
"Aku memang tampan" kata bocah itu dengan percaya diri nya
"Ya kamu memang sangat tampan" Alifia berdiri hendak pergi, sejujurnya ia merasa sangat risih di dekati dengan bocah SMP yang datang nya entah darimana dengan sikap sok kenalnya membuat ia sangat pusing belum lagi ia masih bingung harus mencari pekerjaan yang tak kunjung ia temui
"Hei tunggu jangan pergi dulu, kamu masih belum Menjawab tawaranku" bocah itu menghalangi jalan Alifia
Alifia pasrah ia kembali duduk "kalo kamu memang berniat membantu saya, cepat beri tahu saya dimana lokasi perusahaan yang kamu maksudkan tadi wahai bocah?"
"Tidak semudah itu untuk memberitahumu, kamu harus memenuhi satu syaratku terlebih dahulu"
"lebih baik saya pergi saja kalo gitu"
"Tunggu dulu, kamu masih belum bertanya apa itu syaratnya, padahal syaratnya pun gampang sekali"
"Baiklah, apa syaratnya?"
"Jadilah pacarku, maka aku akan memberitahu semuanya dan aku juga akan menjamin kamu pasti bakal langsung di terima di perusahaan itu" bocah itu berkata dengan sangatt seriuss
"Wait wait mimpi apa aku semalam?" Gumam Alifia
"Aku sudah lama mengenalmu dan tertarik sama kamu, bahkan aku sudah tau semua tentang kamu, kamu sudah berhasil mencuri hatiku dengan kecantikan wajahmu, maka dari itu kamu harus bertanggung jawab"
Alifia terbengong menatap tak percaya pada bocah itu, dan ia juga tak percaya saat ini ia sedang berada di dunia nyata, rasanya seperti mimpi di siang bolong. Seorang Alifia mendapat pengakuan cinta dari bocah SMP alias anak masih bau kencur! Apa bocah ini sudah gila? Menyatakan cinta pada seorang wanita yang umurnya terpaut sangat jauh dengan nya, yang mana ia lebih pantas jika jadi kakak atau tantenya tapi kenapa bocah itu malah menginginkan ia menjadi pacarnya? Apa ia sudah tidak menarik lagi dengan bocah sepantaran ataukah karena bocah sepantaran nya tidak ada yang mau dengan nya?
Bocah itu mengernyit melihat ekspresi wajah Alifia yang kembali terlihat aneh
"Kalo kamu menolakku kamu sudah keterlaluan, aku sudah berusaha bela-belain sering bolos sekolah demi bisa pantau kamu di kantor pak Anto, aku selalu liat kamu makan di kantin, aku tau makanan kesukaan kamu, dan aku juga tau ukuran sepatumu" ujar bocoh itu dengan polosnya membuat Alifia gemass
"Katakanlah siapa nama kamu?" Tanya Alifia gemasss pada bocah itu
"Namaku Rey, Reynaldi"
"Ohh namanya Rey" Alifia mengangguk-anggukan kepalanya "sekolah udah kelas berapa?"
__ADS_1
"Kelas 3 SMP"
"Rumahnya dimana?"
"Kenapa menanyakan rumahku? Kamu mau ke rumahku? Kamu engga us--"
"Jawablah dimana rumahmu?" Alifia memotong perkataan bocah itu karena Alifia sudah bisa menebak pasti bocah itu akan mengetakan yang tidak-tidak lagi
Bocah itu terlihat menghela nafasnya "rumahku di Jalan. xxx, Blok. C, Nomor 24"
"Nah sebaiknya sekarang kamu pulang kerumahmu yang barusan sudah kamu sebutkan alamatnya, kalo sudah sampai dirumah kamu mandi, lalu makan dan belajar" Alifia menepuk pundak bocah itu
"Aku engga mau pulang selama kamu masih belum menjawab perkataan ku" bocah itu ngeyel
"Ya sudah, kamu disini sendirian saja biar di culik tante-tante, saya ingin pulang lelah" Alifia berdiri hendak pergi
"Aha, kalo aku ikutin kamu aja deh kebetulan aku masih belum tau alamat rumah kamu dimana, lumayan buat nambah pengetahuan tentang kamu"
Benar saja Bocah itu berjalan di belakang Alifia mengekori Alifia kemanapun Alifia maju layaknya anak itik yang tak bisa jauh dari induknya, sampai lama kelamaan Alifia merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sekitar situ karena berjalan dengan di ekori bocah berseragam SMP
"Siapa deh tadi nama kamu? Reynol?"
