
Waktu berjalan dan hari mulai larut. Darren masih terus mengusap lembut perut Shani. Dan tatapannya menerobos ke wajah perempuan itu yang tengah tertidur.
Sudah seharusnya Darren beranjak pergi dari sana. Namun, kakinya seakan begitu berat untuk digerakkan. Masih ingin berlama-lama, mungkin begitu dalam lubuk hati Darren.
Dan tanggung jawab lain memaksanya untuk beringsut. Walaupun sulit, tapi Darren harus pulang. Shani benar, di rumah masih ada istrinya yang tengah hamil. Semata-mata Darren peduli pada Zaila karena wanita itu sedang mengandung anaknya. Rasa ingin melindungi, hanya itu, tidak lebih.
Darren mengelus kepala Shani, kemudian mengecup keningnya hati-hati supaya tidak mengusik tidur nyenyaknya. Lalu, laki-laki itu melangkah pelan dan pergi dari rumah tersebut.
Dan paginya Shani mulai mengerjap. Badannya terasa pegal karena sedari malam posisi tidurnya tidak berubah. Ia pun beringsut duduk menyandar pada kepala ranjang.
Shani mengingat jika semalam laki-laki itu duduk di lantai sana, tepat pada yang sekarang ini sedang ia tatap. Darren memandanginya dan menjaganya walau hanya sebentar. Dan Shani tidak tau lagi apa yang sudah ia lewatkan di semalam.
Di sepotong kilas balik yang menjemukan karena menyiksa, Shani pun mulai membuyarkan lamunannya. Hari sudah semakin siang, dan ia harus segera berangkat kerja. Shani pun bergegas menuruni kasur, lalu melakukan aktivitas paginya.
...◦○⭕○◦...
Shani tampak larut dengan layar laptop di meja kerja. Dan menjelang istirahat siang, Malvin baru saja tiba di kantor terus menghampiri dirinya. Laki-laki itu menarik kursi di belakang Shani dan menempatkannya tepat di samping kiri perempuan itu.
"Gimana orderan hari ini?" tanya Malvin serius seakan tengah mengobservasi bawahannya.
"2 kali lipat dari kemarin." Shani menoleh Malvin dengan senyuman.
Dan zap, perempuan itu berhasil membuat dada Malvin berdesir. Malvin menjadi lebih menikmati hari-harinya karena Shani sekarang bekerja bersamanya. Walaupun secara terang-terangan Shani menolak perasaannya, Malvin masih ingin mencintai wanita itu.
"Kamu ada rencana apa malam ini?" tanya Malvin setelah terpaku beberapa detik pada wajah Shani.
Shani mengedikkan bahu. "Nggak ada. Kenapa?"
Malvin membungkuk mencondongkan wajah lebih dekat ke arah Shani membuat perempuan itu membeku di tempatnya. "Aku ada meeting sama klien malam ini. Kamu ikut, ya. Jadi sekretaris aku," mohonnya tersenyum menggoda.
"Emmm...," gumam Shani beringsut sedikit menarik jarak dari Malvin dan membuang muka ke arah depannya.
__ADS_1
Malvin menaikkan kedua alis menunggu jawaban saat Shani kembali menoleh menatapnya.
"Okey.... Tapi di mana?" Shani tiba-tiba ragu bertanya. "Nggak di bar, kan?" tebaknya lirih sembari mengerling.
Malvin mendengus tertawa kecil. "Enggak, lah." Ia mengelus pundak kiri Shani. "Kamu tenang aja," ujarnya lagi-lagi tersenyum.
Shani pikir tingkah Malvin hari ini sedikit aneh. Laki-laki itu pun cepat-cepat menyingkirkan tangannya dari pundak Shani karena perempuan itu tampak merespon dengan ketidaknyamanan. "Nanti aku jemput kamu jam 7," ujar Malvin memecah kecanggungan.
"Oke."
...◦○⭕○◦...
Shani duduk di kursi teras depan rumahnya menunggu ketibaan Malvin. Malam ini mereka berdua telah berjanji temu dengan seorang klien. Dan tidak lama kemudian sebuah pajero warna putih berhenti di jalanan depan rumah Shani.
