamu.” Zui tiba-tiba mendatarkan ekspresinya. “Makanya papamu mencari kesibukan lain dengan menghancurkan usahaku.”
“Jadi-”
“Papamu yang melaporkan,” sela Zui memotong ucapan Darren.
Zui menoleh pada Zaila. “Adikku yang baik, sayang sekali kamu masuk ke tempat yang salah. Sebentar lagi kamu akan tau betapa menyedihkannya tinggal bersama keluarga suamimu,” ujar Zui diakhiri dengan senyuman licik.
“Dari mana kamu tau semua ini?” tanya Darren pada Zui membuat perempuan itu menolehnya lagi.
__ADS_1
“Kamu kira cuma kamu dan keluargamu yang bisa memiliki akses rahasia?” Zui mencondongkan wajahnya ke depan Darren. “Aku juga punya,” ungkapnya dengan mata memicing.
Zui menghela napas lega seraya membuang muka. “Waktu kunjung sudah selesai, kalian berdua boleh pergi,” katanya pada Darren dan Zaila.
Darren dan Zaila terdiam sebentar memandangi perangai Zui. Dan kemudian, mereka pun meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Zui langsung menyeringai setelah kepergian Darren dan Zaila. Perempuan itu seketika mendapatkan rencana besar untuk membalas semua kerugiannya. Tidak ada yang tau tentang apa yang telah dipikirkan Zui untuk ke depannya.
...◦○⭕○◦...
Darren dan Zaila baru saja tiba di rumah. Dengan langkah cepat dan pasti, Darren bergegas menemui papanya. “Papa di mana, Ma?” tanya Darren tegas pada Fiona yang tengah menonton TV di ruang keluarga.
“Papa kamu... lagi... di ruang kerja.” Jawab Fiona ragu-ragu.
Masih dengan wajah marahnya, Darren lalu berjalan menuju ruang kerja Wirawan.
“Darren kenapa?” tanya Fiona pada Zaila yang baru saja ikut duduk di samping kanannya.
Zaila hanya diam sembari menatap suaminya yang berjalan pergi.
Tanpa permisi dan celetuk apa pun, Darren langsung membuka pintu ruang kerja Wirawan.
Darren menutup kembali pintu ruangan itu, lalu berjalan mendekati papanya. “Kenapa Papa suka ikut campur sama kehidupan orang? Apa ikut campur di kehidupan Darren udah nggak cukup buat Papa?”
“Kamu ini bicara apa?”
“Papa kan yang laporin Zui ke polisi?”
Seketika Wirawan terperanjat. Dari mana anaknya itu tau akan hal itu? Wirawan pun kemudian membuang muka. “Papa lakuin itu buat lindungin perusahaan dan kamu,” ungkapnya pada Darren.
Darren terdiam mencoba menunggu penjelasan dari papanya lagi. Dan Wirawan kembali menatap Darren. “Kamu ingat vendor yang kamu temui di Zui Cafe waktu itu? Mereka mau menipu kita.”
“Dan dalang utama dari vendor gadungan itu adalah teman kamu, pemilik kafe itu, Zuilu.”
Darren terkejut. Jadi, saat itu dirinya hampir saja kena tipu? Dan saat itu juga Shani telah membantunya untuk menolak tawaran si vendor.
__ADS_1
“Tapi Papa nggak perlu lakuin itu. Papa nggak perlu sampai hancurin usaha Zui,” sangkal Darren tidak membenarkan perilaku papanya.
“Apa kamu bodoh? Usaha anak itu ilegal. Sangat bagus jika dia dipenjara sekarang.”
Darren semakin tertegun. Tindakan papanya itu memang benar jika secara hukum dan negara. Usaha Zui yang melanggar aturan dan norma memang pantas untuk dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Tapi secara pribadi Wirawan tidak perlu melakukan itu. Itu sama saja artinya dengan balas dendam.
“Tapi apa Papa sadar? Papa lakuin semua itu hanya menimbulkan masalah dan masalah!” seru Darren membentak di kalimat terakhir.
Wirawan memelotot mata pada putranya. “Anak tidak sopan,” ujarnya, lalu dengan sigap menampar pipi kiri Darren.
Suasana menjadi tambah runyam. Darren dan Wirawan sama-sama terdiam. Keduanya sama-sama emosi.
“Kalau gitu kita lihat aja apa yang bakalan terjadi setelah ini,” tukas Darren, kemudian berlalu pergi dari ruangan itu meninggalkan Wirawan yang hanya mematung memandanginya masih dengan mata melebar.
...◦○⭕○◦...
Di sisi lain Shani benar-benar ketakutan. Rahang bawahnya dicengkeram seorang laki-laki kekar yang beberapa menit tadi menerobos masuk ke rumahnya bersama 1 orang lainnya. Shani menangis sembari memegangi tangan si pria asing itu.
“Cepat katakan tentang hubungan kalian,” suruh sang pria yang terus mencengkeram rahang Shani.
Shani menggeleng sebisa mungkin. Air matanya sudah membasahi kedua pipinya. Cairan itu tidak henti berjatuhan.
“Udah 15 menit. Kita nggak bisa pake cara kekerasan kayak gini terus,” ujar salah seorang pria lainnya menepuk pundak si pria yang mengkasari Shani.
Pria itu pun menyentakkan Shani melepas cengkeramannya dari rahang perempuan tersebut. Shani benar-benar ketakutan meringkuk duduk di sudut tembok. Ia terus menangis sesenggukan enggan menatap 2 orang pria yang menginterogasinya sedari tadi.
“Percuma kita paksa, dia nggak akan buka mulut.”
“Terus gimana?”
“Kita cabut aja dulu.”
Dan akhirnya 2 orang asing itu pun pergi dari rumah Shani. Shani merasa lega. Tapi pikirannya semakin takut akan kejadian-kejadian selanjutnya yang mungkin akan ia alami setelah semua ini.
__ADS_1
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.