
Siang ini Fiona berencana untuk menemui Shani di kediaman perempuan itu. Shani mendengar pintu rumahnya diketuk. Dan tidak berselang lama, ia pun membukanya.
“Boleh saya masuk?” celetuk Fiona karena mendapati Shani yang hanya tertegun akan kedatangannya.
“I-iya, silakan.” Shani pun mempersilakan Fiona untuk memasuki rumahnya dan duduk di kursi ruang tamunya.
“Ada suatu hal yang ingin saya bicarakan sama kamu,” ujar Fiona setelah Shani juga ikut duduk ke kursi.
Shani hanya diam terus menyimak wanita yang bergaya necis itu.
“Saya sebenarnya belum terlalu tau soal apa yang sudah terjadi antara kamu dengan anak saya, Darren.”
“Jika Darren memang sudah melakukan hal yang tidak pantas pada kamu, saya benar-benar minta maaf.”
Mendengar ujaran Fiona yang seperti itu, Shani pun mulai menunduk. Matanya berkaca-kaca. Sejak masalahnya muncul, hati dan pikiran Shani menjadi lebih sensitif.
Fiona pun mulai ragu-ragu bertanya. “Saya dengar, kamu sedang hamil sekarang. Apa itu benar?” tanyanya menatap sekilas perut Shani.
Shani sontak mengusap perutnya, lalu ia mulai menatap Fiona lagi. “Apa Anda ke sini untuk menginterogasi saya?” celetuk Shani dengan air mata menetes tanpa ia rasakan. “Apa Anda perlu bukti untuk memastikan jika saat ini saya tengah hamil atau tidak?”
“Bukan begitu. Saya cuma-“
“Kalian semua keterlaluan,” sela Shani memotong kalimat Fiona. “Kalau Anda dan suami Anda tidak percaya jika saya sedang mengandung anak dari putra kalian, lebih baik Anda pergi sekarang.”
“Bahkan saya tidak pernah menuntut tanggung jawab dari kalian ataupun Pak Darren. Saya bisa melewati ini semua sendiri.”
Shani menahan napasnya sebentar berusaha keras untuk menyuara sesopan mungkin walaupun ia ingin sekali berteriak lantang meluapkan segala emosinya. “Jadi tolong, jangan ganggu saya lagi. Kalau kalian punya banyak pertanyaan untuk ditanyakan, lebih baik kalian tanyakan saja ke putra kalian sendiri.”
Shani mengerjap perlahan membuang sisa air mata yang menumpuk di pelupuk matanya. “Anda bisa pergi sekarang,” usirnya pada Fiona.
__ADS_1
“Tolong dengarkan saya dulu, Shani. Saya ke sini bukan untuk menginterogasi kamu,” seru Fiona mencoba agar diberikan kesempatan untuk bicara.
Shani terdiam, dan Fiona pun diberikan kesempatan itu.
“Jika benar anak yang kamu kandung adalah cucu saya, saya akan mengakuinya. Saya dan Darren, kami akan menemani kamu melewati semua masalah ini.”
“Saya tidak tau jika Darren begitu mencintai kamu. Sejak kecil dia selalu kami kekang dengan aturan dan perintah. Dan sampai menikah pun, saya dan suami saya yang mengaturnya. Tidak, tapi mungkin kami justru memaksanya.”
Fiona menatap Shani dengan sorot mata memohon. “Jadi Shani, biarkan kami bertanggung jawab atas semua ini. Apa yang kamu mau? Apa yang kamu inginkan? Katakan saja, kami akan mengabulkan semua permintaan kamu.”
“Saya tidak meminta apa pun.” Jawab Shani. “Saya tidak menginginkan apa pun dari kalian. Saya yakin, saya bisa melewati ini semua.”
“Apa kamu yakin? Apa kamu tidak meminta untuk dinikahi oleh Darren? Mungkin saya bisa bantu kamu.” Fiona mencoba berbaik hati.
“Tidak perlu. Saya harap pernikahan Pak Darren dan Bu Zaila bisa bertahan untuk selamanya. Saya berdoa supaya mereka bahagia dan bisa saling menerima satu sama lain.”