Shani pun berjalan ke arah mobil itu. Namun saat ia bergegas menghampiri, Malvin tiba-tiba keluar dari mobilnya, beringsut membukakan pintu kiri untuk Shani membuat perempuan itu lagi-lagi merasakan kesan yang aneh. Malvin tersenyum dan mempersilakan Shani masuk ke dalam mobil.
Shani dan Malvin pun melaju dengan pajero itu menuju sebuah restoran tempat di mana klien ingin ditemui di sana.
"Em..., HP aku lagi error. Sementara ini aku nggak pakai dulu. Kalau ada apa-apa kamu email aja. Laptop aku selalu stand by, kok." Jawab Shani berkilah.
Malvin mengangguk sekali mempercayai alasan wanita itu. Dan tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah rumah makan mewah. Shani tau jika menu-menu di sana harganya fantastis, karena dulu Darren pernah mengajaknya makan di sana.
Shani mendadak bertanya-tanya, sekaya apa sih klien yang ingin bekerja sama dengan perusahan retail kecil milik Malvin? Bukannya merendahkan, tapi rasanya sedikit aneh saja kalau kliennya mengajak meeting di restoran mahal. Tapi Shani tidak boleh menampik kenyataan seperti itu, siapa tau jika Malvin akan memperbesar usahanya, ia punya potensi yang sangat baik.
Saat Shani berkecamuk dengan pikiran dan lamunanya, ia baru saja tersadar setelah, "Shani, ayo keluar." Malvin membukakan pintu mobil untuknya.
"Ah, iya." Dengan keterkejutan Shani menoleh, lalu keluar dari pajero itu.
2 orang itu pun berjalan beriringan menuju ke dalam ruang resto. Shani baru tau jika kliennya telah memesan tempat VIP. Dan saat mereka tiba di ruang sana, kliennya itu belum datang.
Malvin terlihat mengotak-atik ponselnya. "Orangnya masih diperjalanan," serunya setelah beberapa detik menatap layar HP, lalu menoleh pada Shani. "Kita tunggu, ya."
__ADS_1
"Iya."
Shani dan Malvin pun akhirnya menunggu. Sekitar 5 menitan mereka duduk-duduk di sofa, Malvin kembali mengecek HP-nya. "What? Kliennya batalin meeting?" celetuk Malvin membuat Shani seketika menolehnya.
"Batalin gimana? Dia udah boking tempat ini, kan? Ini pasti mahal, loh." Shani menyeru terkesan berprotes.
"Yah terus gimana? Dianya sendiri yang batalin."
Sontak Shani pun menghela napas, lalu memalingkan pelan wajahnya dari Malvin menunduk ke arah meja di depannya.
"Kamu belum makan malam, kan?" tanya Malvin pada Shani setelah beberapa detik memperhatikan wajah perempuan itu.
Shani pun menoleh lagi ke arah Malvin. "Buat jaga-jaga, aku tadi cuma minum susu." Jawabnya.
Malvin tersenyum seraya menatap singkat perut Shani. "Bagus. Kalau gitu kita bisa pesan makan."
"Iya," timpal Shani ikut tersenyum.
Dan mereka berdua pun memesan menu makan malam. Setelah beberapa menit menunggu dan mengobrol ringan, hidangan pun tiba. Shani dan Malvin mulai menikmatinya dalam kebisuan.
"Kamu mau coba punyaku?" tawar Malvin menyodorkan sepotong steik daging ke arah Shani.
Shani mendorong garpu itu membuat Malvin melahap potongan dagingnya. "Nggak usah, aku pernah coba itu, kok." Shani tersenyum dan menyibuk lagi pada piringnya sendiri.
"Oh, ya?" Malvin menyeringai masih menatap Shani. "Waw, sebelumnya kamu pernah ke sini?"
Shani hampir tersedak nasinya, tapi beruntung itu hanya hampir. Jadi ia hanya harus berdeham pelan untuk menyamankan kerongkongannya. "Ya..., pernah." Shani mengambil jeda sedetik. "Dulu sama Darren." Jawabnya lirih acuh tidak acuh.
Demi apa pun mulut Malvin ternganga mendengar itu, namun ia berakting seolah memainkan lidah dengan mulut terbuka. Bahkan di saat seperti ini pun, Shani juga teringat sepupunya. Mood Malvin mendadak menjadi buruk.
...◦○⭕○◦...
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.