"Rey, Reynaldi" ralat bocah itu
"Oh iya Rey ya Reynaldi, umur saya ini terpaut sangat jauh dari kamu, saya sudah dewasa sedangkan kamu masih remaja dan dibisa di bilang juga masih anak-anak, rasanya kamu masih kurang pantas meyatakan cinta kepada orang yang sudah dewasa seperti saya, kamu boleh kok cinta cintaan, tapi sama orang sepantaran kamu temen sekelasmu itu lebih baik, maaf bukan saya engga menghargai kamu, saya sangat menghargai kamu kok saya mengucapkan terima kasih banyak atas pengorbanan kamu, percaya deh, pacaran sama orang dewasa kamu engga akan ngerti" Alifia memberikan penjelasan panjang kali lebar pada bocah itu
"Aku tau kok sama orang dewasa, aku tau orang dewasa itu seperti apa, aku kan tinggal dirumah sama kakek nenek dan pamanku yang super cerewet, tapi aku bakal Nerima semua konsekuensi nya kalo kamu jadi pacar aku, aku bakal Nerima resiko apapun termasuk aku bakal bisa selalu ngertiin kamu" tukas bocah yang bernama Rey itu kata-kata nya terdengar sangat yakin
"Ya Allah, ini bocah udah kaya orang dewasa aja" Alifia berkata sangat pelan
"Kenapa? Aku engga denger kamu ngomong apa?" Tanya Rey
"Saya lebih baik mau sama paman kamu aja deh, kan sama-sama dewasa" kata Alifia ngawur, ingin rasanya sekarang ia kabur dari hadapan bocah yang tidak jelas asal usulnya ini
__ADS_1
"Tapi pamanku sudah sangat tua loh, udah punya istri 5 terus anaknya juga banyak, kamu mau jadi yang ke 6 buat pamanku di banding menjadi yang pertama buat aku?"
"Gila! Sungguh saya tidak mau memilih dua-duanya" ngeri sekali membayangkan jika ia menjadi istri dari laki-laki tua yang sudah punya banyak istri dan anak serasa menjadi simpanan om-om, na'udzubillah! Dan ia juga tidak mau menjadi yang pertama dari bocah yang masih bau kencur ini.
"Nah maka terima aku aja lah ya, please" Rey terlihat memohon dengan mata nya yang memancarkan puppy eyes
"Kalo kamu engga mau berpacaran sama orang yang sepantaran sama kamu, lebih baik jangan mau berpacaran dulu, sebaiknya kamu fokus belajar yang rajin, biar pinter biar bisa bahagiain orang tua kamu kalo kamu sudah dewasa" nasihat Alifia pada Rey, berharap Rey bisa mengerti dengan ini
"Orang tuaku sudah pisah" kata Rey wajahnya terlihat datar
"Oww maaf maaf, pokoknya biar jadi orang sukses, dan bisa ngebangun perusahaan sendiri, engga jadi seperti saya yang harus pergi kesana kesini nyari pekerjaan"
"Aku udah jadi calon pewaris tunggal perusahaan orang tuaku yang diwarisi kakek nenekku"
"Hiiihhh" Alifia semakin gemas bocah ini selalu saja bisa menjawab perkataan nya ingin rasanya Alifia mencekik bocah itu sekarang juga jika itu tidak membuat ia berdosa
"Kamu mau kan?" Rey masih bersikeras meminta jawaban pernyataan cinta nya pada Alifia
"Aduh duhhh duh" tiba-tiba Alifia memegangi kepalanya
"Kamu kenapa?" Tanya Rey wajahnya terlihat panik
"Entah, kepala saya sakit jika liat kamu" Alifia memalingkan wajahnya ke arah lain mencoba untuk tidak melihat wajah Rey
"Loh kenapa? Emang wajahku kenapa?" Rey meraba-raba wajahnya bingung
"Engga tau, aduhh"
"Aku antarkan kamu kerumah sakit ya" Rey merangkul punggung Alifia
"Tidak tidak, sebaiknya kamu pergilah saya bisa tambah pusing jika masih ada kamu di depan saya"
"Baiklah, baiklah aku akan pergi, laik kali aku akan datang lagi" Rey berjalan menjauh dari Alifia
__ADS_1
Alifia membuka ujung matanya sedikit untuk memastikan bahwa bocah itu sudah menjauh darinya "yessss, akhirnya bebasss. Pergilah bocah jangan kembali lagi" Alifia ber iyesss senangnya bagaikan baru terbebas dari penjara.