
"Vin, pintunya nggak bisa dibuka," ujar Shani pada Malvin terlihat panik.
Sembari menahan reaksi obat perangsang, Malvin pun berjalan menuju ke arah pintu menghampiri Shani. Laki-laki itu berusaha membuka hendel pintu menekannya ke atas ke bawah, tapi tetap saja, pintunya tidak bisa terbuka. "Arggg! Sialan!" seru Malvin frustrasi sembari menggebrak pintu di depannya.
"Apa seseorang ngejebak kita?" celetuk Shani sembari menoleh ke arah Malvin.
Walaupun ia tau sesuatu, Malvin enggan menjawab dengan wajah memerah lemas. Mendapati hal tersebut Shani pun mulai menggedor-gedor pintunya. Ia berteriak meminta bantuan, tapi nahasnya tidak ada tanda-tanda satu pun orang muncul dan merespon pekikannya.
Malvin beringsut kembali ke sofa mencari-cari ponselnya untuk meminta bantuan. Malvin sangat ingat jika ponselnya ia taruh di sana. Tapi anehnya, benda itu menghilang.
Shani pun menghampiri Malvin. "Kamu cari apa?" tanyanya.
"HP-ku nggak ada," ungkap Malvin menatap panik wajah Shani.
Satu-satunya alat yang bisa mereka gunakan untuk menyelamatkan diri adalah ponsel Malvin, tapi ponsel itu entah ada di mana. Shani dan Malvin pun tambah panik. Keduanya seketika terduduk ke sofa.
Dan detik demi detik berlalu dengan kesunyian. Malvin mencoba menahan reaksi obat itu. Lalu Shani, perempuan itu terlihat menggenggam tangan ketakutan.
"Sha, aku boleh minta tolong sama kamu," celetuk Malvin di sela-sela suasana cemas itu.
"Apa?"
Malvin beringsut mendekati Shani membuat wanita itu menegang. "Cuma pelukan. Aku mohon," pintanya.
"Tapi-" Belum sempat Shani selesai menjawab, Malvin sudah meraih tubuhnya dan mendekapnya erat.
Saraf-saraf seakan meregang di antara keduanya. Tubuh Shani membeku dengan jantung berdebaran tidak karuan. Bukan berarti ia tengah kasmaran dan menikmati pelukan itu, tapi Shani takut jika hal buruk terjadi.
Malvin mulai bergelayut di alam bawah sadar. Laki-laki itu menghirupi aroma harum yang manis di sekitaran leher perempuan itu. Suhu tubuhnya meninggi hingga membuat Shani kegerahan.
"Vin, hentikan ini. Kita-"
__ADS_1
"Jangan bergerak," sela Malvin memotong ucapan Shani yang tengah berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan itu. Ia kembali menghirup aroma itu dan kali ini sangat dalam. "Kalau malam ini akan terjadi sesuatu di antara kita, aku akan bertanggung jawab."
Mata Shani seketika melebar. "A-apa yang kamu pikirin?" tanyanya terbata.
Malvin kemudian mendorong sedikit tubuh Shani melepas pelukan eratnya. Ia menatap perempuan itu yang juga menatapnya. 3 detik mereka terpaku dengan kesunyian dan suara napas, tiba-tiba Malvin mencengkeram rahang Shani dan memangut bibirnya.
Shani terkesiap. Ia berusaha meloloskan diri dari cumbuan Malvin, tapi karena obat perangsang itu, tenaga Malvin seolah menjadi 2 kali lipat. Malvin terus ******* bibir Shani, menyesapnya dengan hasrat memuncak.
Shani tidak bisa bernapas. Bahkan mencuri-curi udara sedikit saja rasanya tidak bisa. Malvin benar-benar membuatnya ketakutan. Sudut-sudut mata Shani telah basah mengeluarkan air mata. Dan Malvin, laki-laki itu terus menciumnya.
Pelan-pelan, Shani kehilangan kesadaran. Tapi Malvin, obat perangsang itu terus menggerogoti nafsunya membuat dirinya lupa akan kenyataan. Dan di ruangan itu, tanpa sadar Malvin hampir saja melewati batasannya.
...◦○⭕○◦...
Mungkin sudah beberapa jam berlalu, dan Shani mulai mengerjap bangun dari pingsannya. Ia menyapu pandang ke seluruh penjuru ruangan. Shani masih di sana, di ruang VIP resto. Tapi, ia sendirian. Lalu di manakah Malvin?
