
“Anda benar-benar keterlaluan,” seru Shani pada Wirawan.
Shani juga Wirawan dan 2 orang anak buah dari laki-laki itu masih di tempat yang sama. Mereka masih berada di ruang penyekapan Shani. Suasana semakin memanas seiring Shani dan Wirawan mulai beradu ucapan.
“Saya hanya berusaha melindungi putra saya dari wanita penjilat seperti kamu.” Jawab Wirawan pada Shani. “Darren tidak boleh terjebak dengan perempuan yang salah.”
“Apakah mempekerjakan saya selama 2 tahun lebih tidak cukup untuk membuat Anda bisa menilai kepribadian saya?” tanya Shani terus menatap Wirawan setelah terdiam beberapa detik. “Saya bukan perempuan buruk yang seperti Anda pikirkan saat ini.”
“Jika pun saya begitu, bukankah lebih baik sejak awal saya melakukannya pada Anda?” Shani mengambil jeda sebentar. “Saya tidak pernah punya niatan sedikit pun untuk menggoda atau bahkan memanfaatkan Pak Darren. Saya bukan perempuan seperti itu.” Shani menggeleng pelan di kalimat terakhir.
Wirawan tau jika sejak awal Shani bekerja di Argantara Group, perempuan itu terlihat begitu bersemangat. Shani selalu menunjukkan keprofesionalannya dalam melakukan pekerjaan. Tidak pernah membantah, dan selalu hormat kepada para atasan.
Shani memang memiliki moto hidup. Di tempat kerja, ia harus bekerja. Jika Shani memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan atasannya, bukan berarti ia harus menggodanya untuk memiliki peluang yang lebih besar di lingkungan kerjanya.
Wirawan tau itu. Tapi karena ambisinya yang kuat untuk membangung citra baik keluarganya juga mengendalikan jalan hidup putranya agar lebih baik membuat Wirawan gelap mata. Menyingkirkan sumber masalah adalah hal tertepat yang dipikirkan Wirawan saat ini. Untuk menyelamatkan pernikahan Darren, dan untuk mempertahankan nama baiknya. Wirawan tidak mau rekan-rekan dan orang-orang dekatnya mengecap rumah tangga putranya sebagai hal yang berantakan, dan ia juga istrinya, pasti juga akan menerima imbasnya.
“Lucuti dia. Lakukan tugas kalian,” titah Wirawan pada kedua anak buahnya.
Seketika mata dan batin Shani terbelalak. Apa yang sudah Wirawan rencanakan padanya? Apa maksud dari titahnya itu?
Wirawan pun keluar meninggalkan ruangan itu. Dan 2 anak buahnya masih menetap di sana, bersama Shani. Tatapan 2 pria asing itu mengerikan, menyeringai, memperhatikan Shani.
“Mau apa kalian?” Shani ketakutan karena 2 orang itu mulai berjalan pelan mendekatinya.
Mereka mulai berjongkok di depan Shani. “Kalau kamu diam dan menurut, kami akan melakukannya pelan-pelan,” celetuk salah seorang pria asing itu. Kemudian, ia menyeringai.
Ikatan di tangan dan di kaki Shani mulai dibuka oleh 2 orang itu. “Kalian mau apa?” tanya Shani merasakan ketidakenakan. “Jangan berani macam-macam sama saya.” Ia memperingati.
2 pria itu saling melempar tatapan sebentar. Dan kemudian, mereka mulai mendorong Shani ke tembok. Posisi Shani yang memojok ke sudut ruangan membuat 2 anak buah Wirawan dengan mudahnya membekap tubuh perempuan itu.
Shani berteriak dan memberontak. Salah satu dari pria itu mencengkeram rahangnya, dan satunya lagi berusaha melucuti pakaiannya. Tubuh Shani terus bergeliat, ia sungguh tidak sudi dijamah oleh 2 pria gila itu.
“Berhenti. Lepasin saya.” Shani terisak tidak karuan. Shani sangat takut, tangan dan kakinya dikunci oleh 2 pria itu. Semakin ia bergerak, semakin juga badannya kesakitan.
__ADS_1
Tubuh Shani ditekan ke lantai. Anak buah Wirawan akan menggagahinya. Namun, “Hentikan!!!” seru seseorang yang baru saja membuka pintu ruangan itu membuat para pria itu terkejut dan beringsut berdiri.
Darren, ia datang tepat waktu. 2 anak buah papanya terlihat menunduk menghadapnya. Wajah Darren sangat marah, ia begitu murka dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Darren pun menghampiri 2 pria itu. “Apa yang kalian lakukan?” tanyanya getem-getem menatap tajam 2 orang yang hanya bisa menunduk. “Jawab!!!” bentak Darren karena mereka hanya diam.
“Maaf, Pak. Kami hanya menjalankan perintah Pak Wirawan.”
