The Secretary

The Secretary
BAB 37


__ADS_3

Shani tersenyum pada Rumi. “Shani nggak pa-pa kok, Bi.” Ia mendecak. “Akhir-akhir ini kerjaan di kantor banyak. Shani jadi sering lembur, deh. Mungkin kurang tidur jadi kelihatan pucat,” kilahnya.


“Kamu jangan terlalu capek-capek. Bibi nggak mau ya kalau kamu sampai sakit karena terfosir pekerjaan.”


“Iya, Bi.” Jawab Shani tersenyum.


Shani dan Rumi pun terus kembali menikmati makanan mereka.


Jam demi jam berlalu, hari sudah menjelang malam, dan Shani harus berpamit pulang untuk kembali ke kota.


“Bibi jaga kesehatan, ya. Shani nggak tau bakalan jengukin Bibi kapan lagi setelah ini,” ujar Shani pada Rumi, lalu menunduk.


Rumi mengelus kepala Shani. “Kamu juga harus jaga diri di kota. Lingkungan di sana keras, kamu harus hati-hati,” tutur Rumi menasihati.


Shani cepat-cepat berkedip untuk menahan air matanya. Ia tersenyum, kemudian meraih tangan bibinya. “Kalau gitu Shani berangkat sekarang ya, Bi.” Shani pun memeluk Rumi.


Air mata Shani menetes. Ia pasti akan sangat merindukan wanita paruh baya itu. Shani tidak bisa mengatakan apa pun tentang kehamilan dan masalahnya kepada Rumi, ia tidak sanggup juga belum siap.


Setelah Shani mengusap air matanya cepat-cepat, ia lalu melepas pelukannya dari Rumi. Shani tersenyum menatap Rumi dengan mata masih berkaca-kaca. Rumi pun mulai merasakan sedikit keanehan, namun ia berusaha berpikir positif.


Rumi tersenyum seiring Shani beringsut pergi menuju ke dalam taksi yang sudah menunggunya. Perjalanan dari kampung menuju kota membutuhkan waktu sekitar 3 jam jika jalanan tidak macet. Dan Shani pun berlalu dengan taksi tersebut meninggalkan Rumi yang masih berdiri mematung menatap mobil berwarna abu-abu itu semakin menjauh.


...◦○⭕○◦...


Setelah menghabiskan beberapa jam, Shani pun tiba di halaman rumahnya. Saat taksi itu berlalu pergi dan di saat itu juga Shani mematung di pinggir jalan menatap seorang laki-laki yang juga menatapnya. Di sana, Darren baru saja berdiri dari kursi kayu depan rumah Shani setelah perempuan itu keluar dari taksi.


Shani pun berjalan pelan menuju rumahnya mencoba mengabaikan Darren.


“Dari mana aja kamu?” tanya Darren pada Shani yang tengah membuka kunci pintu.

__ADS_1


Shani tidak merespon sedikit pun. Ia terus menyibuk dengan pintu yang mendadak sangat sulit untuk dibukanya. Karena ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Darren, tangan Shani menjadi gemetar untuk mengepaskan kunci masuk ke handel pintu.


“Shani!” seru Darren menarik tangan Shani memaksa perempuan itu untuk menghadap padanya.


Mata Shani dan Darren saling bertatapan. Wajah Darren marah. Ini sudah hampir pukul 11 malam, dan Darren sudah menunggu ketibaan Shani sejak selesai magrib tadi.


“Kenapa kamu jadi kayak gini? Apa kamu sengaja bikin aku khawatir?” protes Darren terus menatap tajam mata Shani.


Shani terdiam sebentar dengan mata mulai berkaca-kaca. “Please, Darren. Aku pengen bebas dan lepas dari semua masalah ini.” Shani mengambil jeda. “Jadi please, tolong kamu berhenti.”


Shani pun melepas cengkeraman Darren yang mulai mengendur, kemudian ia segera membuka pintu rumahnya. Namun hati dan kepala Darren yang mulai memanas, laki-laki itu terus mendorong Shani masuk dan ia menyerobot ke dalam. Darren segera mengunci rapat pintu rumah Shani dan menatap garang perempuan itu.


“Kamu mau ngapain? Keluar sekarang,” suruh Shani mulai ketakutan menatap wajah Darren yang terlihat begitu marah.


