
Darren dan Zaila masih berbincang 4 mata di ruang kamarnya.
“Tapi menurut aku pernikahan kita adalah hal yang sakral, Mas.” Zaila terus menatap Darren. “Aku percaya jika suatu hari nanti kamu akan nerima aku sebagai istri yang kamu cintai. Aku percaya kalau takdir kita bersama.”
“Takdir?” Darren memicing mata pada istrinya. “Apa kamu nggak tau kalau orang yang udah menikah itu bisa aja bercerai karena mereka nggak jodoh? Itu artinya mereka nggak ditakdirkan bersama. Iya, mungkin, tapi cuma sebentar.”
Zaila tertegun sekejab. Kenapa dirinya begitu naif untuk mempertahankan rumah tangganya? Darren tidak peduli, dan hanya dirinya yang peduli. “Tapi aku percaya kalau takdir kita nggak hanya sebentar. Aku akan berusaha supaya pernikahan kita nggak berantakan, Mas. Dan aku nggak mau kamu ceraiin.”
Darren hanya bisa terperangah akan cuitan Zaila.
“Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya. Dan aku percaya itu, aku percaya kalau Ayah sama Mama menikahkan aku sama kamu karena kamu adalah laki-laki yang terbaik buat aku.” Zaila mengambil jeda sebentar. “Aku nggak mau ngecewain mereka.”
“Terserah kamu. Bagaimanapun, aku akan tetap ceraiin kamu setelah kamu lahiran nanti. Aku cuma mau Shani. Cuma dia, dan bukan kamu.” Dan Darren pun beringsut pergi meninggalkan istrinya dan ruang kamar itu.
Zaila mematung, air matanya mengaliri pipinya, hatinya sakit. Saat putus asa mulai mencemari tekadnya, Zaila cepat-cepat menyeka air matanya. Ia akan berusaha keras untuk tegar dan dengan sekuat apa pun berusaha untuk mempertahankan pernikahannya dengan Darren. Zaila begitu yakin jika suatu saat nanti, entah kapan, Darren pasti akan menerimanya. Zaila percaya jika akhir bahagia akan berpihak padanya.
...◦○⭕○◦...
Sementara itu, hari semakin gelap dan Shani masih duduk meringkuk di tempat tidur. Shani merasakan kepalanya semakin pening. Dan ketika ia mulai mengerjap bangun, suara pintu depan rumahnya terdengar diketuk dari luar.
Batin Shani berdesir. Ketakutan, cemas, gelisah, semuanya menyatu dalam diri Shani. Napasnya pelan, tapi terdengar memburu. Bahkan suara ketukan pintu menjadi hal yang sangat menyeramkan bagi Shani. Siapa tamunya kali ini?
Shani menutup kedua telinganya dengan tangan. Tubuhnya semakin mendekap, meringkuk dan semakin menyusut ke dalam selimut. Shani kehilangan kendali dirinya pada level awal yang bisa dikatakan seperti orang gila.
Namun suara ketukan pintu terdengar semakin keras, dan disela-selanya terdengar suara familier memanggil. Shani mulai mengatur napasnya, menyingkirkan tangannya yang menutupi telinga. Shani memasang kuping dengan teliti dan berusaha menangkap suara panggilan itu yang semakin didengar semakin membuatnya ingin memeluk orangnya.
Dan setelah sangat yakin, Shani cepat-cepat beranjak pergi dari kasur. Shani berjalan menuju pintu utama dan membukanya. Mata Shani berkaca-kaca dan tangisnya pecah setelah berhasil memeluk tamunya malam ini, Jia.
__ADS_1
“Lo kenapa, Sha?” tanya Jia dengan perasaan panik sembari membalas pelukan Shani.
Jia merasakan suhu tubuh yang panas. Shani demam, Jia bisa merasakannya. Dan setelah isakan Shani perlahan surut, Jia membawa perempuan itu duduk ke kursi ruang tamu.
“Badan lo panas, Sha. Lo kenapa? Cerita sama gue,” seru Jia pelan sembari menatap sedih wajah Shani.
Shani terus menunduk dan masih menangis ringan. Ia menggeleng sembari menggenggam tangannya sendiri ke pangkuannya. Jia menatap tangan sahabatnya itu, tangan Shani tampak gemetar.
Jia pun bergegas memeluk Shani lagi. “Nggak pa-pa, ada gue di sini,” ujarnya sembari menepuk-nepuk pelan punggung Shani.
