
Bu Reni yang saat itu sedang menyapu halaman rumahnya menganga menatap tak percaya melihat anak perempuan nya pulang kerumahnya dengan menggendong seorang anak kecil dan lebih parahnya lagi anak kecil itu memanggil Alifia dengan sebutan "Mama" yang berati ibu kan? Berati anak itu sudah seperti anak Alifia?
Tentu saja Bu Reni sangat shock, dan mendadak pusing memikirkan bagaimana Alifia bisa membawa pulang seorang anak kecil yang memanggil nya dengan sebutan mama, apa yang sebenarnya telah terjadi? Pasalnya Bu Reni tidak pernah melihat anaknya ini hamil, apalagi dari dulu setiap hari Alifia selalu ada dirumah bahkan keluar rumah pun hanya sekedar bekerja saja selebihnya tidak, untuk menongkrong bersama teman nya saja di batasi oleh kakak-kakaknya yaitu Irfan dan Ilham karena sifat posesif mereka pada adik perempuannya, dan lebih parahnya lagi Alifia belum menikah dan belum pernah melihatnya membawa laki-laki kerumah, keliatannya anak yang dibawa Alifia ini berusia sekitar 3 tahun sedangkan 3 tahun yang lalu Alifia sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi untuk wisuda dan mencari pekerjaan, bagaiman sempet dia bikin anak. Nah lalu yang ia bawa ini anaknya siapa?
"Apa maksudnya ini Fia? Ini anaknya siapa?" Tanya Bu Reni masih dengan shocknya
"Lay anak na mama" namun bukan Alifia yang menjawab tapi Ray si bocah kecil itu memeluk leher Alifia dan menyenderkan kepalanya pada bahu Alifia
"Mah, mamah tenang dulu deh, sebaiknya kita masuk dulu yuk bicarain di dalam, Fia bisa jelasin semuanya ini engga seperti yang ada di fikiran mamah yang negatif negatif itu" kata Alifia seolah sudah tau bahwa mamahnya itu pasti berfikir yang tidak-tidak
Tangan kanan Alifia merangkul bahu mamahnya mengajaknya masuk sedangkan tangan kirinya dipakai untuk menggendong Ray yang merasa sangat nyaman dengan gendongan Alifia tak mau lepas, tentu saja tenaga monster dari Alifia sangat kuat untuk menggendong seorang anak yang berusia 3 tahun yang mana tubunya sudah cukup berat apalagi Alifia menggendong dengan satu tangan dan itu tangan sebelah kiri!
"Jadi gimana fi? Ayo jelaskan sama mamah. Kamu engga nyulik anak orang kan?" Tanya Bu Reni yang sudah duduk diatas kursi
"Mama na lay butan pentulik" lagi lagi bocah kecil itu yang menyahut
"Fi ini anak siapa sih masih kecil udah berani memotong pembicaraan orang tua"
"Ray sayang, kamu diem dulu ya mama mau bicara sama nenek, Ray diem jangan ikutan ngomong ya" kata Alifia lembut
Ray mengangguk mengerti "iya ma lay diem"
__ADS_1
"Fia engga nyulik anak orang ma, ya kali Fia nyulik anak orang mungkin udah di tendang ke laut sama bang Ipan sama bang ilham , lagian engga ada kerjaan juga Fia nyulik anak orang" sanggah Alifia
"Lah terus ini dapat anak darimana? Siapa tau aja gitu kamu frustasi abis di PHK dan nyulik anak orang" kata Bu Reni
"Astaghfirullah ya engga lah mah, Fia bukan orang jahat kali, masa cuma gara-gara di PHK Fia nyulik anak orang, tadi Fia Nemu anak ini di jalan" jelas Alifia
"Hish Nemu, kamu pikir ini anak kucing yang bisa kamu temui sembarangan di jalan"
"Salah ya mah? Tapi kan emang bener fia Nemu anak ini di jalan gang yang sepi terus pas fia deketin malah manggil Fia dengan sebutan mama sambil nangis-nangis pula, sepertinya ini anak yang di buang kan engga tega kalo Fia biarin dia disana sendirian apalagi tempatnya super sepi banget ma yaudah Fia bawa pulang" jelas Alifia lagi
"Kasian bener fi, yang buang anak ini benar-benar orang yang tidak punya perikemanusiaan, mana anaknya ganteng lagi" Bu Reni mengelus pipi Ray yang terlihat imut itu
"Terus sekarang kamu mau gimanain ni anak?" Tanya Bu Reni serius
"nah ini Fia mau minta izin sama mamah supaya Ray tinggal disini untuk sementara sampai dia ketemu sama keluarga nya" Alifia memandang wajah mamahnya dengan tatapan memohon semoga saja mamahnya itu bisa luluh karena sekarang juga ia bingung apa yang harus ia lakukan
Namun wajah Bu Reni langsung terlihat sumringah tidak seperti yang Alifia kira, Alifia mengira bahwa mamahnya itu akan marah dan tidak mengizinkan
"Mamah setuju bangett fi, akhirnya dirumah mamah ada anak kecil lagi mamah pengen sekali Deket sama cucu, sedangkan anak si Ilham jauh dari mamah" kata Bu Reni dengan wajah sumringah nya
"Tapi Fia kan harus kerja mah, nanti ini anak sama siapa" Alifia menekukan wajahnya
__ADS_1
"Kamu ini anggap mamah apa fi? Anak ini ya sama mamah lah, mamah juga engga keberatan ngasuh nih anak apalagi mamah kan engga terlalu banya kerjaan dirumah banyak diem nya" jelas Bu Reni
"Beneran mah? Engga ngerepotin kan?"
"Iya fi, apalagi anak ini bule tampan sekali engga bosen mamah liatain" Bu Reni terkikik
"Astaghfirullah mah, karena cakepnya ternyata" Alifia mengelus dadanya
"Engga juga sih, pokoknya mamah suka dekat sama anak kecil"
"Ray, kenalin ini ibu nya mama, Ray bisa memanggilnya dengan sebutan nenek" Alifia memberitahu pada Ray
"Adi ni nenek na lay ma?" Wajah Ray terlihat berbinar menatap Bu reni
"Iya sayang" Alifia mengangguk
"Nenek" Ray merentangkan kedua tangan nya meminta di gendong pada Bu Reni
"Aduh cucu nenek pintar sekali" Bu Reni langsung menggendong Ray tanpa aba-aba lagi ia juga tak lupa mencium wajah bocah bule itu dengan gemas
Alifia membuang nafasnya legaa, akhirnya masalah tentang anak ini sudah selesai, tanpa ia sangka mamahnya bisa menerima anak itu dengan senang hati tinggal menunggu reaksi dari kedua kakaknya tapi Alifia tidak terlalu mengambil pusing toh mamahnya juga sudah tau penjelasan nya dan sudah sangat menyukai anak itu
__ADS_1