Darren berjalan pelan ke arah Shani. Dan Shani mengimbanginya dengan melangkah mundur. Dan begitu tubuh Shani menyentuh tembok, di saat itu juga Darren sudah tepat berada di depannya, Darren pun mengunci tubuh Shani ke sana.


Keduanya saling menatap.


Air mata Shani menetes menuruni pipinya. Shani tidak bisa menjawab apa pun, ia hanya diam. Darren pun mulai membelai wajah perempuan itu dengan jari-jari tangan kanannya.


“Kalau kamu melawan, kamu tau kan aku bisa sekejam apa?” Darren mengancam.


“Aku benci kamu,” celetuk Shani masih dengan air matanya. “Aku benci kamu!!!” lanjutnya berteriak.


“Aku nggak peduli. Silakan kamu benci aku sebanyak yang kamu mau. Aku yakin, setelah kamu mati rasa, rasa benci itu lama-lama juga akan hilang.”


“Kamu bener-bener keterlaluan, Ren. Kamu bener-bener nggak bisa ngertiin aku.” Shani terisak.


“Aku udah coba ngertiin kamu, tapi apa yang justru kamu lakuin? Kamu malah bikin aku semakin sakit hati. Kamu malah ngehindar dari aku setelah aku bilang buat tanggung jawab atas semuanya.”

__ADS_1


Shani hanya bisa menangis. Keduanya sama-sama sakit hati. Perlakuan Shani dan Darren kepada masing-masing sama-sama menorehkan luka. Tapi mereka juga sama-sama memiliki alasan untuk melakukan itu. Shani tidak bisa menerima tanggung jawab Darren karena ia punya perasaan yang rumit, dan Darren ingin bertanggung jawab atas kesalahannya karena ia merasa harus melakukannya juga karena ia sangat mencintai perempuan itu, Shani.


“Aku nggak bisa,” celetuk Shani menggeleng kepala. “Aku udah nggak kuat sama semua ini.” Ia mulai frustrasi. Shani pun semakin terisak.


Darren meraih wajah perempuan itu. “Dengerin aku, semuanya bakalan baik-baik aja kalau kita bersama. Kamu, aku, dan anak kita. Kita semua pasti akan bahagia.” Darren terus menatap mata Shani yang enggan menatapnya. “Aku akan menikahi kamu, Shani. Aku akan selalu jaga kamu dan anak kita. Aku janji.”


Shani menggeleng. “Enggak. Aku nggak mau. Aku nggak mau merusak pernikahan kalian.”


“Shani, please.” Darren memohon seraya masih memegangi wajah Shani.


Shani berusaha mengontrol napasnya dan menghentikan tangisannya. Kemudian, ia mulai menatap Darren tegas. “Aku akan menikah dengan Malvin,” celetuk Shani tiba-tiba membuat tangkupan tangan Darren dari wajahnya mengendur dan lepas.


Shani tidak bermaksud untuk menyatakan ucapannya itu, namun ia sudah tidak tau lagi harus menghadapi Darren seperti apa. Shani tidak bisa berpikir panjang, dan ia ingin Darren segera pergi dari rumahnya. “Aku nggak bisa nikah sama kamu. Dan sebagai gantinya, aku akan menikah sama Malvin,” terus Shani membuat Darren mulai jengkel.


“Apa kamu gila?”


“Keputusan aku udah bulat, dan sekarang kamu bisa pergi dari sini.” Shani pun mengusir Darren.


Emosi Darren terkuras, pikirannya buntu, dan ia sangat marah. “Aku nggak akan biarin kamu nikah sama sepupu aku sendiri.”


“Pergi!!!” bentak Shani pada Darren.


“Kamu cuma milik aku, Shani. Malvin atau siapa pun itu, mereka nggak bisa rebut kamu dari aku.”


Shani yang mendapati Darren terus mengoceh mulai mendorong-dorong laki-laki itu. “Pergi, Darren. Pergi dari sini!”


Darren mematung seolah tubuhnya terpaku di tempat. Shani terus bergerak memberontak memukul-mukul dadanya


mendorong-dorongnya untuk pergi. Tapi, Darren terus menatap wajah Shani dengan kekecewaan berat juga amarah yang menggebu.

__ADS_1


...◦○⭕○◦...


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


__ADS_2