Fiona cukup terkesan dengan jawaban Shani. Namun tetap saja, ia punya janji dengan Darren untuk bisa menerima Shani dan bayi yang tengah dikandungnya. Jadi Fiona tidak bisa berhenti sampai di sini saja.
“Apa kamu serius? Darren sangat mencintai kamu, Shani. Dia ingin bertanggung jawab atas kehamilan kamu.”
“Bu Fiona nasehati saja Pak Darren agar bisa mempertahankan rumah tangganya. Bukannya Bu Zaila sedang hamil juga sekarang? Usia kandungannya jauh lebih muda daripada saya. Saya akan mengalah. Lagi pula saya pikir, saya bukan perempuan yang terbaik untuk Pak Darren. Bu Zaila-lah yang pantas bersanding dengan beliau.”
Fiona tertegun. Entah penderitaan dan cobaan sebesar apa yang telah dilalui Shani sebelumnya juga sekarang. Namun Fiona sadar akan sesuatu, jika perempuan itu begitu sabar dan menerima keadaannya dengan begitu ikhlas.
Fiona menunduk sekilas, lalu menatap Shani lagi. Dirinya merasa malu terhadap perempuan itu. “Sekali lagi, saya sangat meminta maaf sama kamu ya, Shani. Jika kamu butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya terlebih dahulu. Saya dan Darren akan dengan tulus membantu kamu.”
“Kamu tidak perlu memaksakan diri jika kenyataannya memang berat untuk kamu tanggung sendirian.”
Shani hanya diam sembari menunduk tipis.
__ADS_1
“Kapan-kapan kita harus bertemu lagi. Kamu harus selalu jaga kandungan kamu juga kesehatan kamu.” Fiona tersenyum tipis. “Kalau begitu saya permisi dulu.” Dan ia pun berpamit pulang.
Setelah Fiona pergi dengan sebuah mobil hitam bersama sopir pribadinya, Shani pun cepat-cepat menutup pintu rumahnya. Ia bersandar pada pintu itu. Dan lalu, tubuhnya merosot ke bawah pelan-pelan.
Shani terduduk di lantai. Air matanya mulai mengalir. Betapa tersiksanya ia harus bisa terlihat tegar agar orang-orang yang mengasihaninya berhenti untuk mengasihaninya.
Sebenarnya Shani sangat takut untuk menjalani semuanya sendirian. Namun tidak ada pilihan lain, Shani harus mengorbankan dirinya juga keegoisannya agar tidak ada yang tersakiti lagi. Cukup dirinya sendiri, dan perasaannya.
...◦○⭕○◦...
“Kamu dari mana, Ma?” tanya Wirawan yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi menoleh sekilas pada istrinya.
Fiona baru saja pulang dari rumah Shani, dan sialnya ia harus tepergok suaminya yang tengah bersantai di ruang keluarga saat hendak berjalan menuju ruang kamarnya.
“Dari..., rumah temen Mama. Kenapa, Pa?” Fiona berkilah secepat mungkin dengan akting yang begitu meyakinkan dan terlihat sangat real.
“Zaila tadi pamit mau ke rumah orang tuanya sebentar,” ungkap Wirawan pada istrinya yang masih berdiri sekitar 3 meter darinya.
Fiona pun beringsut duduk mendekat ke sisi Wirawan. “Papa nggak cegah Zaila? Gimana kalau dia cerita yang enggak-enggak ke orang tuanya?”
“Mama tenang aja, Papa udah bilang sama dia untuk tutup mulut dulu soal masalah sekarang.” Wirawan yang terus menatap layar TV mulai menarik napas panjang, kemudian ia menoleh pada Fiona. “Papa akan segera bereskan semuanya. Jadi Mama nggak usah khawatir.”
Batin Fiona langsung terperanjat. Apa yang sudah direncanakan suaminya? Fiona takut jika Wirawan akan bertindak buruk terhadap Shani.
Namun, Fiona juga belum bisa mencegah suaminya. Untuk sekarang ini ia hanya perlu waspada dan berjaga-jaga agar suaminya tidak curiga. Kali ini Fiona benar-benar tidak ingin mengecewakan Darren, jadi ia akan memegang janjinya untuk ikut melindungi Shani dan calon cucunya yang tengah dikandung oleh perempuan itu.
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1