Dugaan Darren benar. “Pergi dari sini,” suruhnya pada si 2 anak buah papanya. “Pergi!!!” Dan lagi, ia membentak.
2 pria itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan. Darren terlihat sangat syok. Namun Shani, perempuan itu masih memojok dengan pakaian yang hampir terlepas. Shani terus menangis dengan badannya yang bergemetar. Ia benar-benar sangat takut.
Darren pun melangkah pelan menghampiri Shani. Ia ragu-ragu menyentuh perempuan itu. Tapi kondisi Shani yang terlihat begitu buruk membuat Darren langsung memeluknya.
Shani semakin terisak di pelukan Darren. “Aku takut, Darren,” ungkap Shani pada laki-laki itu.
“Nggak pa-pa, aku ada di sini,” ujar Darren menenangkan, memeluk erat tubuh Shani dan mengusap belakang kepalanya.
...◦○⭕○◦...
“Jemput saya sekarang. Hari ini perempuan itu harus berhasil kita singkirkan. Jangan lupa, bawa kunci gedung kosong.”
Fiona tidak sengaja mendengar pembicaraan suaminya di telepon. Wirawan yang baru saja keluar dari kamar dengan telepon genggam di telinganya terlihat tengah berbincang dengan seseorang. Kebetulan sekali Fiona sedang menata beberapa figura di atas kabinet depan tembok ruang kamarnya.
Wirawan yang tidak sadar jika istrinya tengah berada di dekatnya membuat rencana rahasianya bocor. Melihat gelagat suaminya yang mencurigakan, Fiona seketika teringat akan Shani. Perempuan yang harus Wirawan singkirkan, siapa lagi kalau bukan Shani?
Setelah Wirawan berjalan cukup jauh, Fiona langsung mengambil ponselnya di ruang kamar. Wanita itu bergegas menelepon putranya. Namun, panggilannya tidak segera Darren jawab.
Sekitar 1 jam, Darren pun menghubungi mamanya kembali. Ia merasa khawatir karena mamanya misscall sebanyak 5 kali. “Halo, Ma,” sapanya di telepon.
“Kamu ke mana aja sih Mama telepon nggak diangkat-angkat?” tanya Fiona terdengar panik.
“Darren masih meeting. Kenapa, Ma?”
__ADS_1
“Sekarang juga kamu cari Shani. Sepertinya Papa kamu lagi bikin rencana buruk ke dia.”
Mendengar pengakuan Fiona, seketika Darren gelisah.
“Iya, Ma. Ini Darren langsung ke rumah Shani.”
Dan Darren pun menutup sambungan teleponnya. Laki-laki itu bergegas melajukan mobilnya ke kediaman Shani. Namun saat Darren sampai di sana, Shani tidak ada di rumah. Ada 1 kejanggala yang Darren pertanyakan, kenapa kunci rumah Shani menancap di kenop pintu luar? Pintunya masih tertutup, kunci itu belum sepenuhnya diputar terbuka.
Mendapati hal tersebut, Darren pun segera menelepon mamanya kembali.
“Halo,” sapa Fiona terlebih dahulu.
“Shani nggak di rumah. Apa yang udah direncanain Papa? Mama gimana, sih? Katanya mau cegah Papa berbuat hal buruk ke Shani.” Darren berprotes.
“Ini Mama juga nggak sengaja dapat bocoran. Udah, mendingan sekarang kamu ke gedung kosong. Tau kan gedung yang nggak dipake punyanya Papa? Tadi Mama dengar Papa nyebut-nyebut gedung itu.”
“Iya, Ma.”
Darren pun berlari menuju sedan hitamnya seraya memutus sambungan telepon. Darren mengebut. Pikirannya sudah benar-benar kacau, Darren tidak ingin Shani kenapa-napa.
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
Kemarin author dapat komenan kayak gini :
Maaf ya sebelumnya kalau update nya dikit banget atau ngegantung. Hidup author bukan cuma buat ngetik dan ngarang cerita aja, ada juga hal-hal lain yang perlu author lakuin di dunia nyata. Kerja, bagi waktu, dll. Jadi kalau ada yang ngeluh kayak komenan itu, ya nggak pa-pa, nggak usah dibaca ceritanya. Kalau ada waktu luang sedikit banyakan author juga bakalan up lebih dari 1 bab kok. Intinya harus sabar aja, dan tolong pengertiannya. Dan soal cerita yang ngegantung, tujuannya sih cuma 1, biar readers penasaran menantikan bab selanjutnya hehe.
Sekali lagi mohon pengertiannya ya readers tercintaku. Mohon dukungannya dan kesetiaannya. Bersabarlah sedikit karena author harus mikir juga buat alurnya. Banyak cinta buat kalian. ♡
- Author Miss Lee
__ADS_1