Shani memijat tengkuknya yang kaku dan pegal. Ia ingat sekilas bagaimana Malvin memperlakukannya dengan kasar sembari memagut habis bibirnya. Namun setelah itu, Shani yakin tidak terjadi apa-apa, bajunya masih rapi dan tidak ada tanda-tanda keganjilan.
Shani sudah hampir memeriksa seluruh sisi ruang restoran, namun tetap tidak ada tanda-tanda batang hidung Malvin. Perempuan itu pun lalu berjalan keluar halaman. Dan baru saja beberapa jangkah ia hendak menuju parkiran, Shani akhirnya melihat Malvin.
Tapi apa ini? Malvin berdiri di sana tidak sendirian, karena Wirawan bersamanya. 2 pria itu saling berhadapan tampak membicarakan sesuatu.
...◦○⭕○◦...
"Gimana? Kalian bersenang-senang?" tanya Wirawan menyeringai pada Malvin sembari menyedekapkan tangan.
"Semua ini nggak ada direncana. Apa Om Wirawan berusaha ngejebak aku sama Shani?" Malvin terlihat marah.
"Om cuma memperlancar usaha kamu mendekati perempuan itu. Seharusnya kamu berterima kasih sama Om, dong," ujar Wirawan tanpa rasa berdosa sama sekali.
Malvin mendengus kesal. "Tapi bukan kayak gini Om caranya. Gara-gara obat perangsang itu aku hampir lakuin hal gila ke Shani. Apa Om nggak bisa memperkirakan konsekuensinya akan itu?"
__ADS_1
"Ya, Om selalu memperkirakan apa pun sebelum melakukan sesuatu. Kalau terjadi sesuatu antara kalian, itu gampang. Kamu bisa langsung menikahi Shani." Wirawan mengambil jeda sebentar. "Bukannya itu yang kamu mau?" tanyanya menyeringai lagi.
"Apa Om Wirawan udah gila?" seru Malvin memicing. "Seharusnya sejak awal aku nggak bikin rencana konyol sama Om. Kalau taunya, ternyata aku cuma dimanfaatin kayak gini."
"Om sadar nggak, sih? Jika orang-orang tau kalau putra tunggal Wirawan Argantara sudah menghamili mantan sekretarisnya dan setelah itu malah ninggalin dia terus menikahi perempuan lain, Om tau kan apa yang akan terjadi sama Argantara Group?"
"Tutup mulut kamu!" sahut Wirawan mulai emosi.
Malvin mendengus menyeringai. "Orang-orang akan menilai betapa bejatnya Darren sudah membuang perempuan seperti sampah. Semuanya akan hancur, termasuk usaha yang Om rintis dari awal."
"Om tidak akan membiarkan itu terjadi."
Malvin dan Wirawan terus berseteru di penjuru gelap dekat parkiran restoran mewah itu. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Shani menguping dan memperhatikan keduanya. Dengan pipi yang sudah basah juga mata yang mulai memerah karena tangisan, Shani masih terus menyimak pembicaran Malvin dan Wirawan.
"Kalau kamu berani macam-macam, Om tidak akan segan-segan menghancurkan usaha bodohmu itu," ancam Wirawan pada keponakannya sendiri.
"Silakan saja. Aku nggak peduli sekalipun Om Wirawan punya rencana ngehancurin hidup aku." Malvin mengambil jeda sembentar. "Silakan saja kalau Om Wirawan mampu," sambungnya meremehkan.
Wirawan pun getem-getem. "Apa ayahmu mengajari anaknya seperti ini? Sejak kapan kamu suka melawan Om dan menyombongkan diri?"
"Walaupun Ayah itu adik Om, tapi dia jauh lebih baik mendidik aku daripada Om Wirawan mendidik Darren."
Dan, plak. Wirawan seketika menampar pipi Malvin. Namun Malvin tidak gentar. Ia justru kembali menoleh Wirawan dengan tatapan tajam.
"Hidup Darren hancur, itu karena Om yang suka memaksakan kehendak. Om sama Tante Fiona sama aja, mengekang Darren dan menyetiri semua hidupnya."
"Kita cuma mau yang terbaik buat Darren. Kamu tidak tau apa-apa, jadi jangan banyak bicara."
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1