Setelah beberapa menit Shani diam dari tangisnya, Jia pun menitah Shani menuju ruang kamar. Dengan sabar dan penuh sayang, Jia mulai membujuk Shani untuk bercerita. Namun usahanya gagal. Shani hanya menggeleng dan mengangguk. Bahkan gerakan itu terkesan lemah sekali.
Waktu terus berjalan, ini sudah pukul 7 malam lebih dan Shani belum makan. Jia tidak henti menasihati Shani akan tubuh dan kandungannya yang harus diberi asupan. Dan malam ini pun menjadi malam yang panjang. Jia harus merawat Shani yang tengah demam, mengompres, dan membujuknya untuk makan juga minum obat. Hanya bantuan yang seperti itu yang bisa Jia berikan kepada Shani.
Setelah Shani mulai terlelap, Jia mulai menduga-duga sesuatu. Semua ini pasti ada hubungannya dengan Darren. Atau Shani hanya benar-benar tertekan atas kehamilannya?
...◦○⭕○◦...
“Makasih ya Ji, lo udah luangin waktu buat nemenin gue semalaman,” celetuk Shani pada Jia.
Jia tersenyum. “Sama-sama. Lagian kondisi lo juga nggak memungkinkan buat gue tinggal balik ke rumah.”
Shani hanya diam, lalu kembali menyibuk dengan sarapannya.
“Lo belum cerita loh soal semalam,” cuit Jia mulai berusaha mengorek-ngorek informasi. “Lo kenapa? Apa ada masalah lagi sama Pak Darren?”
Shani cepat-cepat tersenyum. “Enggak, kok. Mungkin efek hamil. Gue cuma ngerasa takut aja.” Shani berkilah, ia tidak mungkin menceritakan tentang hal apa yang telah dialaminya kemarin. Wirawan menculiknya dan menyuruh anak buahnya untuk melakukan hal-. Shani tidak bisa mengatakannya kepada Jia.
__ADS_1
Namun, Jia sangat tau Shani. Jia tau jika Shani menyembunyikan sesuatu darinya. Bagaimana ekspresi dan tingkah Shani semalam membuat Jia cukup yakin jika Shani mengalami tekanan yang begitu besar. Bahkan ia sampai sakit. Shani tidak cuma takut akan kehamilannya, namun juga karena suatu hal lain, Jia yakin akan itu.
“Udah, lo nggak usah terlalu mikirin kehamilan lo. Boleh sih lo pikirin, tapi soal gimana cara agar bayi dan diri lo selalu sehat aja, jangan yang lain,” tutur Jia pada Shani. “BTW, sekarang lo kerja di mana? Nggak mungkin kan sekarang lo jadi pengangguran setelah resign dari Argantara Group?”
Shani cepat-cepat menjawab. “Kerja, kok. Cuma di perusahaan kecil, sih. Lumayan lah buat ganti income gue per bulannya.”
“Di mana?”
“Di… perusahaan retail. Barang-barang impor.” Jawab Shani pada Jia.
Shani tidak ingin siapa pun tau tentang di mana ia bekerja sekarang, termasuk 2 sahabatnya, Jia dan Andra. Apalagi Darren, laki-laki itu tidak boleh tau. Shani juga sudah bersepakat dengan Malvin agar laki-laki itu tutup mulut atas bergabungnya dirinya di M Crop.
Jia merespon dengan anggukan. “Syukur deh kalo lo udah punya perkerjaan ganti. Setidaknya gue juga nggak ikut nafkahin uang bulanan lo. Bisa jadi orang tua lo beneran gue,” canda Jia membuat Shani mendengus.
Setelah menghabiskan sarapannya, Jia pun berpamit pada Shani. “Gue balik sekarang, ya. Sejam lagi ada rapat kayaknya.” Jia memicing mata. “Semenjak lo resign, Pak Darren jadi hobi banget bikin acara rapat. Marah-marahnya juga tambah banyak. Bener-bener tuh, Bos Kampret!”
“Ya udah, sana. Keburu telat entar lo dimarahin lagi,” seru Shani.
“Oke, gue cabut.” Jia pun meraih tas selempangnya yang sudah ia letakkan di atas meja depannya, lalu berdiri dan mengalungkan tas itu ke bahu. “Kalo lo masih sakit jangan pergi kerja dulu ya, Sha. Absen aja, minta izin.”
“Iya.”
Dan Jia pun pergi meninggalkan Shani.
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1